Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Pasang Mata-mata


__ADS_3

Akhmar duduk berhadapan dengan Jamed, berbatasan dengan meja setinggi dada.  Mereka minum kopi white yang sengaja dibuat oleh tangan Akhmar sendiri.  tadi Akhmar menjangkau rentengan kopi yang tergeletak di meja, lalu membuat kopi dua gelas.  Satu diserahkan kepada Jamed, dan satunya lagi dia seduh untuk dirinya sendiri.


Pria bertato di lengan dengan rambut acak- acakan mengenakan singlet doang itu menatap Akhmar sambil menghisap batang rokok.  Asapnya ngepul kemana- mana.


“Jadi, apa maksud kedatangan lo kemari?” tanya Jamed.


“Gue nggak mau cari rebut, Bang.  Gue suka hidup damai.  Jadi, gue minta lo jangan usik Aiza.”


“Hei hei, tunggu dulu.  Kenapa lo tiba- tiba datang kemari untuk membahas Aiza?”


“Halah, lagu lama.  Nggak usah ngeles.  Gue tau lo yang nyuruh rang buat neror Aiza.  Berapa duit yang lo bayar buat orang suruhan lo itu?”


Jamed kembali menghisap batang rokoknya.  Ia mengusap rambutnya yag gimbal.  “Akhmar Akhmar, lo sensitif banget sih jadi orang?  Aiza itu kan bukan anak- anak lagi.  dia tentu bisa memilih.”


Akhmar bangkit berdiri.  Meghadapi sosok manusia seperti Jamed tidak bisa dengan kelembutan.  Justru Akhmar harus menunjukkan taring supaya lawannya itu mentalnya menciut.

__ADS_1


“Apa masalah lo sama dia?” tanya Akhmar menatap Jamed tajam.


“Gue nggak punya masalah apa pun sama dia.”


“Lalu, masalah sama gue, hm?”


“Kita nggak ada masalah, bro.  justru gue pingin banget ngajakin lo kerja sama.  Gue tertarik sama lo!  Lo hebat dan kuat!  Gue butuh manusia cekatan dan gesit kayak lo supaya usaha gue lancar!” Jamed bangkit dan merangkul pundak Akhmar.


“Kerja sama?  Sama orang kayak lo?”  Akhmar tersenyum skeptis.  Lalu menggelengkan kepala.


“Kalau lo nggak mau gue ajakin kerja sama, nggak apa- apa.  Tapi ingat Akhmar, gue tau semuanya tentang Aiza.”


“Bukan ngancem.  Gue udah buktiin ke Aiza bahwa gue bisa tau banyak tentang dia.  gue tau dia kemana, sedang ngapain, bersama dengan siapa.  Dan kalau sempet ada sesuatu hal buruk terjadi pada Aiza, lo pasti nangis kejer.  Cuma Aiza satu- satunya cewek yang seperti itu, nggak ada duanya.  Lo rela kalau dia kenapa- napa?”


Akhmar menepuk pundak Jamed, mencengkeram kuat di pundak itu.  “Gue ini mantan bejat.  Gue mantan pembunuh.  Gue juga mantan penjahat.  Semua kejahatan udah pernah gue lakuin.  Bukan hal sulit bagi gue benamin pala lo ke lumpur dan memendam badan lo ke laut.  Berhati- hatilah.  Jangan bangunin macan tidur.  Lo salah ngancem orang!   pikirkan lagi itu!”

__ADS_1


Akhmar melangkah menuju pintu keluar setelah menghabiskan kopinya.


“Akhmar!  Aiza sekarang sedang berada di jalan menuju warung.  Jangan kaget kalau akan ada luka atau lecet di tubuhnya!” teriak Jamed kemudian tertawa terbahak.


Akhmar tak peduli.  Ia melanjutkan langkah menuju ke luar.  Ia tidak bisa menghubungi Aiza sebab ponsel wanitanya itu kini ada bersamanya.  Bagaimana kondisi Aiza sekarang?


Di perjalanan naik taksi, Akhmar menelepon Belor.


“Lor, lo ngeliat Aiza nggak?” tanya Akhmar.


“Ah, Mas Ganteng ini kok aneh, kenapa nanyanya ke saya?  Kenapa nggak nanya langsung aja?  Lagi marahan ya?” ledek Belor yang memang suka banyak bicara.


“Lor, jangan becanda.  Gue butuh jawaban ini.  kalau gue bisa nelepon Aiza langsung, gue nggak akan buang waktu nanyain lo begini!”


"Oh, oke Bos.  Mbak Aiza tadi saya lihat keluar jalan kaki.  Waktu saya tanyain, katanya mau ke warung nggak jauh dari rumah, mau beli sesuatu gitu.”

__ADS_1


Sial!  Ternyata benar apa kata Jamed.  Dia benar- benar pasang mata- mata untuk Aiza.  Akhmar memutus sambungan telepon.  Memerintah supir taksi supaya menambah kecepatan mobil.


Bersambung


__ADS_2