
Getaran yang bersumber dari hape milik Aiza menghentikan pekerjaannya. Ia membaca chat yang masuk dari pria tak dikenal.
.
'Kalau hanya sekedar penasaran, lebih baik kamu gk tau siapa aku. Tapi kalau sekiranya kamu ingin kenal aku lebih dekat, aku akan penuhi permintaanmu untuk ketemuan.'
Oh, rupanya dia malah memancing.
Akhmar kembali mengetik pesan.
.
'Aku gk bisa mengatakan kalau aku ingin kenal dekat denganmu, aku punya pilihan untuk menentukan sosok yang bisa menjadi kenalan dekat dan bukan.'
Cukup lama tak ada balasan. Akhmar mulai jengah. Sampai akhirnya balasan itu pun muncul.
.
'Baik, kita ketemuan di kafe Bunga Candra. Aku boking meja nomer 15'
.
Akhmar langsung mengantongi hape. Ia bergegas menuju ke kafe yang disebutkan dengan menggunakan taksi, penampilannya berbeda dengan samaran kumis, topi dan wig.
__ADS_1
Tak akan ada yang mengenalinya. Ia duluan duduk di salah satu kursi kafe dan memesan kopi ginseng.
Sesekali manik matanya melirik ke arah meja nomer 15 meski wajahnya menghadap ke arah hape yang ada di tangan.
Seperti yang disepakati, akhirnya meja nomer 15 diisi oleh seorang pria asing, tak dikenal.
Akhmar mengedarkan pandangan ke arah lain, mencoba mencari tahu apakah ada orang lain yang memantau meja tersebut. Kalau saja ada orang yang terus memantau meja itu, artinya dialah yang kemungkinan menjadi dalang sebagai orang yang memerintah pria bayaran itu.
Tapi Akhmar tidak menemukan kejanggalan di sekitar pengunjung yang tidak begitu ramai itu.
Sebuah chat masuk ke hape milik Aiza, tepat saat pria asing di meja nomer 15 yang terlihat asik memainkan hape.
.
.
Well, Akhmar mengangguk. Ia bangkit berdiri dan melenggang mendekati meja nomer 15.
Byur...
Gelas berisi teh hangat milik si pria asing di meja nomer 15 tersenggol oleh lengan Akhmar. Tumpah. Air megalir dengan cepat dan mengenai celana si empunya meja.
“Hei, apa- apaan ini? Hati- hati kalau jalan! Main senggol seenaknya saja,” kesal pria asing itu menatap wajah Akhmar yang dibalut kumis.
__ADS_1
“Maaf. Maaf.” Akhmar bertindak seperti orang bodoh, pura- pura mengelap meja.
“Haduuuuh.. kotor ini jadinya.” Pria itu buru- buru melenggang pergi menuju ke toilet, takut celana bagian dalam akan makin basah akibat rembesannya. Tanpa sadar ia telah meninggalkan ponselnya tergeletak di meja.
Inilah yang diharapkan oleh Akhmar. Yaitu hape milik pria asing. Secepatnya Akhmar meraih hape tersebut sebelum layar tertutup. Takutnya hape tersebut menggunakan password atau pun pola yang membuat Akhmar kesulitan melacak isi di dalamnya.
Tak perlu banyak yang dia cari tahu. Akhmar hanya akan melihat daftar riwayat panggilan. Di sana pasti tertera siapa orang yang menyuruh pria asing itu, mana mungkin pria asing itu tiba- tiba muncul di kehidupan Aiza tanpa ada penyuruhnya. Atau memang Aiza memiliki penggemar rahasia? Akhmar harus menemukan jawaban secepatnya.
Akhmar melihat nama Jamed di panggilan keluar dan panggilan masuk. Kemudian Akhmar menuju ke pesan whatsapp. Ada perbincangan bersama dengan Jamed yang menyebut- nyebut nama Aiza. Jelas di sana tertulis bahwa Jamed meminta orang suruhannya itu untuk meneror Aiza.
Akhmar memotret chat itu menggunakan hape miliknya lalu secepatnya mengembalikan hape milik pria asing ke tempat semula.
Keyakinan Akhmar kalau orang asing itu adalah orang suruhan sudah terbukti.
Fix, Jamed adalah dalang dibalik peneroran itu. apa lagi yang diinginkan si Jamed? Masih berani dia mengusik Aiza. Apakah tidak kapok dianiaya seperti waktu itu? Apakah masih kangen dengan pukulan dan tonjokkan? Nyari pasal melulu.
Ini menyangkut Aiza, makanya Akhmar tidak bisa tinggal diam.
Setelah itu Akhmar pergi meninggalkan kafe. Ia naik taksi menuju di kediamannya Jamed.
__ADS_1
Bersambung