
“Semoga cepet sembuh.” Akhmar duduk di sisi Aiza. “Bagaimana bisa sampai begini? Apa yang terjadi?”
“Ada motor yang nyerempet. Badanku sempet terpental ke jalan. Lutut terkena aspal. Untung nggak kelindes mobil yang lewat karena aku cepat berkelit. Trus laki- laki yang nabrak itu mau nolongin aku, dia mau bangunin aku. tapi aku nggak maulah. Dia kan laki- laki, nggak mungkinlah aku biarin dia pegang- pegang aku disaat aku masih bisa jalan sendiri. Ya udah, aku jalan pulang dengan kaki pincang.”
“Berarti kamu nggak nanyain siapa dia? alamatnya dimana? Atau…”
“Untuk apa?” potong Aiza.
“Untuk minta pertanggung jawaban,” ucap Akhmar.
“Berapa sih biaya yang dikeluarkan untuk ngobatin luka yang begini doang. Palingan kalau dibawa ke rumah sakit nggak sampe sejuta kan? Ya udahlah nggak masalah soal itu mah.”
Akhmar tidak mau membongkar masalahnya dengan Jamed, tak mau membuat Aiza menjadi cemas dan khawatir. Itu adalah perbuatan Jamed, dan tentu tidak bisa dibiarkan. Ternyata ancaman Jamed tidak main- main. Pria itu sedang mencari keuntungan untuk kepentingannya dengan cara ini.
Masalah ini adalah urusan Akhmar dengan Jamed, ia tidak akan melibatkan Aiza meski sekarang jelas Aiza telah dilibatkan oleh Jamed. Intinya, Akhmar ingin menyelesaikan masalahnya secara jantan tanpa membuat resah sang istri. Ini urusan laki- laki.
__ADS_1
Apa maunya Jamed saat ini?
Akhmar menatap Aiza teduh, lalu berkata, "Aku minta kamu tetap di rumah. Kalau kamu membutuhkan apa pun, suruh aja Roni. Jangan keluar rumah dulu. Kamu mau mendengarku kan?"
Mendengar permintaan bernada perhatian, tentu kepala Aiza langsung mengangguk.
"Okey, aku suka kalau begini," ucap Akhmar.
"Tapi apa nggak berlebihan, cuma gara- gara lutut sakit begini, kamu ngelarang aku keluar rumah?"
"Kalau gitu, kamu beliin obat ampuh yang mahal itu dari dokter, biar aku bisa celat sembuh. Ada tuh obat dokter yang bisa bikin luka cepat sembuh dan ngilangin rasa sakit secara instan. Tapi mahal sih." Aiza tersenyum menatap suaminya.
"Oke. Aku akan belikan untukmu. Tapi kamu tetap di rumah ya, jangan keluar rumah apa pun yang terjadi. Kalau mau keluar rumah, kamu bisa pergi denganku, minta ijin aja denganku!"
Wah wah, Akhmar kini tampak lebih bijaksana dalam berbicara.
__ADS_1
"Baik. Aku patuhi kamu." Aiza mengacungkan jempol.
"Kamu jangan terlalu cemas berlebihan, cuma gara- gara aku keserempet motor, trus aku jadi nggak dibolehin keluar rumah dan kalau keluar harus bersama kamu. Ini kan sepele, jangan dilebih-lebihkan begitu." Aiza menganggap sikap Akhmar terlalu berlebihan.
"Bukan itu masalahnya, tapi kamu itu harus sembuh dulu. Pokoknya kamu dengarkan aja perkataanku. Ini demi kebaikanmu. Mau kan?"
"Iya iya." Aiza mengangguk setuju. Lagi pula ia paham hukum apa yang harus ia patuhi. Kalau suaminya sudah memintanya untuk tetap tinggal di rumah, maka ia wajib mematuhinya. Tidak bisa tidak. Dan kalau ia akan keluar rumah, maka ia harus ijin dulu sama suami. Ah, kok malah seneng ya dikasih peraturan begini? Jadi lebih berasa bener- bener memiliki suami. Eh, kan memang Akhmar itu beneran suaminya ya? Hadeeh...
Akhmar membantu Aiza menukar celana yang sudah sobek itu dengan rok.
"Tadi tuh aku sebenernya mau telepon kamu, tapi hape ku entah kemana." Aiza bingung karena lupa terakhir kali menaruh hape dimana.
"Oh.." Akhmar celingukan, menatap bantal lalu menyelipkan hape milik Aiza di bawah bantal tanpa sepengetahuan istrinya. Dia sudah menghapus percakapannya dengan pria asing di whatsapp. Tidak meninggalkan jejak apa pun.
Bersambung
__ADS_1