
Aiza menuruni taksi yang mengantarkannya sampai di lokasi pembangunan pondok pesantren. Tampak beberapa pekerja mulai melakukan aktifitasnya di lahan yang masih berupa hamparan luas. Aiza melangkah gontai, di sisinya seorang pria berpakaian rapi dengan stelan jas warna biru.
Pria yang mengendarai mobil sendiri itu sudah mengadakan janji untuk bertemu Aiza di sana. tak lain ia adalah seorang konsultan. Ya, Aiza menggunakan jasa konsultan untuk memproses pembangunan pondok pesantren yang rencananya akan dibangun tingkat lima itu.
Mereka tampak mengobrol, lalu duduk di sebuah pendopo yang sengaja dibangun untuk beristirahat. Sambil minum es teh, Aiza dan konsultan muda itu berunding.
Akhmar yang sudah lebih dulu berada di lokasi itu, mengurus pekerjaan di sana sejak pagi buta, kini pandangannya tertuju ke arah Aiza yang terlihat santai duduk manis di pendopo bersama seorang pemuda. Entah siapa pemuda itu. dari kejauhan, wajahnya tidak begitu jelas.
Tubuh Akhmar terbasuh peluh. Punggungnya pun basah. Matahari sore begitu terik. Sejak tadi ia berjibaku dengan para pekerja, memantau pekerjaan seperti yang diperintahkan mertua galaknya itu.
Akhmar melangkah menuju ke pendopo, dimana Aiza dan pria muda itu tampak asik mengobrol. Sesekali keduanya tertawa ringan sambil melihat- lihat kertas yang ada di meja.
Aiza melirik sebentar ke arah Akhmar yang berdiri di hadapannya.
“Kamu di sini bersama dengan siapa?” tanya Akhmar.
Aiza menatap pria yang duduk di hadapannya itu, lalu tersenyum dan berkata, “O ya, kenalkan ini konsultan muda namanya Abid!” Aiza menunjuk pria muda itu.
__ADS_1
Yang ditunjuk bangkit berdiri, tersenyum menyambut Akhmar. Ia mengulurkan tangan ke arah Akhmar.
Akhmar mengawasi dengan cermat wajah pria yang disebut dengan nama Abid itu secara seksama. Demikian juga pria bernama Abid itu menatap Akhmar dengan dahi mengernyit.
“Atep?” Akhmar menunjuk konsultan itu.
“Akhmar?” Pria itu terkejut.
Keduanya lalu berpelukan erat. Menepuk punggung lawan pelukan. Hampir saja mereka tidak saling kenal jika tidak memperhatikan dnegan seksama, penampilan Atep yang banyak perubahan, serta postur tubuh yang juga didapati banyak perubahan, membuat Akhmar benar- benar hampir lupa.
“Dan lo kenapa di sini? Kenapa ada di pondok pesantren yang dikelola oleh Aiza?” tanya Atep.
Akhmar menatap Aiza. “Gue…”
“Dia mandor di sini. Tugasnya mantau kerja orang,” potong Aiza.
Mandor? Aiza nyebut aku mandor? Tega ngatain begitu. Akhmar membatin heran.
__ADS_1
“Jujur aku kagum dengan kegiatan Aiza. Sejak dulu dia nggak berubah. Dan ngomong- ngomong kalian bisa berada di satu tim begini, apakah kalian pacaran?” tanya Atep.
Akhmar terdiam dan tak bisa berkata- kata.
“Maksud gue, apa kalian ada hubungan spesial?” sambung Atep. “Setahu gue, kalian sejak dulu dekat bukan? Dan setau gue nih ya, Akhmar kan dulu naksir berat sama Aiza.”
Bukan hanya sekedar ada hubungan khusus, tapi udah nikah. Kata- kata itu hanya tertelan dalam hati oleh Akhmar. Artinya Atep tidak melihat postingan yang diunggah oleh Akhmar, andai saja Atep melihatnya, pasti Atep langsung tahu bahwa Aiza dan Akhmar sudah menjadi pasnagan suami istri.
“Kejadian yang terjadi diantara kami selalu saja hanya karena kebetulan,” jawab Aiza cepat. “Kebetulan Akhmar ini jadi mandor di sini. Kerjanya bagus! Aku dan Akhmar nggak pacaran kok. Kami punya jalan masing- masing. Lagian, aku ini nggak cocok sama Akhmar, jadi nggak mungkin kami berpacaran. Akhmar juga udah punya kekasih di Yogya.”
Tatapan Aiza tertuju ke mata Akhmar. Pria itu tampak keberatan untuk membantah perkataan Aiza, sehingga hanya diam.
Tentu saja Aiza dan Akhmar nggak pacaran, tapi udah nikah. Heleh, kata- kata itu tak ingin Aiza ungkapkan. Rasanya ia tak mau mengungkap status yang sebenarnya supaya Akhmar juga tahu bahwa ia kini tak sudi mengungkapkannya.
Aiza nggak salah. Mereka memang nggak pacaran kan? Aiza bertingkah seakan- akan Akhmar hanyalah seorang mandor di sana.
Bersambung
__ADS_1