Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Memilih Mundur


__ADS_3

"Papa, Mas Aldan, Aku juga nggak tau kenapa aku bisa satu ranjang dengan Aiza." Akhmar mengingat- ingat kejadian terakhir kali. Ia merasa sangat mengantuk, berat sekali.  Dan ia terhuyung, lalu tidak ingat apa- apa lagi. "Malam kemarin aku nggak tidur, mungkin aku sangat mengantuk pagi ini sampai- sampai ketiduran dan ngantuk berat. Aku nggak sadar dengan apa yang terjadi."


"Omong kosong! Bedebah!" Emosi Ismail naik. Tak mempercayai perkataan Akhmar. "Sejak dulu, kau memang mengincar Aiza. Sejak dulu kau menginginkan anakku. Lalau inikah yang kau lakukan demi bisa merebut Aiza dari kakakmu? Bahkan disaat pernikahan Aiza pun kau memanfaatkan situasi ini." Ismail kembali melayangkan kepalan tangan hendak menghantam wajah Akhmar, namun Qanita menahannya. Ismail tak mau tinggal diam, ia terus memburu. Qanita terus menghadang.


"Istighfar, Mas!" lirih Qanita tak mau kegaduhan itu terus berlanjut.


"Jadi... Sejak dulu Aiza ini adalah gadis dambaanmu?" tanya Aldan. "Dan sekarang kau satu ranjang dengannya tepat di hari pernikahanku." Suara Aldan bergetar, matanya pun berkaca. "Jika kamu mengambil Aiza dari Mas, bukan begini caranya.”Aldan kemudian beristighfar.  Namun sorot matanya tetap tajam menatap AKhmar, kemudian berkata, “Ini hari pernikahanku, Akhmar!”


"Ini benar- benar hanya salah paham. Aiza semalaman nggak tidur, dan pagi ini sangat mengantuk, bahkan saat dirias tadi, kepala Aiza terangguk- angguk karena ngantuk berat. Sampai akhirnya Aiza tertidur dan nggak tau kenapa Akhmar bisa ada di sebelah Aiza. Kami nggak ngapa- ngapain," jelas Aiza berusaha membuat situasi menjadi terkendali. Benaknya terus bertanya- tanya, kenapa Akhmar bisa berada di sisinya?  "Tolong percaya pada Aiza. Aiza.  Aiza nggak seburuk itu."


"Sudah cukup! Aku serahkan ini pada papa! Aku mundur!" Aldan melepas kopiah putihnya dan melempar ke lantai, menandakan kalau ia tidak lagi mau melanjutkan pernikahan.  Hanya kekecewaan yang menyumpal benaknya.  Raut wajahnya menunjukkan kecewa yang luar biasa.  Bahkan matanya yang semabab, menggambarkan betapa hatinya sedang terluka.  Ia keluar.  Wajahnya langsung menjadi pusat perhatian orang- orang yang masih berkerumun di luar.  Mereka saling berbisik, lalu mengajukan banyak pertanyaan.


“Mas, bagaimana ini acara nikahannya?”

__ADS_1


“Jadi bagaimana kelanjutannya Mas?”


“Itu calon pengantin wanitanya tidur sama laki- laki lain ya Mas?”


Aldan tidak menghiraukan.  Terus berjalan dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu.


Di dalam kamar, situasi masih tegang.  Akhmar tertegun menyaksikan kepergian Aldan.


“Abah, Umi, Pak Adam, tolong percaya pada Aiza, ini semua hanya salah paham.  Aiza beneran ngantuk banget karena semalem nggak tidur, Aiza trus ketiduran di sini.  Aiza nggak tau kenapa bisa ada Akhmar, kami murni nggak melakukan apa pun!” jelas Aiza memohon pengertian.


“Bukankah seharusnya kamu berada di kamar pengantin?  Lalu kenapa malah ngeluyur sampai di sini?  Ini bukti bahwa kamu sengaja menemui Akhmar di kamar ini!” hardik Ismail.


“Aiza berada di sini karena di kamar pengantin ada Meta yang sedang tidur nyenyak. Meta kecapekan, Aiza nggak mau kalau sampai mengganggu kenyamanan Meta.  Nggak ada salahnya kan Aiza dirias di sini?  Sampai akhirnya Aiza ketiduran.  Ini hanya kebetulan!” jelas aiza.  “Plis, percayalah sama Aiza, nggak ada hal buruk yang terjadi di sini.  Ini bukan maksiat.  Ini hanya kesalahpahaman.”

__ADS_1


“Omong kosong!”  Ismail menatap emosi.  Ia melayangkan tangan ke arah Aiza, namun dihadang oleh Adam.


Tatapan mata Ismail dan Adam bertemu.


“Tidak akan ada jalan keluar jika masalah ini dihadapi dengan kekerasan, justru akan menimbulkan masalah baru!” ucap Adam bijaksana.  “Kita sudah berada sampai di titik ini, bukan hanya materi, tapi tenaga, pikiran dan seluruhnya sudah dikerahkan.  Bahkan keluarga besar, para tamu dari semua kalangan sudah berkumpul.  Bukan hanya keluarga besarku saja yang akan menanggung malu saat pernikahan ini gagal, tapi juga keluarga besarmu.  Maka kita harus tetap melanjutkan pernikahan ini.”


Ismail mengernyit menatap calon besannya.  “Maksudnya bagaimana?  Aldan sudah menolak untuk dinikahkan.”


“Bukankah kau bilang bahwa Aiza dan Akhmar sejak dulu memiliki hubungan?  Maka nggak ada salahnya jika mereka menikah,” usul Adam.


 


Bersambung

__ADS_1


Klik like dulu yah


__ADS_2