Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Merinding


__ADS_3

"Akhmar, pertama kali aku mendengar kamu adzan, hatiku bergetar. Aku merinding. Suara adzan kamu itu bagus banget. Iramanya juga luar biasa. Kemudian bacaan Al fatihah juga sangat baik. Aku hampir menangis waktu itu. Bagaimana kamu bisa melakukannya?" tanya Aiza. Setahunya, Akhmar masih terbata saat mengaji ketika terakhir kali mereka bertemu.


"Tiga tahun aku menimba ilmu bersama dengan pamanku, dia seorang ustad yang menjadi pengasuh di pondok pesantren, Yogyakarya." Akhmar mengenang masa tiga tahun terakhir dimana ia digembleng dengan banyak ilmu berharga dari pamannya. Bagi Akhmar, pamannya itu bukan hanya sekedar seorang ustadz, tapi juga guru, panutan dan teman sejati. Dia memberikan ilmu agama yang tiada putus, dia mendidik, juga memberi contoh yang patut untuk dijadikan panutan. Ilmu agamanya tinggi disertai perilaku dan akhlaknya juga mulia.


Akhmar dididik dengan keras di sana, sebab beliau langsung tahu bahwa sifat Akhmar keras kepala dan susah diatur, sehingga cara keras pula yang dia gunakan untuk membentuk diri Akhmar.  Sampai akhirnya Akhmar merasa haus akan ilmu, sama seperti yang dipesankan Aiza waktu itu, bahwa ilmu tidak akan habis digali, menuntut ilmu sampai ke liang lahat.


Tapi Akhmar menyudahi kegiatannya di sana karena mendengar Aiza akan pulang. Kalau dipikir- pikir, Akhmar sebenarnya merasa sangat nyaman dan betah di Yogya, apa lagi ia merasa ketagihan ilmu. Tapi ia memiliki hutang janji yang harus dipenuhi hingga memutuskan untuk meninggalkan Yogakarta untuk menemui Aiza. 


"Aku mendapatkan banyak ilmu saat bersama dengan Paman. Dan yang membuat aku berasa ketagihan menuntut ilmu adalah cara paman yang begitu beradab dalam menjadi panutan, dia bukan hanya sekedar memberikan ilmu doang, tapi juga mencontohkan. Nggak kayak.... abah." Akhmar mengucapkan kata itu dengan ujung kalimat yang terdengar lirih sambil melirik ke arah Aiza. Nggak enak juga mengungkapkan hal itu mengingat Ismail adalah ayahnya Aiza. Segala penilaian buruk terhadap Ismail tentu juga akan melukai hati Aiza.


Namun Aiza tetap menampilkan senyum tanpa merasa tersinggung. Wajar Akhmar gedeg atas kelakuan Ismail, sebab Ismail memang sudah sangat kelewatan.


"Ini sekarang kita mau kemana?" tanya Aiza.


"Ke tempat teman kamu, Nayla."


"Ngapain? Memangnya kamu tau alamat kerjanya Nayla?"

__ADS_1


"Tau. Aku minta dia rancangin gaun buat kamu. Katanya udah jadi, dan kita lihat ke sana sekarang," ucap Akhmar.


Aiza manggut- manggut. Nggak nyangka Akhmar romantis juga. Pakai acara pesenin gaun segala. Buat apa coba? Ah, niat hati ingin memperpanjang hukuman buat Akhmar, tapi kalau Akhmar begini, siapa yang tahan? Ck ck ck...


Mobil berhenti di sebuah bangunan. Akhmar dan Aiza memasuki bangunan itu. Bangunan berkelas yang didominasi dengan kaca, dingin oleh sapuan sejuk AC.


Pandangan Akhmar dan Aiza justru tertuju ke arah Aldan yang terlihat sedang berdiri di tengah- tengah ruangan sambil menatap desain di lembaran kertas. Di hadapan pria itu, ada Nayla yang tampal sedang menjelaskan desain miliknya.


Tampak Aldan mengangguk- anggukkan kepala. 


"Mas Aldan kenapa ada di sini?" bisik Akhmar.


"Oh.." Akhmar mengangguk.


"Sepertinya Mas Aldan cocok dengan desain pakaian milik Nayla," ucap Aiza.


Pandangan Nayla kini tertuju ke arah Aiza. Ia lalu berkata kepada Aldan, "Tunggu sebentar ya, Mas!"

__ADS_1


Aldan hanya mengangguk dengan pandangan masih fokus ke kertas.


Nayla meninggalkan Aldan, berjalan mendekati Akhmar dan Aiza.


"Halooo!" Nayla menyambut kedatangan Aiza. Senyumnya tercetak manis sekali. Terlihat bahagia melihat Aiza bersama dengan Akhmar.


"Kalian datang bersama- sama? Serasi banget. Keren!" Nayla menatap Aiza dan Akhmar silih berganti. "Ayo, kemari. Gaunnya udah selesai." Nayla mengajak mereka ke ruangan yang lebih dalam, yang tentunya melewati Aldan.


Tepat saat melintasi pria yang tengah asik mengamati gambar, Akhmar menghentikan langkah. "Mas Aldan!"


Aldan sontak mengangkat wajah dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia sangat mengenal suara itu.


"Akhmar!" Aldan tersenyum menatap wajah adiknya. Sekilas melirik ke samping dan mendapati wajah Aiza di sana.


"Apa kabar?" tanya Akhmar sambil memeluk singkat tubuh gagah kakaknya.


"Kamu yang apa kabar? Semuanya baik- baik aja kan?" Senyum Aldan mengembang.

__ADS_1


Nayla dan Aiza tersenyum melihat interaksi menarik antara adik dan kakak itu. Jarang- jarang ada momen begini. Terharu jadinya. 


Bersambung


__ADS_2