
“Tumben, nggak ada hujan nggak ada angin tiba- tiba silaturahmi,” ucap Aisha heran. “Nggak nemenin Aiza?”
“Kalau itu udahlah. Masak ditemenin terus?” Akhmar terkekeh. “O ya, aku ambil minum dulu ya!” Akhmar bangkit berdiri.
“Ambilah! Kulkas ada di dekat dapur sebelah kanan pas samping rak. Terserah mau ambil minum apa. Bikin jus juga nggak apa!” ucap Aisha.
Akhmar terus melangkah masuk. Ia tidak langsung menuju ke lokasi tempat mengambil minuman, justru ia mengintip dari balik pintu, bagaimana reaksi antara Bajul dan Aisha. Sengaja ia meninggalkan Bajul di sana supaya bisa berkomunikasi dengan Aisha.
Jika dilihat dari sikap Aisha yang terlihat cuek bebek terhadap Bajul, sepertinya Aisha belum meyadari bahwa Bajul saat ini sedang pe de ka te.
Tak masalah, alon- alon waton klakson. Lama- kelamaan pasti Aisha akan mengerti maksud kehadiran Bajul.
Akhmar kemudian mengambil dua kaleng minuman di kulkas. Dan saat ia balik lagi, dia kembali mengintip melalui balik pintu, melihat interaksi antara Bajul dan Aisha. Mereka sudah mulai tampak mengobrol.
Bajul tampak pandai membuat situasi menjadi encer, Aisha pun tampak tertawa.
Akhmar nyender di dinding, membiarkan situasi itu sampai lima belas menit lamanya. Biarlah mereka saling sharing. Akhmar memberi waktu untuk mereka bisa berbagi waktu, supaya lebih dekat.
__ADS_1
“Loh, Akhmar! Kok, di sini?” Mamanya Aisha memergoki Akhmar yang celingukan di ruangan. “Itu Aisha sama temen kamu di belakang sana. kok, nggak gabung?”
“Oh iya, ini tadi ngambil minuman.” Akhmar menunjukkan dua kaleng minuman di tangannya. Ia lalu menuju ke arah Bajul dan menaruh minuman ke meja.
Mamanya Aisha juga ikut ke sana. ia duduk di sisi kursi putrinya.
“Mm… Jul, gue ada urusan nih. Gue mesti cepet ke rumah, Aiza butuh obat. Gue cabut duluan ya!” ucap Akhmar berpamitan.
“Loh, minumannya nggak diminum dulu?” tanya mamanya Aisha.
“Buat tante aja,” jawab Akhmar. “Tan, nitip temen dulu ya! biar aja dia di sini dulu, nemenin Tante sama Aisha.” Akhmar kemudian melangkah pergi, sempat menoleh ke arah Bajul dan mengedipkan satu mata.
“Aiza, benda apa yang kamu pegang itu?” tanya Akhmar saat melihat Aiza berdiri di pintu sedang melihat sebuah kain, di tangan kirinya memegangi kotak.
"Ini ada orang kirim paket, tapi nggak ada nama pengirimnya." Aiza melihat ke arah kotak pembungkus. Tak ada tanda- tanda nama pengirim yang tertera di sana. Ia memperlihatkan sebuah kain putih kecil, yang dia yakini ada kain mori alias kain kafan.
"Loh, ini kan kain untuk orang meninggal. Ini teror apaan sih?" Aiza menatap sepotong kain putih itu dengan seksama.
__ADS_1
Akhmar mengambil kain dan kotak pembungkus dari tangan Aiza. Ia terlihat seperti sedang menahan tawa, yang kemudian pipinya menggembung akibat tak kuasa menahan tawa tersebut hingga akhirnya tawanya pun pecah.
Aiza heran melihat suaminya yang malah tertawa lepas, padahal Aiza tengah merinding disko akibat mendapat kiriman kain kafan.
"Kenapa ketawa sih?" heran Aiza.
"Maaf, aku nge prank kamu. Itu kiriman dari aku." Akhmar kembali tergelak.
"Ya ampun, maksud kamu apa coba?" Aiza geleng- geleng kepala. "Rasanya nggak mungkin banget kamu seiseng ini?"
"Tadinya aku cuma mau nge prank aja, tapi kok liat muka kamu yang jadi setegang ini, aku jadi nggak tega. Maaf. Maaf, plis!" Akhmar mengangkat dua jari. Terpaksa ia melakukan itu, ia tahu pasti bahwa teror itu datang dari Jamed. Tapi ia tidak mau mengungkapkannya. Lebih baik begini saja.
Ternyata memaksa Aiza untuk tetap tinggal berdiam di rumah tak lantas membuat wanita itu menjadi aman. Jamed nekat.
Awalnya Akhmar tak mau peduli dengan kelakuan Jamed, tapi jika Aiza terus- terusan diteror begini, Akhmar tak mungkin bisa tinggal diam.
__ADS_1
Bersambung