
"Hei, lo mau nemuin Zahra ya?" tanya Akhmar yang langsung membuat langkah kaki Adnan terhenti.
Adnan mengawasi wajah Akhmar dengan seksama, ia seperti lupa dengan wajah itu. Dan saat ia mengingatnya, ekspresi wajahnya pun mulai berubah.
"Akhmar?" Adnan menunjuk Akhmar ingin meyakinkan pandangannya. Perubahan Akhmar tampak sangat signifikan, membuat pangling.
Jika dulu Akhmar kerap berpenampilan urakan dengan baju ala anak band, rambut agak gondrong, serta penampilan khas preman, tapi sekarang penampilan terlihat sangat rapi dengan rambut yang pendek belah tengah, dari segi pakaian juga beda jauh. Sekarang lebih mirip pengusaha muda. Badannya pun tampak lebih gagah.
"Yaps, lo nggak salah orang," jawab Akhmar.
"Ngapain lo di sini?" Adnan mengernyit, namun tetap tenang. Nyaris tak berubah, ia masih sama seperti dulu, selalu terlihat tenang dan tak banyak bicara.
"Gue nganterin Aiza kemari."
Adnan makin mengernyit. Sepertinya ada banyak pertanyaan yang menyumpal benaknya, namun ia tak mau banyak tanya. Hanya menampilkan ekspresi penuh tanya. Kaca mata masih setia menempel di wajahnya.
"Zahra nyuruh Aiza kemari, mereka lagi di dalem. Lo nggak tau itu?"
Adnan masih terpaku sampai akhirnya ia mengangguk. "Zahra udah bilang kalau dia mau ketemu sama Aiza."
__ADS_1
"Ya udah, masuklah! Zahra pasti udah laper." Akhmar menatap plastik yang ditenteng di tangan Adnan.
Adnan mengangguk, kemudian ia melangkah masuk.
Zahra dan Aiza sedang duduk berhadapan di sisi kasur dengan tangan keduanya yang saling bertaut.
Adnan menatap Aiza dengan pandangan sungkan. Ia terlihat tak nyaman. Bahkan setelah itu ia tak lagi menatap mata Aiza, sengaja menghindari mata bulat itu. Ia sadar telah melakukan sebuah kesalahan besar dengan membawa Zahra kabur.
"Ini nasi bungkusnya," ucap Adnan meletakkan plastik ke tengah- tengah antara Zahra dan Aiza. "Maaf, aku hanya beli satu. Aku nggak tau kalau ada orang lain selain Zahra di sini."
"Nggak masalah. Aku udah makan, kok," ucap Aiza.
"Aiza, aku minta maaf atas..."
"Aku ngerti. Semuanya udah dijelasin sama Kak Zahra," potong Aiza. "Kesalahan itu bukan untuk ditangisi berlarut- larut, tapi untuk diperbaiki. Dan kalian punya itu." Aiza tersenyum.
Mendengar itu, barulah Adnan menatap Aiza. "Kamu nggak marah?"
"Yang penting kalian mau perbaiki ini semua, aku malah akan kasih motivasi," jawab Aiza.
__ADS_1
Adnan mengulum senyum. "Kamu nggak berubah."
"Seorang Aiza memang nggak berubah, justru aku kaget karena dalam lima tahun aku meninggalkan Indonesia, ada banyak cerita yang tercipta, dan aku ketinggalan banyak cerita. Kamu dan Kak Zahra saling cinta. Ini sama sekali nggak pernah terpikir olehku." Aiza tertawa renyah sambil geleng- geleng kepala.
"Beberapa bulan terakhir, aku sempat berpikir bahwa aku nggak mungkin akan hidup sendiri terus, aku butuh pendamping hidup," ucap Adnan.
"Hmm... Lalu kamu kepikiran Kak Zahra?" tebak Aiza sambil terkekeh.
Adnan tersenyum. "Aku juga nggak pernah menyangka kalau pilihanku justru jatuh pada tetanggaku sendiri. Ini terjadi begitu saja."
"Ya udah, aku setuju banget. Hanya saja, jangan kabur lagi kalau ada masalah apa pun. Semua harus dihadapi." Aiza kemudian mencubit lengan Zahra, yang disambut dengan senyum tipis berbalut kegundahan.
"Kalau gitu, aku mesti bersiap punya kakak ipar," celetuk Akhmar yang entah sejak kapan berdiri di pintu dengan tangan menyilang di dada, membuat sejurus pandangan tertuju ke arahnya.
Adnan mengernyit heran. Dan hanya Zahra yang melenyapkan keheranan Adnan dengan menjelaskan apa yang sudah terjadi hingga kini Akhmar sudah menjadi adik ipar.
***
Bersambung
__ADS_1