Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Untuk Aiza


__ADS_3

"O ya, maksud kedatanganku ke sini adalah untuk meminta foto copy KTP, untuk membuat SPK sesuai yang kita bahas kemarin." Atep mengawasi wajah Aiza yang memang sangat cantik. Beruntung sekali pria yang mendapatkannya. Pantas saja dulu Akhmar tergila- gila dengan Aiza.


"Hmmm... Kok sampai kemari? Kan bisa minta lewat WA."


"Tadinya aku sedang melintas di sekitar sini, jadi kupikir sekalian lewat." Atep modus.


"Oh ya udah. Aku kirim lewat WA aja ya?" Aiza mengeluarkan hape dan mengirimkan foto ktp miliknya.


"KTP belum kawin. Jadi, kapan nikah?" tanya Atep setelah membaca identitas Aiza.


Aiza terdiam sesaat. Ia memang belum merevisi status di ktp nya. Males.


"Eh, aku tadi lagi nyuci baju dan belum selesai, aku mau ngelanjutin dulu," ucap Aiza berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ayo, masuklah! Duduk saja di dalam!"


"Oh makasih... Aku juga ada urusan. Maaf mengganggu. Permisi!" Atep berlalu pergi.


Aiza masih berdiri di pintu hingga mobil milik Atep menghilang dari pandangan. 


Segera ia balik badan hendak meninggalkan pintu, namun sosok yang tiba- tiba kini sudah berdiri di hadapannya membuatnya terkejut. 

__ADS_1


"Akhmar?" Bersama dengan degupan jantungnya, ia menyebut nama pria yang kini menatapnya itu.


"Status KTP masih belum kawin. Dituduh masih gadis pun nggak mengelak. Apa aku nggak pantas untuk kamu pamerin sebagai suami? Atau apa? Masih marah?"


Aiza sebenarnya memang masih kesal, rasa sakit hati masih membayang. Sulit dilenyapkan begitu saja.


"Aku kan belum sempat mengubah status di ktp," jawab Aiza sekenanya.


"Trus kenapa nggak mau mengelak saat dituduh masih gadis?"


"Ya itu kan Atep salah nuduh."


Aiza hanya geleng- geleng kepala.


Posisi mereka yang berdiri sangat dekat saling mundur saat tiba- tiba terdengar suara peluit yang sangat keras dan memekakkan telinga. 


"Priiiiiiit...."


Akhmar dan Aiza sontak menoleh ke sumber suara. Tampak Ismail berdiri di pintu lain dengan mulut menggigit peluit, sorot mata tajam. 

__ADS_1


Akhmar menatap Aiza dan malah tersenyum. Ia membiarkan wanitanya itu berlalu pergi. Dia pun melangkah menuju ke samping rumah.  Tujuan Akhmar adalah masuk ke rumah melalui pintu samping.  Lalu menemui Aiza lagi.  


Ismail boleh saja melarangnya berduaan dengan Aiza di ruangan depan, namun di ruangan lin, Akhmar masih bisa mencuri waktu.  Lagian, entah kenapa Ismail jadi lebih betah berada di rumah itu semenjak Aiza menikah dengan Akhmar.  Dia rajin sekali memantau, juga mengawasi seperti mandor.


Payah memang mertua yang satu itu.  pengawasannya ketat banget.


“Mau dibantuin?” tanya Akhmar saat melihat Aiza yang tengah mengangkut kain yang sudah di keringkan dari mesin pengering.  


Aiza menggeleng.  Ia melewati Akhmar menuju ke belakang dimana pakaian akan dijemur.  Ada tempat khusus untuk menjemur pakaian yang kesannya juga lokasinya klasik sekali.  


Aiza melirik Akhmar yang ikut membantu menjemur pakaian sampai selesai.  Baju terakhir, mereka hampir rebutan karena sama- sama mengambil baju yang ternyata hanya tinggal satu.  


Bukan hanya sekedar menjemur pakaian saja yang Akhmar lakukan, pria itu juga menyediakan teh hangat ke hadapan Aiza yang terlihat kelelahan duduk di kursi.


Tak berhenti di situ saja, Akhmar juga mengambilkan Aiza handuk ketika wanitanya itu hendak mandi, membuat Aiza jadi heran dan geleng- geleng kepala.  


Inilah yang dikerjakan oleh Akhmar setiap harinya, memberikan apa saja yang Aiza butuhkan.  


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2