
Aiza masih banyak diam. Entahlah, meski ia bahagia atas pengakuan Akhmar yang ingin memulai segalanya dari awal, tapi rasa sakit itu masih meninggalkan luka. Aiza butuh waktu. Memaafkan adalah hal mudah baginya, tapi melupakan rasa sakit itu tidak mudah. Ia benar- benar masih ingat bagaimana Akhmar mengatakan kalimat yan menusuk. Meski itu hanyalah dalih untuk membuat Aiza membenci Akhmar disaat Akhmar masih sangat mencintainya, namun tetap saja perasaan Aiza terluka atas ketidak pedulian Akhmar selama ini.
"Aiza, katanya udah mau baikan? Kenapa masih diam terus?" tanya Akhmar.
Aiza hanya menggeleng.
"Apa kamu masih belum bisa menerima aku?"
"Aku butuh waktu," jawab Aiza.
"Baik, aku mengerti." Akhmar membaringkan tubuhnya di sisi Aiza, kedua kaki menjuntai ke bawah. Kedua tangan disilangkan dan menjadi alas kepala. Pandangannya tertuju ke bulan di langit yang menjadi penerang.
"Aku mengerti sekarang, perasaan wanita itu sensitif. Tapi lebih kuat dari pada laki- laki. Mereka mudah tersinggung, mudah sakit hati, mudah kesal pada hal yang sepele, tapi justru jauh lebih kuat saat mendapat cobaan berat." Akhmar melirik ke arah Aiza.
Wanita itu segera memalingkan pandangan dari wajah Akhmar. Hukuman untuk Akhmar belum kelar. Pria itu harus mendapatkan hukuman lagi.
Aiza memilih diam saja.
"Apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Akhmar.
"Entah."
__ADS_1
"Loh? Kok entah? Kamu kan bisa ngerasain."
"Bingung." Aiza masih berusaha untuk bersikap dingin.
"Kalau aku dekat dengan wanita lain, apakah kamu akan marah?"
Pertanyaan konyol.
"Apa maksudmu?" tanya Aiza dengan wajah memerah.
"Seandainya kamu marah, artinya kamu cemburu, tandanya itu kamu masih sayang sama aku." Akhmar melempar senyum simpul.
Melihat istrinya tanpa jilbab, Akhmar jadi gemas sekali. Wanita itu tampak cantik sekali, apa lagi rambutnya masih agak basah begitu. Wangi lagi.
"Dingin," ucap Aiza.
"Kalau begitu, ijinkan aku menghangatkan mu." Akhmar bangkit bangun.
"Maksudku, di sini dingin, aku mau ke kamar." Aiza menuruni gazebo, melenggang menuju ke pintu untuk masuk ke rumah.
Akhmar mengikuti masuk ke rumah. Mereka berjalan beriringan. Namun kemudian mereka berpisah ketika Akhmar lebih dulu sampai ke pintu kamarnya.
__ADS_1
Aiza sempat berhenti dan menoleh, lalu lanjut melangkah pergi.
Sungguh menawan nan gemulai cara Aiza melangkah, membuat Akhmar tak rela mengalihkan perhatian hingga wanita itu menghilang dari pandangan. Ia lalu masuk kamar dan melempar tubuh ke kasur, memeluk bantal guling. Tersenyum tipis menyadari nasibnya kini. Tidur terpisah dengan istri, inilah peraturan gila mertua. Lama- lama Akhmar lun bisa kadi gila.
Di saat semua pengantin baru merasakan indahnya malam pertama, saling berbulan madu, memadu kasih, saling menghangatkan satu sama lain, tapi Akhmar dan Aiza malah pisah ranjang.
***
"Ini rumah Aiza kan?" tanya Atep yang mendatangi rumah itu untuk sebuah keperluan.
Aiza yang kebetulan membuka pintu tersenyum mengangguk. "Tentu. Kamu lihat aku yang bukain pintu kan?"
"Ooh.. rumahmu ini klasik, modelnya jadul. Luas. Dan besar." Atep mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah yang terkesan klasik itu. Jika semua orang sedang membangun rumah dengan model modern, tapi rumah itu tampak berbeda, justru kuno.
"Ini peninggalan mbah mbah buyut dulu, sejak jaman nggak enak memang begini, nggak pernah diubah- ubah. Sebab klasiknya unik," jawab Aiza.
"Cewek kalau statusnya masih gadis emang suka simpel ya, nggak mau ribet," ucap Atep.
Aiza hanya tersenyum tipis. Tidak membantah tuduhan Atep yang menyebutnya masih gadis. Nyatanya ia sudah menikah tapi berasa masih gadis, suaminya tidak menganggapnya sebagai istri.
Bersambung
__ADS_1