Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Hape oh Hape


__ADS_3

Akhmar sudah berpenampilan rapi mengenakan kemeja hitam. Seperti biasa, ia berencana akan melaksanakan aktifitas sehari- harinya, kali ini ke pabrik guna mengecek input yang selama ini jarang ia lihat.


Ketika menginjak teras, ia mendapati lima kado yang tersusun dengan tumpukan.


Kado apa ini? 


Akhmar menoleh ke kiri kanan, mencari- cari siapa tau ada kurir yang baru saja meninggalkan tempat itu.


"Lor, ini kado apa? Siaoa yang taruh di sini?" tanya Akhmar pada satpam yang berjaga.


Satpam yang dipanggil dengan sebutan Belor itu hanya menyungging senyum.


Akhmar mengangkat salah satu kado dan melihat di sana tertera tulisan 'untuk Akhmar'.


"Lor, jangan becanda! Siapa yang nganterin ini?" seru Akhmar. "Gue pecat lo kalo nggak mau ngaku! Lo kan jaga, pasti tau siapa yang nganter ini. Di sini nggak ada nama pengirimnya!"


Melihat majikan yang tampak penasaran, satpam akhirnya menjawab, "Dari temen- temennya Mas Akhmar!"


"Oh.. siapa? Atep?"


"Pokoknya tadi yang datang itu temennya Mas Akhmar, katanya nganterin kado pernikahan buat Mas Akhmar."

__ADS_1


Akhmar mengernyit. Temannya hanya ada empat, Atep, Jambrong, Enyong, dan Bajul. Itu pun Bajul ada di luar kota. Lalu kado siapa lagi yang kelima?


Akhmar tak mau berlama- lama. Ia langsung membuka kado teratas. 


Di dalam ada nama pengirimnya, Atep.


Gila, isinya ****** satu kotak alias alat pengaman. Ada uang segepok di dalam kado itu.


Next, kado dari Enyong.


Isinya kolor dua lusin, ditambah sebuah kunci motor.


Berikutnya kado dari Jambrong yang isinya obat kuat, juga satu lembar sajadah dan jam tangan elit.


Lalu, kado terakhir? Milik siapa itu? Akhmar segera membukanya.


Tanpa ada nama pengirimnya, hanya ada selembar kertas dengan tulisan ketikan komputer, 'Mar, kasian Aiza. Hidupnya gk lama lagi. Nyawanya terancam. Kalau lu mau dia gk kenapa- napa, mendingan lu lepasin dia. Gue sayang sama dia.'


Akhmar meremas kertas itu. Namun kemudian kembali membuka remasan dan melipatnya, lalu mengantonginya. Ia bergegas menuruni teras dan masuk mobil.


"Lor, suruh Roni bawa isi kado- kado ke kamar gue!" titah Akhmar saat ia melintasi pos penjagaan.

__ADS_1


"Siap, Mas!" Belor mengangguk patuh.


Akhmar meluncur keluar, menyetir mobil di jalan raya. 


Meski ia berusaha untuk tidak peduli dengan teror itu, namun benaknya tetap saja terusik, bertanya- tanya siapa pelakunya.


Nama Aiza dibawa- bawa dalam aksi teror itu, inilah yang membuatnya merasa terusik.


Akhmar mengeluarkan sebuah hape, tak lain hape milik Aiza. Diam- diam ia tadi mengambil hape milik Aiza. Tak peduli istrinya itu akan kebingungan mencari hape. Kalau ia jujur pada Aiza meminjam hape, pasti akan ada banyak pertanyaan dari Aiza. Wanita itu juga pasti akan melarangnya mencari tahu siapa pelakunya mengingat resiko yang mungkin saja buruk. 


Akhmar lalu mengetik pesan di hape tersebut. 


'Kamu siapa sebenarnya? Bisakah kita ketemuan?  Akhmar udah berangkat kerja.'


Chat pending. Nomer lawan masih dalam keadaan tak aktif.


Oke, tunggu saja sampai nanti aktif.


Akhmar kini sampai di pabrik semen yang baru saja ia rintis. Tak hanya duduk saja di kursi kantornya, Akhmar juga terlihat mengecek ke gudang dan lain sebagainya.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2