
Zahra dan Adnan bertukar pandang.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan Zahra sebelum mendapat maaf dari Ismail kecuali meninggalkan rumah, tinggal di kontrakan yang tentunya tetap mendapat bantuan materiil dari Aiza. Sama seperti yang dilakukan oleh Zahra dulu saat Aiza ngontrak.
Aiza dan Akhmar tidak bisa berbuat banyak mengingat Zahra memutuskan untuk mengontrak saja. Yang penting Zahra sudah muncul dan menunjukkan permintaan maafnya, mereka hanya bisa berharap semoga suatu saat nanti Ismail akan sadar dan memberikan pintu maaf untuk putrinya.
Sedangkan Adnan, pria itu tetap diterima di rumahnya meski mendapat ceramah panjang dari kedua orang tuanya.
Berbagai cara dilakukan eh Zahra untuk mendapatkan maaf dari Ismail, termasuk mengirimkan serangkaian kata permohonan maaf yang kemudian dia kirim ke nomer hape Ismail. Tak hanya itu, Zahra juga kerap mengirim makanan kesukaan Ismail dengan cara memasak dengan tangannya sendiri.
Sayangnya semua itu belum juga meluluhkan hati sang ayah.
Sedangkan Akhmar tampak disibukkan oleh kegiatannya yang sama, yaitu mencari perhatian. Tapi bukan perhatian Ismail, melainkan Aiza.
Malam itu, Akhmar kembali mengantarkan minuman hangat ke kamar Aiza, hal itu ia lakukan setelah celingukan lirik ke kanan kiri, aman. Bebas dari pantauan Ismail yang sekarang setiap malam malah selalu stand by di rumah itu. Apa kabar istri- istri mudanya?
"Eh, Akhmar?" Aiza terkejut. Dia baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang dililit di tubuh. Rambut diikat jadi bundelan di atas kepala. Penampilannya yang hanya mengenakan sepotong handuk, membuatnya jadi risih. Ia lalu kembali ngibrit masuk ke kamar mandi.
"Kok, nggak bilang kalau masuk kamar?" seru Aiza dari dalam kamar mandi.
Akhmar tampak santai menanggapi kepanikan Aiza. Malah berdiri saja di sisi meja.
__ADS_1
"Aku mau tarok minuman hangat ini buat kamu," jawab Akhmar.
"Tarok aja di situ!"
"Udah."
"Kamu masih di situ?" Aiza mengernyit.
"Nggak boleh?"
Aiza menggigit bibir bawah. Mereka memang sudah berstatus suami istri, tapi Aiza masih belum leluasa.
"Keluar aja dulu!" pinta Aiza. "Aku mau pakai baju."
Dih.. Akhmar santai banget. Kan masih kikuk ini. Aiza menggigit bibir bawah.
"Enggak deh. Jangan macem- macem ih." kesal Aiza yang membuat Akhmar terkekeh pelan.
Dih, malah ketawa dia!
"Ambilin bajuku deh!" seru Aiza.
__ADS_1
"Oke. Terserah aku ambil yang mana ya!" Akhmar membuka lemari, mencari pakaian diantara tumpukan baju. Ia mengambil salah satu baju tidur, lengkap dengan pakaian dalamnya meski tangannya sedikit gemetar saat memegang benda mengharukan itu.
"Ini!" Akhmar menyerahkan ke depan pintu.
Aiza mengeluarkan sedikit kepala dan menjulurkan tangannya untuk mengambil pakaian.
"Akhmar!"
Seketika Akhmar menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya, menatap Ismail yang berdiri di ambang pintu dengan raut mencekam. Lebih menyeramkan dari tabrakan maut.
Akhmar melenggang mendekati mertuanya, "Ada apa, abah?"
Melihat tingkah Akhmar yang seperti tanpa dosa, Ismail pun menggeret lengan Akhmar keluar kamar itu. Yang digeret diam saja. Ya sudahlah, patuh lebih baik dari pada berantem
Kan nggak lucu kalau Akhmar adu jotos dengan mertuanya sendiri. Kalau masuk ke media masa, judulnya pasti aneh dan yang bakalan jadi bahan hujatan netizen pasti juga Akhmar. Ngalah aja dah.
Akhmar didorong masuk ke kamarnya, lalu pintu ditutup dan dikunci dari luar.
"Mulai sekarang kamu setiap malam dikunci dari luar!" hardik Ismail lalu meninggalkan pintu.
***
__ADS_1
Bersambung