Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Tentang Vito


__ADS_3

Akhmar sedang menyetir mobil setelah membeli obat dari dokter untuk Aiza.  Ia memelankan mobilnya saat melihat sosok pria bertubuh tegap dan tinggi berjalan keluar dari sbeuah minimarket.  Bajul.  Oh… rupanya besti- nya itu sudah pulang dari luar kota, pantesan dia bisa mengantar kado pernikahan untuk Akhmar.


Merasa ada hal yang perlu dibicarakan, Akhmar pun menepikan mobil, kemudian menghampiri Bajul yang nama aslinya adalah Ibrahim.  Tidak banyak perubahan dari sosok Bajul, wajahnya yang keras tetap sama seperti yang dulu.  Hanya penampilan saja yang jauh berubah, tampak lebih berkelas dengan stelan kemeja dan celana polo serta sepatu khas kantoran.


“Jul!” panggil Akhmar setengah berteriak.


Sontak Bajul menoleh ke sumber suara.  Ekspresinya tampak ragu- ragu.  Antara senang dan bingung.  Senang karena bisa bertemu dengan Akhmar, sahabatnya.  Namun juga bingung karena ia adalah biang masalah atas kematian Vito.  Ia yakin Aiza pasti sudah menyampaikan masalah itu kepada Akhmar.


“Akhmar?”  Bajul melempar senyum kaku.


“Masih ingat sama gue?”  Akhmar mendominasi.


Bajul terdiam.  Sikapnya benar- benar terlihat kaku.  

__ADS_1


“Gue pengen bicara banyak sama lo,” ucap Akhmar.


“Kita minum di sana!”  Bajul menunjuk sebuah kafe.


“Nggak usah.  Duduk di mobil gue, yok!”  Akhmar berjalan menuju ke mobilnya.


Bajul menyusul masuk ke mobil milik AKhmar.  Mereka duduk bersisian di bagian depan.


Tampak Akhmar menarik napas, sorot matanya tertuju ke depan, kemudian pria itu menoleh dan menatap Bajul di sisinya.  


Bajul sengaja tidak hadir di acara reunian untuk kumpul bersama- sama geng lama karena persoalan ini.  ia segan terhadap Akhmar.  Takut merusak suasana, sehingga memilih untuk tidak hadir.


“Ya.  Lo tau kalau Vito bukan pengadu, tapi lo biarkan gue salah paham dan menuduh dia sebagai pelakunya.  Sampai akhirnya Vito yang menanggung semuanya,” ucap Akhmar menyesalkan kejadian itu.  Tidak ada raut emosi di wajahnya, hanya ada penyesalan.

__ADS_1


“Sory, Mar.  gue saat itu beneran takut untuk ngaku sama lo.  Dan keadaannya juga nggak bisa kita kendalikan.”  Bajul menunduk, takut mendapat hantaman dari kepalan tangan Akhmar.  Namun tidak seperti yang dia bayangkan, justru ia mendapati tepukan lembut di pundaknya.


“Jul, lo memang bikin kesalahan, tapi bener apa kata Aiza, bahwa ini sepenuhnya bukan kesalahan lo.  Tapi Vito nggak akan meninggal kalau bukan gue yang memukul dia.  gue sekarang ini nggak tau bagaimana caranya menyampaikan ini ke keluarga Vito.  Ini berat!”  Mata Akhmar berkaca- kaca.  “Gue sedih setiap kali ngeliat mamanya Vito.  Apa lagi sekarang kan mamanya Vito nggak punya suami karena suaminya udah meninggal, seharusnya Vito- lah yang menjadi tulang punggung keluarga.  Sekarang bahkan Aisha, adiknya Vito pun cacat, kakinya sakit setelah kecelakaan.  Mereka butuh pendukung.”


Bajul menatap Akhmar.  Ia senang melihat Akhmar yang ternyata tidak memakinya, justru terlihat bersahabat dan menyesali kesalahan.  Ketakutannya pun memudar.


Akhmar menceritakan kisahnya yang awalnya ingin menikahi Aisha sebagai bentuk pertanggung jawabannya menopang kehidupan gadis yang kini sudah dalam keadaan cacat itu, namun gagal karena kasusnya yang menjadi suami pengganti.


“Gue bersedia membahagiakan keluarga Vito, baik Aisha maupun mamanya.  Tapi kondisi dan qodarullah menetapkan hal yang berbeda dengan keinginan gue.  Saat ini gue udah menikah dengan Aiza atas takdir Allah,” ucap Akhmar memberi pengertian kepada Bajul tentang kondisinya.


Wah wah… Bajul senang sekali mendengar perkataan Akhmar yang jauh berbanding terbalik dnegan Akhmar yag dulu.  Bahkan berkali- kali Akhmar menyebut nama Allah, rasanya adem ayem.  Bajul merasa seperti sedang berbicara dengan sosok yang bijak dan menenangkan.  Perubahan Akhmar sangat signifikan.  Tak ada lagi raut bengis nan kejam yang dipenuhi emosi di wajah Akhmar.  


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2