Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Cemas


__ADS_3

“Tidak bisa!” Ismail menolak mentah- mentah usul Adam.  “Manusia baru belajar agama sudah berani mau nikahin anak kyai.  Ilmunya masih sangat dangkal.  Baca Al Quran saja pun masih terbata.”


“Lalu bagaimnaa lagi?  kalau saja pernikahan ini dibatalkan, Bapak tentu tahu bagaimana perhitungan yang seharusnya sesuai dengan perjanjian.  Dilihat dari kasus yang terjadi, ini adalah kesalahan pihak wanita yang malah tidur bersama dengan laki- laki lain selain dari calon pengantin laki- laki yang sebenarnya.  Maka Bapak harus mengembalikan dua kali lipat dari seluruh dana yang saya keluarkan.  Ini sudah menjadi kesepakatan.  Kemudian, kita juga harus bersiap menanggung malu!” ucap Adam dengan kecewa, sambil mengusap wajah frustasi.


Akhmar mengedarkan pandangan, menatap wajah- wajah yang frustasi di hadapannya.  mereka benar- benar telah terluka.  Entah bagaimana lagi ia harus memberi penjelasan.


“Papa, tolong beri penjelasan kepada Mas Aldan, bahwa ini smeua hanyalah sebuah kekeliruan.  Aku dan Aiza sama sekali nggak melakukan apa pun.  Aku ketiduran di sini juga tanpa tahu kalau Aiza berada di kamar ini,” ucap Akhmar penuh harap.


Adam memalingkan wajah, menunjukkan kekesalannya pada Akhmar.


Sedangkan Ismail tampak berpikir keras, baru saja ia berangan- angan akan mendapat menantu soleh plus besan tajir, eh malah ketuker.  Tapi kalau ia menolak Akhmar dan membatalkan pernikahan itu, maka ia kehilangan kesempatan untuk memiliki besan tajir yang bisa dipamerin kemana- mana.  Plus, ia juga rugi dobel karena harus bayar denda dua kali lipat.  Berapa duit itu?  bukannya untung, malah bunting.


“Baiklah, Aiza dan Akhmar akan menikah!” ucap Ismail setelah kepalanya terus berpikir.  “Tapi ada syaratnya.  Ayo kau kemari!”  Ismail meraih pergelangan tangan Akhmar dan menariknya keluar.  


Yang ditarik mengikuti saja.  Ya sudahlah, nurut saja dari pada makin ribut.

__ADS_1


Melihat Akhmar diseret, Aiza cemas akan terjadi hal- hal yang tidak diinginkan, ia pun mengikuti.  Demikian juga Adam, Qanita yang juga mengikuti.


Akhmar dibawa ke sebuah ruangan kecil tempat berwudhu.


“Saya disuruh ngapain di sini?” tanya Akhmar santai sekali.  Ia mengawasi keran, lantai marmer, serta kaca yang ada di sana.  


“Wudhu!” titah Ismail ketus.


Akhmar terlihat tenang saat menaikkan lengan bajunya sampai ke atas siku, juga menyingsingkan celana sampai ke lutut.  Ia lalu terlihat membaca basmallah dan membisikkan doa.  Meski tak tahu maksud perintah ismail, namun Akhmar tetap menuruti perintah itu.  Ia melakukan gerakan wudhu.


Akhmar membaca doa selesai wudhu.  Mukanya yang tampan tampak cerah dibasuh air.


Ismail mengernyit, lalu berkata, “Ikut aku!” 


Akhmar dan yang lainnya mengikuti sampai ke ruangan shalat.  Ruangan beralas permadani yang bersih.

__ADS_1


“Cepat adzan!” titah Ismail sambil melipat tangan di dada.  “Tidak pantas kau menjadi menantu kyai jika adzan saja tidak bisa.  Kalau Aldan, tidak perlu diuji begini karena dia memang sudah fasih.  Dia menjadi imam pun bisa.”  Ismail membandingkan antara adik dan kakak itu.


Walah, begini repotnya menjadi menantu kyai, dites adzan segala.


Akhmar tidak menanggapi.  Ia melangkah menuju ke depan, tepat di bagian posisi imam.  Berdiri dengan posisi tegak lurus, tangannya menyentuh sisi kepala bagian samping setelah melafazkan doa.  


Jantung Aiza deg- degan.  Harap- harap cemas.  Takut Akhmar akan mengumandangkan adzan dengan irama yang tidak sesuai, juga panjang pendeknya yang keliru.  Aiza menggigit bibir bawah.  Berharap situasi itu cepat berlalu.


“Allahu akbar Allahu Akbar!”  Akhmar mengucapkan takbir.  


Masyaa Allah… Baru kalimat takbir yang diserukan Akhmar, namun orang- orang yang mendengarnya sudah merinding.  Suaranya bagus sekali. 


Lanjut ke kalimat berikutnya.  Akhmar melafazkan adzan dengan sangat baik.  Iramanya menyentuh kalbu, nyaris seperti adzan di Madinah.  Panjang pendeknya tepat.  Para pendengarnya pun terharu, merinding, dan tersentuh. Hinga akhirnya Akhmar melafazkan kalimat tahlil dalam adzan, semua orang pun menatap kagum.  


Akhmar menoleh, adzannya sudah usai.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2