
“Gue mengerti kemana arah pembicaraan lo. Lo ingin gue yang menggantikan posisi lo untuk menopang keluarga Vito, begitu?” tanya Bajul.
“Thanks kalau lo paham itu. tapi ini tergantung lo, gue nggak maksa. Jangan anggap ini sebuah tekanan. kalau lo nggak bersedia, maka jangan lakukan. Ini perkara nurani. Gue yakin lo bisa ngejagain keluarganya Vito. Sebab diantara temen- temen gue, gue anggap lo yang lebih mampu dibanding yang lain. Lo kepengen gue insaf sejak dulu kan? Artinya lo kepengen ketua geng menjadi pemimpin yang baik, dari situ aja gue udah bisa menilai kalau lo sebenernya orang baik. Makanya gue percaya lo bisa ngejagain mereka.” Akhmar menepuk lengan Bajul penuh rasa persahabatan.
“Baik. Demi wujud tanggung jawab gue, akan gue coba untuk menjalaninya. Kalau gue dan Aisha berjodoh, gue akan bersedia menjadikan dia sebagai pendamping hidup gue.”
“Lo yakin? Aisha sekarang dalam kondisi cacat fisik, kakinya harus pakai kurk saat berjalan. Dia merasa minder, nggak yakin bakalan ada cowok yang mau hidup bersama dengannya.”
“Gue yang akan meyakinkan dia. Bukan Cuma lo aja yang dirundung penyesalan beberapa tahun ini, Mar. gue pun juga. Gue menyesal karena menjadi bagian penyebab kematian Vito. Biarlah gue yang menjaga adiknya Vito. Ini mungkin akan adil,” jawab Bajul.
“Thanks.”
“Jangan makasih sama gue. O ya, Aisha cantik nggak?” Bajul mulai terlihat rileks.
“Cantiklah, masak ganteng.” Akhmar terkekeh.
“Becanda aja lo. Gue serius.”
“Pokoknya manteplah. Gue yakin dia adalah tipe lo.”
“Ah, bikin nervouse aja. Kita ke temui Aisha sekarang?”
“Waow… secepat itu? Ngebet amat? Entar kebelet kawin lo.”
__ADS_1
“Ha ha haaaa… memang. Denger lo udah nikah sama Aiza, gue kan kepingin juga. oke, kalau gitu gue cabut, gue ikuti lo pake mobil gue.”
“Yo’i.”
Bajul pindah ke mobilnya, ia mengikuti mobil Akhmar dari belakang, menuju ke perumahan yang tak jauh dari rumah milik Akhmar.
Mobil keduanya berhenti. Mobil Akhmar ada di barisan depan. Bajul menghampiri Akhmar yang sudah berdiri di depan pagar sebuah rumah.
“Aisha ada di dalam ya?” tanya Bajul.
“Kemungkinan. Dia jarang keluar rumah saat kondisinya seperti yang sekarang ini.”
“Kok, gue jadi grogi ya?” Bajul merapikan rambutnya dengan mengusap menggunakan telapak tangan.
Akhmar tersenyum simpul melihat tingkah temannya itu. dasar Bajul!
“Ngomong- ngomong kita mau ngapain ke sini?” tanya Bajul memikirkan kebingungannya sendiri.
“Gampang, entar gue atur!”
Tak lama pintu terbuka. Wanita berpenampilan modern di usianya yang sudah matang menyembul, tak lain mamanya Aisha.
“Eh, Akhmar? Ada apa, Nak?” tanya wanita itu dengan melempar senyum.
__ADS_1
“Mau ketemu Aisha, ada ya, Tan?”
“Ada. Dia di belakang. masuklah!” Wanita itu ramah.
“O ya Tan, kenalin ini Bajul, temanku.” Akhmar menunjuk Bajul yang sejak tadi sibuk merapikan kerah bajunya.
“Ya ya. saya mamanya Aisha,” ucap wanita itu memperkenalkan diri pada Bajul.
Bajul hanya mengulum senyum canggung.
“Biar aku samperin Aisha ke belakang, Tan!” ucap Akhmar.
“Ooh… Boleh. Dia duduk di samping kolam renang tadi,” jawab mamanya Aisha.
Segera Akhmar dan Bajul melangkah menuju ke belakang, tepatnya ke kolam renang. Mereka mendapati Aisha yang tengah duduk di sisi kolam. Sendirian. Gadis itu meneguk jus, ada kurk yang teronggok di sisi meja.
“Aisha!” panggil Akhmar yang langsung mendapat sambutan senyum tipis dari gadis itu. Ia tampak sudah melupakan patah hatinya meski masih tersisa ekspresi tak nyaman saat bertemu dengan Akhmar.
“Ada apa, Mas Akhmar? Tumben kemari?” tanya Aisha. Gadis itu menoleh ke arah Bajul yang ada di sisi Akhmar.
“Aku hanya ingin bersilaturahmi aja sama kamu dan mamamu,” jawab Akhmar yang kemudian duduk di hadapan Aisha meski tak dipersilahkan.
Bajul pun ikut- ikutan duduk. Melihat reaksi Bajul yang sdikit grogi, Akhmar meyakini bahwa bajul menyukai Aisha. Jika sudah begini, urusan akan lebih mudah. Satu hati sudah terkena jerat, tinggal hati lawannya saja yang mesti ditaklukkan.
__ADS_1
Bersambung