Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Reuni


__ADS_3

Ini adalah hari dimana Akhmar tengah melakukan pertemuan bersama dengan teman- temannya, tak lain Jambrong, Atep, dan Enyong.  Sedangkan Bajul entah dimana.  Dia mengaku sedang berada di luar kota, sehingga tidak bisa ikut gabung.


Mereka sudah menjadi orang- orang sukses yang bermanfaat untuk orang lain sekarang.


Pertemuan sengaja direncanakan untuk mengenang persahabatan mereka.  Terlalu sibuk dengan rutinitas keseharian, membuat mereka jemu dan ingin berbagi cerita.


Rumah Enyong menjadi tempat pertemuan para pemuda itu.  mereka delivery makanan, juga minuman.  Mereka juga mengadakan sedikit kegiatan untuk membuang suntuk.  Tak lain kegiatan makan ayam bakar satu ekor per orang.  Kalau tidak habis, maka akan dihukum.  Membayar denda sepuluh juta, yang uangnya akan disumbangkan ke panti jompo.


Di kalangan para sultan, uang segitu tidak akan keberatan untuk mengeluarkannya.  Mudah saja bagi mereka.  Jempolnya hanya tinggal klik aplikasi mobile banking, maka uang pun akan berpindah.


Masing- masing orang sudah berhadapa dengan sepotong ayam bakar, mereka harus menghabiskannya.  Dan saat durasi waktu berjalan, mereka pun mulai menyantap ayam masing- masing.  Enak, tapi lumayan bikin perut begah kalau kebanyakan.  Ini ide Atep memang sedikit konyol.


Mereka tidak lagi terlihat urakan, kini penampilan mereka semuanya rapi dan berkelas, nyaris tak ada yang tahu kalau mereka dulu adalah berandalan yang semuanya haus kasih sayang orang tua.


“Mar, denger- denger, lo udah punya pabrik semen, bener ya?” tanya Enyong menatap Akhmar.

__ADS_1


“Ya.”  Akhmar mengangguk sambil mencocolkan potongan ayam yang baru saja ia cubit ke sambal kecap.


“Oh… Jadi itu bukan hanya sekedar isu?”


Akhmar mengayunkan alis.


“Lo juga punya banyak toko bangunan yang tersebar di negeri kita?” tanya Enyong lagi.


“Hm,” jawab Akhmar.


“Ngegas banget lo nanya begitu?  Kayak lo nggak ngejomblo aja,” protes Atep.  “Makanya jangan terlalu gila sama kerjaan, jodoh juga perlu dipikirin.  Ini gue lagi naksir Aiza.  Rencananya dia mau gue jadiin makmum, gue jadi imamnya.”


Akhmar terus mengunyah makanannya, fokus menatap ke arah ayam.


“Aiza yang dulu ditaksir sama Akhmar?  Woi, ini Akhmar ada di sini, udah minta ijin belum?” sergah Jambrong.

__ADS_1


“Udah.  Akhmar udah punya calon di Yogya.  Dia move on dari Aiza.  Giliran gue yang maju, mana tau Aiza tertarik sama gue.”  Atep percaya diri.


“Lo yakin naksir Aiza?” tanya Enyong dengan pandangan tak yakin.


“Yakinlah.”  Atep menjawab dengan mantap.


“Udah tobat belum?  Sekelas Aiza pasti maunya sama cowok yang akhlaknya baik.  Kalau lo belum tobat, mendingan mundur!”


“Gue juga nggak tau nih Nyong, gue ini udah tobat apa belum.  Yang jelas gue ini pengen jadi manusia baik, tapi kok susah ya.  buat sholat aja malesnya minta ampun.  Gimana bisa dikatakan tobat kalau solat aja males.  Tapi juju raja deh, meski gue nggak solat, tapi gue tetap berusaha menjadi orang baik.  Gue nggak pernah jahat lagi sama sesama manusia.  Gue bakalan amalkan semua perintah Tuhan tentang berbuat baik,” ungkap Atep.


“Orang yang tidak memeluk agama Islam juga berbuat baik, sebab memang nggak ada agama yang mengajarkan pada keburukan,” sahut Akhmar dengan nada serius dan tatapan yang juga serius.  “Lalu, apa yang ngebedain bahwa lu itu adalah umat Islam atau bukan?”


Semuanya bertukar pandang.  Heran dengan perkataan Akhmar yang terkesan seperti seorang ayah yang tengah berbicara pada anak- anaknya.  


Iya, teman- temannya itu memang minim ilmu agama.  Sama halnya akhmar yang sampai detik ini beranggapan bahwa ia juga minim ilmu.  Tapi setidaknya ia bisa menyampaikan secuil ilmu yang dia ketahui kepada orang yang dianggap membutuhkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2