
Akhmar sontak membaca chat yang ditunjukkkan oleh Aiza.
.
‘Za, lebih baik, jauhi Akhmar. Kalian barusan dari hotel.
Itu akan memicu kemarahan besar abahmu yang jelas- jelas gk merestui kalian.
Tunggu aja terjadinya keributan besar saat sampai di rumah’
.
Tak dapat dipungkiri, hati Akhmar terasa mendidih membaca kata- kata itu. jelas itu namanya teror. Orang itu mengetahui segala tindak- tanduk yang dilakukan oleh Akhmar dan Aiza. Bahkan orang itu juga tahu kalau Ismail melarang Akhmar dekat dengan Aiza. Siapa dia?
Aiza segera menghubungi nomer itu, tapi tidak aktif. Padahal nomer itu baru saja mengiriminya pesan.
“Ini namanya neror. Dia tau apa aja tentang kita.” Aiza mengibaskan ponselnya ke pangkuannya. “Tapi siapa sih yang tau banget soal kita? Bukannya Cuma aku, kamu, dan umi aja ya? masak sih umi?” Aiza membelalak sambil memukuli pelipisnya sendiri dengan kepalan tangan. Durhaka sekali ia kepikiran uminya yang melakukan hal itu. padahal justru uminya yang memberikan dukungan untuknya bisa ngumpet- ngumpet melakukan hubungan campur dengan suami.
__ADS_1
“Kita hadapi dengan tenang. Jangan terpancing orang itu!” Akhmar menenangkan.
“Tapi dia bilang akan ada keributan besar di rumah. Apakah orang itu udah kasih tau ke abah mengenai kita yang mendatangi hotel?” Aiza menerka- nerka.
“Kalau memang itu benar, artinya kita tinggal tanya aja ke abah siapa yang kasih tau abah supaya kita tau siapa yang neror kita.”
“Akhmar, mana mungkin sih abah bakalan menjawab pertanyaan kita disaat beliau sedang marah. Apa lagi beliau mendapat informasi sepenting itu, tentu aja dia nggak mau bongkar siapa orang itu, sebab dia bisa dijadiin mata- mata yang dipercayai.”
“Ya udah, tenang dulu. Kita lihat aja nanti.” Akhmar terlihat tenang.
Melihat sikap Akhmar yang tetap tenang, Aiza pun salut. Ia ikut menjadi tenang.
Mereka disambut dengan pemandangan seram, lebih seram dari situasi di tengah rumah tua yang dihuni banyak jin. Tampak Ismail yang berdiri di tengah- tengah ruangan dengan kedua tangan menyilang di dada. Tatapan matanya horor dan sadis. Ekspresinya menampilkan emosi yang luar biasa.
“Dari mana kalian?” hardik Ismail dengan suara mengguntur keras.
“Aku menjemput Aiza tadi, makanya pulang bareng. Kenapa, abah?’ Akhmar bersikap santai seakan- akan tidak terjadi apa- apa. Ia mengambil air mineral dari dispenser dan meneguknya dengan lahap.
__ADS_1
“Jangan berbohong!” Ismail menatap Akhmar murka. “Aku sudah mengatakan kepadamu supaya tidak menyentuh Aiza. Tapi kau malah membawanya ke hotel. Memangnya apa yang kau lakukan bersama dengan putriku di kamar hotel jika bukan untuk melakukan hubungan badan, huh? Kau belum becus menjadi suami, sudah berani melakukan hal itu kepada putriku!” Ismail menunjuk- nunjuk ke arah Akhmar.
Brak!
Akhmar meletakkan gelas yang sudah kosong ke meja dispenser dengan raut yang tak kalah tegang. Sudah lama ia bersabar, dan kali ini tidak lagi.
“Alasan apa yang membuat abah melarangku menyentuh Aiza? Dia istriku! Aku berhak atasnya! Apakah abah lupa, abah sudah menyerahkan Aiza sepenuhnya untuk menjadi tanggung jawabku di hari akad nikah,” tegas Akhmar tak kalah keras.
“Hei, apakah kau juga lupa bahwa kau itu hanyalah pengantin pengganti. Yang seharusnya meniduri Aiza bukanlah kau, tapi Aldan. Kau tidak memiliki ilmu apa pun dalam hal agama. Ilmu rendah dan tidak pantas menjadi imam dari Aiza. Jangan merasa berhak menyentuh Aiza!”
“Abah perlu ingat bukan hanya aku saja yang menjadi pengantin pengganti. Aiza juga menjadi pengantin pengganti. Karena orang yang seharusnya menikah dengan Mas Aldan adalah Kak Zahra, bukan Aiza.” Urat rahang Akhmar menegang, kesal sekali. Perkataan dan perlakuan mertuanya sudah keterlaluan.
Ismail sedikit minder atas pengakuan itu. Akhmar berkata benar.
__ADS_1
Bersambung
Siapa di sini yg udah baca Bustan dan Bia di sebelah? pasti tau banget kenapa novel itu direkomendasikan oleh aplikasinya dan berada di beranda depan