Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Godaan Istri Kedua


__ADS_3

Godaan Istri Kedua


( Hanya bisa dibaca di GOODDREAMER )


"Aku mandi dulu!" Pria tampan yang baru saja memasang celana boxer itu menuruni ranjang, berjalan menuju ke kamar mandi sesaat setelah mengecup kening Bia.


Darah di tubuh Bia rasanya berdesir merasakan sentuhan hangat bibir Bustan di keningnya. Wanita itu tersipu.


Bustan menoleh dan menatap Bia dengan intens saat berada di ambang pintu kamar mandi, Membuat Bia jadi salah tingkah, apa lagi Bia menyaksikan rahang kokoh, dada bidang dan perut rata yang seksi.


"Mau mandi bareng?" tanya Bustan, pria yang baru beberapa jam lalu mengucap janji suci pernikahan. Pria yang beberapa menit tadi memberikan kehangatan dalam percintaan di malam pertama pengantin.


Bia menggeleng dengan kulit wajah merah merona. Senyum di bibir mungilnya tercetak sempurna mengawasi punggung gagah suaminya hingga hilang di balik pintu yang tertutup.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Bia. Tak lain ponsel milik Bustan.


Cece. Nama yang tertera di layar.


Bia meraih ponsel, membawanya ke depan pintu kamar mandi. "Mas, ada telepon!"


Bustan yang tengah mandi menggunakan shower tidak mendengar seruan Bia di luar.


Baiklah, tidak masalah bagi Bia menjawab telepon di ponsel suami. Ia menggeser tombol hijau pada benda pipih nan canggih itu. Baru saja mulutnya terbuka hendak menyapa, suara di seberang sudah duluan menjawab.


"Mas Bustan, aku kecelakaan. Cepat ke rumah sakit Sentosa sekarang, sayang! Aku membutuhkanmu. Hiks...!"


Sayang?


Suara wanita di seberang mengejutkan Bia. Dadanya mendadak panas, seperti diremas- remass. Organ tubuhnya pun mendadak lemas. Siapa perempuan itu?


"Sayang, mobilku rusak. Kakiku terluka! Cepat kemari! Huhuhuu..." Tangis wanita di seberang terdengar pilu.


Bia tercekat. Setelah berhasil mengusir sesak di dada, ia pun berkata, "Ini siapa?"


"Cece. Istrinya Mas Bustan. Kau pasti Sabiya, kan? Mas Bustan mana? Aku mau bicara dengannya. Berikan ponselnya kepada Mas Bustan."


Deg!


Nyaris seperti disambar petir. Jantung Bia berdetak keras. Nyeri dan kaget bersamaan. Ingin membanting handphone milik Bustan, namun zikir di hatinya mampu mengalahkan emosi. Sabar, Bia. Sabar!


Astaghfirullah..!


"Ya, aku Sabiya. Istrinya Mas Bustan. Lalu bagaimana kamu bisa mengaku sebagai istrinya Mas Bustan?" sahut Bia dengan suara tercekat.


"Sudahlah, kau akan mengerti nanti. Aku mau bicara dengan Mas Bustan." Wanita itu mengabaikan Sabiya begitu saja. Ia hanya ingin bicara dengan Bustan.


Sambungan telepon terputus akibat jaringan yang tiba- tiba memburuk.


Bagaimana mungkin pria yang baru saja menikahi Bia itu sudah memiliki istri? Tidak banyak hal yang Bia ketahui dari sosok Bustan sebelumnya. Sebab memang waktu perkenalan mereka terbilang singkat. Bustan hadir di kehidupan Bia sebagai pria yang sopan dan baik.


Satu bulan mereka menjalani taaruf. Bustan telah mampu mengenalkan Bia pada rasa yang namanya jatuh cinta. Mengalihkan dunia Bia yang monoton menjadi penuh warna.


Di mata Bia, Bustan terlihat sebagai pria yang baik. Sehubungan perasaan Bia sudah dililit oleh cinta, ia pun menerima lamaran Bustan yang akhirnya menuju ke pernikahan.


Pria itu mengaku bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan, juga mengaku masih singel saat melamar Sabiya, lalu kenapa bisa begini?


Bia yang awalnya tinggal di rumah kecil, langsung dibawa oleh Bustan menuju ke rumah besar yang sudah dipersiapkan setelah acara pernikahan.


Apakah ini alasan Bustan langsung membawa Bia pindah ke rumah baru? Supaya orang tua Bia tidak mendengar cacat dalam rumah tangga mereka?


Jika dipikir- pikir, Bustan yang menjabat sebagai manager di perusahaan swasta dengan gaji yang hanya puluhan juta alias maksimal hampir menyentuh angka dua puluh juta itu, rasanya mustahil pria itu bisa membeli rumah seperti yang ditempati oleh Bia sekarang, ditaksir harganya bisa saja menyentuh angka milyaran.


Selain rumah, beberapa mobil milik Bustan juga elit. Sabiya semakin merasa asing pada suaminya.


Siapa sebenarnya pria yang menikahinya itu?


Sebelum menikah, hidup Bustan di mata Bia tampak sederhana, layaknya seorang manager yang memiliki gaji sepatutnya. Tapi setelah menikah, Bia dibawa ke rumah mewah menggunakan mobil yang juga elit. Semua itu memberikan tanda tanya besar di benak Sabiya.


Bahkan kini malah terkuak satu misteri lagi, bahwa Bustan ternyata sudah memiliki istri. Tak pernah terpikir di hidup Sabiya akan menjadi istri kedua begini.


Bia terlahir dari keluarga baik- baik, yang selalu mengutamakan nilai- nilai keagamaan. Ia pun mengutamakan agama saat memilih calon suami. Sehingga Bustan El Basil menjadi pilihannya ketika mengenal akhlak pria itu yang terlihat baik.


Sabiya tidak tahu jika sebenarnya ia telah masuk perangkap dalam pernikahannya itu. Ia juga tidak tahu, di balik kepolosannya, ada orang yang mengulas senyum saat perangkap sudah dimasuki oleh mangsa.


Tepat saat Bia memegangi hape milik Bustan dengan segudang tanya, pria tampan itu keluar hanya dengan handuk yang dililit di pinggang. Seharusnya Bia terpana menatap tubuh seksi Bustan yang terekspos. Tubuh six pack itu dialiri butiran air.


Bustan berdiri di hadapan Bia dengan wajah tanpa berdosa. "Ada apa, Bia?"


Pria itu heran melihat ekspresi wajah Bia yang tiba- tiba seperti orang frustasi.


"Siapa Cece?" tanya Bia sambil menyerahkan hape milik Bustan.


Oh... Bustan langsung tahu apa yang baru saja terjadi. Pasti Cece meneleponnya tadi. Terbukti ada panggilan masuk dari nama Cece.


"Dia mengaku-ngaku sebagai istrimu. Dia bilang dia kecelakaan dan minta supaya kamu menemuinya." Suara Bia tercekat. "Jelaskan padaku, siapa dia, Mas?"


"Cece kecelakaan?" Bustan tampak cemas mendengar wanita bernama Cece kecelakaan tanpa peduli dnegan pertanyaan Sabiya. Ia lalu mengenakan pakaian dengan terburu- buru, tak peduli handuknya melorot dan terjatuh saat mengenakan kolor.


Ah, biarkan saja. Toh, Bia juga sudah melihat semuanya.


Setelah usai mengenakan pakaian, Bustan pun menatap Bia dan berkata, "Cece adalah istri pertamaku."


Penjelasan Bustan sontak semakin membuat Bia frustasi. Dengan entengnya Bustan mengatakan kalau dia memiliki istri lain selain dirinya, bahkan tanpa merasa berdosa. Ya Tuhan, ujian apa ini?


"Keterlaluan, Mas! Tega kamu lakukan ini padaku. Pembohong! Pendusta!" kesal Bia dengan suara tercekat. Mata berembun.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Aku harus menemui Cece. Dia membutuhkanku. Selamat malam!" Bustan mengecup kening Bia dan berlalu pergi.


Bia menelan. Membeku di tempat. Masih tak yakin dengan kejadian yang menimpanya. Dia ditipu oleh suaminya sendiri. Pria tampan yang memikatnya dengan sejuta pesona, ternyata sudah memiliki istri duluan sebelum menikahinya. Ini pembohongan!


Bia lemas jadinya. Angan- nagannya untuk hidup bahagia bersama dengan keluarga kecil, memiliki dua anak, dan menjadi ibu rumah tangga yang baik sudah sirna. Hancur lebur.


Lalu kenapa wanita bernama Cece itu tidak marah saat tahu bahwa Bia mengaku sebagai istrinya Bustan?


***


Setelah semalaman tak bisa tidur, menghabiskan malam sendirian di rumah asing, pagi ini Bia harus melihat suaminya datang ke rumah bersama dengan wanita lain, yang tak lain wanita itu adalah istri pertama suaminya. Cece. Cantik. Berkelas. Penampilannya sempurna sebagai wanita kelas atas.


Dengan mengenakan sepatu high heels, tas branded, gaun mahal, make up berkelas, serta rambut yang selalu tersentuh tenaga salon, wanita muda yang tangannya dalam balutan perban itu melangkah ke tengah- tengah ruangan.


Bia masih diam di tempat, menyaksikan wanita yang usianya lima tahun di atasnya itu duduk di sofa dibimbing oleh Bustan. Sesekali merapikan hijab yang rasanya mencekik leher.


Pria bertubuh six pack dengan raut mendominasi itu menatap wajah Bia dengan tegas.


“Sabiya, kenalkan aku adalah Cece Wulandari, istrinya Mas Bustan. Lebih tepatnya adalah istri pertama.” Wanita itu bicara dengan lantang dan tegas. “Maksud kedatanganku kemari adalah untuk menjelaskan semuanya. Kau pasti masih bingung dengan situasi ini kan?”


Bia masih diam. Terlalu berharga baginya mengeluarkan suara jika hanya untuk menanggapi mereka.


“Jadi begini, Mas Bustan ini menikahiku sejak lima tahun silam.” Cece memegang lengan Bustan, mengelus dan menempelkan pipinya manja di lengan itu. “Kami bahagia. Tapi sayangnya kami tidak mendapatkan keturunan. Sebagai manager kenamaan yang dipandang sempurna, rasanya Bustan terlihat cacat jika tidak memiliki keturunan. Apa lagi dia adalah sosok yang dibanggakan banyak orang. Apa kata orang jika dia tidak memiliki keturunan?”


“Lebih baik mengadopsi anak dari pada harus berbagi suami bukan?” Bia mulai angkat bicara.


Cece tersenyum samar.


“Aku juga sebenarnya tidak mau berbagi suami,” ucap Cece dengan tenang. Senyum miring masih tercetak di wajahnya. “Wanita mana yang mau suaminya mencari madu? Ini berat bagiku. Tapi setidaknya Mas Bustan memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri. Jika kamu nggak sudi dengan pernikahan ini, kamu boleh mundur, tapi dengan syarat sudah memberikan keturunan untuk Mas Bustan. Biarkan aku dan Mas Bustan yang merawat anak itu.”


“Luar biasa. Ini artinya aku dinikahi hanya dijadikan sebagai mesin penghasil keturunan untuk Mas Bustan?” Lidah Bia terasa kelu. Hatinya pun nyeri seperti diremas.


Bustan memilih diam. Memberikan waktu untuk dua wanita itu saling bertukar pikiran.


“Sebenarnya belum saatnya kamu mengetahui semua ini. Tapi berhubung kamu sudah keburu tahu duluan, maka lebih baik dijelaskan supaya paham. Intinya, layanilah Mas Bustan sebagaimana mestinya,” ucap Cece dengan ekspresi datar.


Semakin ke sini, kehidupan Sabiya seperti sedang dipertaruhkan untuk hal yang tidak ada baiknya bagi dirinya sendiri.


Cece lalu menatap Bustan. “Mas Bustan, aku pergi. Supir akan mengantarku pulang. Dadaaah!” Ia mencium pipi Bustan, kemudian melenggang pergi tanpa menatap Bia.


Bia tidak tahu harus menangis atau marah, semua rasa mengaduk- aduk batinnya. Pikirannya sudah lelah dan terkuras habis sejak semalam. Tapi ia tidak boleh lemah. Ia bingung menentukan jalan hidupnya saat itu. Ia ingin pulang saja dan kembali pada ayahnya yang kini hidup sendirian. namun ia malu. Ia baru saja menikah, apa kata ayahnya jika ia pulang sendiri. Bustan adalah laki- laki pilihannya.


“Mas Bustan, kamu sudah menipuku. Kamu membohongiku!” Suara Bia bergetar. Giginya menggemeletuk.


Bustan tampak tenang dengan kedua ujung tangannya masuk ke kantong celana. “Kalau aku jujur padamu bahwa aku sudah menikah, apakah kamu akan menerimaku? Apakah kamu akan bersedia menjadi istri kedua? Belum tentu. Jadi inilah yang aku lakukan. Kau harus memahami itu.”


Bia melangkah mundur, menjauh dari Bustan. Dadanya semakin sesak. Hampir saja ia terjatuh jika terlambat meraih kursi di belakang yang siap menampungnya.


“Dan apa tadi? Aku hanya dijadikan mesin penghasil anak untukmu?” Sabiya menatap nanar.


“Tidak ada lagi yang bisa aku sembunyikan darimu. Semuanya sudah kau ketahui. Benar apa yang dikatakan oleh Cece, bahwa aku butuh keturunan dari darah dagingku sendiri. Aku melihatmu sebagai wanita baik- baik. Keturunanku tentu harus berasal dari bibit yang baik. Dan pilihan untuk menjadi ibu dari anakku jatuh kepadamu. Kau menjadi istri seorang manager sekarang. Hidupmu akan sejahtera. Semua keperluanmu akan terpenuhi. Apa pun yang kau minta juga akan aku berikan. Bukankah itu merupakan keberuntungan bagimu? Apa lagi?”


Bustan salah jika menilai kebahagiaannya diukur dari materi. Bahkan saat Bia kehilangan harapannya untuk bisa bahagia bersama keluarga kecilnya, ia sudah tidak lagi berharap akan melanjutkan pernikahan ini.


“Kamu adalah manager yang tentunya juga makan gaji, tapi kekayaanmu melebihi pendapatanmu. Bertahun- tahun pun kamu mengumpulkan uang dari gaji, kamu nggak akan mendapatkan kekayaan sebanyak ini, Mas. Berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?” kesal Sabiya.


“Aku memang bekerja sebagai manager. Tapi kau perlu tahu, bahwa sebelum aku masuk ke dunia perkantoran ini, aku sudah memiliki segalanya. Jadi jangan kau kaitkan antara pekerjaanku dengan kekayaanku.”


Sabiya tidak percaya dengan ucapan Bustan. Seperti ada banyak hal besar yang disembunyikan oleh Bustan darinya. “Aku minta cerai. Aku mau pulang ke rumah ayah!”


Sebenarnya lidah Bia berat sekali mengatakan itu. tapi ia tidak mau hidup dalam kepalsuan begini, apa lagi mesti harus berbagi suami. Parahnya, ia hanya dijadikan sebagai mesin penghasil anak saja.


“Bia, jaga bicaramu!” Bustan berkata dengan datar. “Kau sudah menikah denganku. Sampai aku mendapatkan anak itu, aku tidak akan menceraikanmu. Kau harus menghasilkan keturunan untukku! Aku membutuhkan itu.”


“Aku baru sadar sudah salah menentukan pilihan. Kamu hanya butuh anak dariku, bukan membutuhkan aku.”


Bustan melangkah mendekati Bia, ia menyentuh lengan wanita itu, yang langsung disentak begitu saja oleh Bia.


“Jangan sentuh aku!”


“Hei, kita sudah melakukan lebih dari ini, Bia.” Bustan kembali memegangi lengan Bia. Pria dengan wajah khas ala jagoan Turki itu mengangkat alis. Aroma wangi tubuhnya merasuk di pernapasan Bia. Tubuhnya yang seksi tercetak jelas melalui kemejanya yang ketat.


“Aku ini manusia, punya hati dan perasaan. Apakah begini caramu memperlakukan manusia? Aku dianggap mesin yang nggak punya rasa. Kalian itu keterlaluan. Kalau kamu memang nggak bisa memiliki anak dari Mbak Cece, kenapa kamu nggak menceraikannya dan mencari wanita lain? Kamu lebih memilih untuk menikahi wanita lain hanya untuk dijadikan mesin saja. Ini keterlaluan.”

__ADS_1


“Aku tidak mungkin menceraikan Cece.”


“Kenapa? Karena alasan cinta?”


Bustan tak menjawab.


Dari sikap itu, Bia dapat mengambil kesimpulan bahwa memang Bustan tak mau meninggalkan Cece karena pria itu mencintai istrinya.


“Cece mandul. Aku sangat berharap bisa memiliki anak dari darah dagingku sendiri. Inilah pilihan yang diputuskan oleh Cece, yaitu menikahi wanita subur yang bisa memberikan aku keturunan. Aku tahu kalau Cece minder dan tidak mau kehilangan aku, sehingga inilah jalan yang dia pilih. Membiarkan aku menikahi wanita lain asalkan aku tidak menceraikannya,” jelas Bustan.


"Aku mau pisah!" tuntut Bia dengan suara rendah dan lebih seperti bisikan.


Salahkah bila Bia menuntut pisah? Ia merasa sudah dibohongi. Ditipu. Bahkan ia harus berbagi suami. Ia yakin tak akan mungkin sanggup menjalani semua itu. Lebih baik berpisah dari pada harus menjalani rumah tangga yang lebih banyak mudharatnya.


Bustan hanya menatap saja tanpa memberikan jawaban sepatah kata.


“Ceraikan aku!” ucap Bia lagi.


“Jangan menentangku, Bia!” Bustan melangkah pergi meninggalkan rumah.


Entah kemana pria itu pergi menggunakan mobilnya.


Terlalu banyak teka- teki ini, Sabiya jadi ingin mencari tahu banyak tentang Bustan, suaminya yang mendadak menjadi manusia asing dalam hidupnya.


Siapa sebenarnya pria yang dia nikahi itu? Tak habis- habisnya pertanyaan itu terus menyerangnya.


******* napas panjang diembuskan oleh Bia. Ia terduduk di kursi. Berselancar dengan ponselnya. Ia mencari nama Bustan El Basil di mbah google. Ia menemukan banyak informasi mengenai sosok Bustan.


Salah satunya adalah profil Bustan yang menjadi trending beberapa tahun silam, dengan judul jenderal muda idola Indonesia. Ck ck ck…


Menakjubkan. Berikut profil jenderal muda yang bisa menjadi inspirasi.


Jenderal muda ternama yang sukses memulai dari nol, berbagai prestasi mendulang nama baiknya. Ia berhasil menuntaskan berbagai kasus di usianya yang masih muda. Kerja keras, pantang menyerah, ulet serta tekad yang kuat menjadi faktor yang membuat jenderal muda ini mencapai titik sukses.


Bahkan Bustan El Basil berhasil membuat kepercayaan masyarakat terhadap instansi pelayanan negara menjadi baik.


Untuk mencapai titik sukses, Bustan El Basil memulai usaha dengan keyakinan. Nama Bustan El Basil mungkin masih terdengar asing untuk banyak orang karena kurang begitu terekspose. Namun beberapa kasus besar yang dia tangani sangat familiar di negeri ini, termasuk tugas berat yang berkaitan dengan teror bom.


Perjalanan besar negeri tak lepas dari kiprah tokoh di dalamnya yang dikenal cerdas dan memiliki karakter kuat. Bustan adalah salah satu sosok jenderal yang mumpuni.


Bisa dibilang, Bustan merupakan sosok perwira yang menjadi jenderal bintang satu termuda.


Bustan telah melewati berbagai macam rintangan dan jatuh bangun dalam memulai kariernya. Kerja keras dan pantang menyerahlah yang akhirnya membuat karir pria muda ini mencapai kesuksesan.


Kisah sukses dan perjuangan Bustan secara tidak langsung mengajarkan bahwa kerja keras dengan sikap pantang menyerah dapat memberikan hasil maksimal. Terlebih niat mulianya memilih karir sebagai tentara adalah untuk membantu meringankan beban kedua orang tua.


Demikian tulisan di salah satu unggahan media pemberitaan terkemuka.


Oh… ternyata Bustan adalah mantan tentara. Mata Bia terpejam sebentar, menyadari bahwa pemberitaan itu hanyalah pencitraan semata. Bahwa karir sebagai tentara hanyalah kedok, sedangkan di dalam hati Bustan tidak ada kecintaan pada negeri atau pun rakyat, justru dialah mafia di tubuh ketentaraan. Sungguh sangat disayangkan, pria gigih dan ulet yang terlihat sempurna di mata wanita, justru perbuatannya mengecewakan begini.


Next, Bia kembali meneliti pemberitaan mengenai Bustan. Tidak ada hasil pemberitaan apa pun terkait judul- judul yang diketik di pencarian. Namun justru muncul pemberitaan mengenai Bustan saat Sabiya tanpa sengaja membuka berita kriminal, tertulis mengenai Bustan yang ditangkap karena terciduk dalam kasus penjualan senjata illegal.


Seorang ibu tua bernama Rena sempat melapor pada kepolisian menuntut Bustan supaya diadili. Tapi tidak jelas alasan apa yang membuat ibu tua tersebut menuntut Bustan. Entah kejahatan apa yang telah dilakukan oleh Bustan terhadap Ibu Rena.


Tak hanya itu, Bustan juga tersandung berbagai kasus lainnya yang berkaitan dengan hal itu ia ditahan dan divonis hukuman sepuluh tahun penjara. Lucunya, vonis sepuluh tahun penjara disunat menjadi empat tahun penjara.


Jika dihitung mundur, pemberitaan itu sudah berlalu satu tahun, artinya masih ada tiga tahun masa tahanan yang seharusnya dijalani oleh Bustan. Aneh, baru satu tahun dipenjara, kini Bustan bebas bersyarat. Inilah potret hukum di negeri ini. Nyaris seperti lelucon. Bustan pasti memiliki banyak uang sehingga mudah saja baginya berkuasa.


Jadi… Pria yang sekarang menikahi Sabiya adalah seorang penjahat? Dia adalah mafia kelas kakap setelah menyandang status sebagai jenderal muda.


Bustan pasti ingin terlihat sempurna, tanpa cacat dalam hal keluarga dan rumah tangga. Yang akhirnya malah mengorbankan Sabiya. Jika saja niat Bustan menikahi Bia bukan untuk hal sehina itu, tentu Bia masih bisa menerima. Tapi ini…


Masih tak yakin dengan realita yang dibaca di pemberitaan, Sabiya menyambar tas kemudian menghambur pergi.


Dengan menaiki taksi, Sabiya mencari tempat tinggal seorang wanita tua yang sempat disebutkan dalam pemberitaan di media beberapa tahun silam. Tak lain ibu yang menuntut Bustan.


Namanya Bu Rena, wanita tua yang sudah berumur. Kesehariannya menjadi buruh cuci pakaian para tetangganya.


Sabiya mendatangi sebuah komplek perumahan di pondok jati seperti yang disebutkan di media tentang alamat rumah korban.


Dengan membawa sebuah kotak kardus berisi sembako, Sabiya mendatangi rumah kecil itu.


Setelah mengetuk pintu, seorang wanita tua keluar, mengenakan hijab panjang dan gamis lusuh.


“Selamat pagi ibu!” sapa Sabiya dengan senyum ramah setelah mengucap salam.


Ibu Rena membalas dengan senyum pula. Agak bingung.


“Saya Sabiya, sengaja datang kemari untuk mengantar sembako! Saya mendapat alamat rumah ibu dari sosial media yang diunggah sekian tahun lamanya,” ucap Sabiya dengan ramah.


Si ibu menatap terharu. Ia kemudian menerima kardus berisi sembako.


Mereka berkenalan. Saling mengobrol di kursi lusuh.


Melihat keramahan dan penampilan Sabiya yang tampak baik, Bu Rena menilai bahwa wanita yang mendatanginya itu adalah wanita baik bak malaikat.


“Jadi Bia tahu tempat tinggal ibu dari pemberitaan ya?” tanya Rena dengan suara yang tak keras lagi, sesuai dengan usianya yang sudah renta.


Mengenang cerita di pemberitaan Bu Rena tidak mendapatkan keadilan, entah apa alasanya, semuanya kurang jelas karena Bu Rena waktu itu dilarang berbicara ke publik. Ia terciduk wartawan memberikan laporan dan tuntutan namun tidak diperkenankan buka suara ke publik oleh berbagai tekanan.


Tatapan Bu Rena menerawang jauh ke depan, dia sedang mengenang sesuatu. “Anak saya itu namanya Devan. Dia pendiam dan penurut. Tapi sayang sekali malah nasibnya buruk. Dia berpamitan pergi untuk menemui pria yang katanya bernama Bustan. Setelah itu dia tidak kembali. Dia hilang entah kemana. Hanya jam tangannya yang tertinggal dan ditemukan polisi di tempat kejadian. Bustan waktu itu menjadi tersangka, namun tetap saja tidak ada bukti akurat yang menunjukkan bahwa Bustan sudah melenyapkan putra saya. Sedih sekali rasanya.”


Penjelasan Bu Rena membuat jantung Sabiya seperti disengat listrik. Tubuhnya membeku seketika. Jadi benar, pria yang dia nikahi adalah seorang mafia besar? Jika bukan mafia kelas besar, mana mungkin dia bisa membunuh dengan menghilangkan jejak, semuanya bersih dibuatnya.


Tubuh Sabiya lemas sekali rasanya. Pria yang dia nikahi adalah seorang penjahat. Sabiya jadi ketar- ketir sekarang.


“Sebelum Devan menghilang, dia mengaku menjadi saksi kejahatan transaksi barang haram. Sehari setelah itu, Devan berpamitan akan menemui orang yang bernama Bustan. Sampai sekarang, anak saya tidak ditemukan. Padahal awalnya pihak yang berwajib telah menetapkan Bustan sebagai tersangka, tapi entah kenapa Bustan sudah bebas sekarang. Dia berbahaya. Saya sedih sekali. Padahal Devan adalah tulang punggung saya. Dia yang menafkahi saya. Sekarang saya harus menjadi buruh cuci baju untuk menyambung hidup,” jelas Rena dengan mata berkaca- kaca.


“Ibu yang sabar!” Sabiya berusaha memberikan kekuatan dengan kata- kata, juga dengan elusan singkat di punggung tangan ibu Rena yang sudah mengeriput.


“Makasih ya, Bia. Kamu sudah datang dan menghibur Saya! Saya jadi merasa punya teman.”


Sabiya mengulum senyum. Ia pun tak tahu harus tertawa atau menangis sekarang, sejak tadi ia masih merasa lemas karena baru tahu bahwa suaminya adalah mafia.


***


Bia melangkah masuk rumah dengan langkah lemas. Tubuhnya kontradiksi dengan pikiran yang menyerang tentang Bustan. Sama sekali tak menyangka jika ia menikah dengan seorang pria jahat.


Sabiya kembali ke rumah Bustan. Rumah yang baru dibeli oleh pria itu khusus untuk tempat tinggalnya bersama dengan Bia.


Deg!


Jantung Sabiya berdetak keras menatap Bustan yang duduk di sofa dengan kaki menyilang di atas meja, kedua tangan asik memainkan hape.


Ya Rabb… mendadak organ tubuh Sabiya menjadi semakin lemas. Apakah ini karena Bia takut menjadi korban mati berikutnya?


Blug klontang dung!


Tas yang sejak tadi diremas oleh tangan Sabiya terjatuh, benda- benda di dalam tas sampai berhamburan keluar. Mulai dari bedak, lipstick dan kotak bedak pun meluncur keluar. Efek nyali mendadak ambyar, Sabiya jadi gemetaran. Sejak tahu bahwa Bustan adalah seorang pria kejam, Sabiya jadi merasa seperti ditodong senjata api saat bertemu dengan Bustan.


Sabiya bergegas memungut benda- benda miliknya yang berserakan dengan tangan gemetar. Terutama kotak bedak yang di dalamnya terdapat rahasia yang harus dijaga oleh Sabiya. Tak boleh Bsutan sampai tahu. Dia tadi membeli benda yang dia selipkan dan disembunyikan di dalam kotak bedak itu. jangan sampai Bustan mengetahuinya.


"Sudah pulang?" tanya Bustan masih dengan pandangan tertuju ke ponsel.


Bruk! Prak!


Tas kembali terjatuh dan isinya berhamburan keluar lagi.


Yasalam. Gara- gara mendengar suara Bustan menanyai, Sabiya sampai jadi kaget begitu. Semua barang di tangannya terjatuh. Ini efek jantung kaget jadinya sampai begini.


“Dari mana kamu?” tanya Bustan.


“Dari pasar. Pondok. Warung. Eh, cangkir!”


Loh? Kok malah kesebut cangkir segala? Sabiya bingung mau jawab apa. Jika bilang dari pasar, tapi tak ada satu pun barang yang dia beli di pasar. Mau bilang pondok menjenguk adik, tapi kejauhan, sebab pondok adiknya itu jauh sekali. Ada di luar kota. Dan terakhir malah cangkir.


Bustan bangkit berdiri, berjalan mendekati Sabiya yang baru saja selesai memungut benda- benda miliknya dan dimasukkan kembali ke dalam tas.


Sabiya menelan, menatap wajah tampan yang dulu terlihat manis, namun kini wajah tampan itu membuat Sabiya merasa ketakutan.


Sebenarnya tak ada raut kejam di wajah Bustan, wajah itu tampak sangat maskulin dan teduh. Tapi Sabiya sudah terkecoh dengan pengetahuannya tentang Bustan, pria itu menakutkan sekali.


Sabiya kembali menelan, menyadari bahwa dia sudah menjadi istri seorang mafia jahat.


“Yang benar dari mana? Pasar? Pondok? Warung? Atau cangkir?” tanya Bustan.


“Warung,” jawab Sabiya agak gugup. Ya Tuhan, kenapa ia harus merasa setakut ini pada Bustan? Hati Sabiya sedang berperang melawan ketakutan, supaya bisa menghadapi Bustan dengan tenang, namun benaknya tak bisa dibohongi.


“Lama sekali? Apa yang kau cari di warung?”


“Aku tadi membeli sembako, lalu aku berikan kepada warga yang nggak mampu untuk sedekah.”


Jawaban Sabiya membuat Bustan terdiam. Sedekah?


Sabiya melangkah masuk menuju ke ruangan lain. Perasaan cemas membaur dalam benaknya. Kesal, takut, emosi, juga ingin menangis.


Dalam sekejap, Bustan telah mampu membuat Bia jatuh cinta, lalu mengubah perasaan itu menjadi rasa benci sesingkat kedipan mata. Ya, antara cinta dan benci berbaur menjadi satu.


Mudah saja bagi Bustan mengatakan supaya Bia menikmati kekayaan dengan senang, tapi nyatanya tidak. Rasanya Bia malah menjadi sesak dan memuakkan.


Tak pernah terpikir bagi Bia untuk hidup menjadi orang ketiga dalam kehidupan orang lain. Lalu kenapa ia dipaksa menjadi pelakor begini?


Brrrrt...


Getaran ponsel membuat Bia segera meraih benda itu.


"Halo!" sapa Bia pada Fahri, tetangganya yang sejak kecil menjadi teman baiknya itu. Mereka dulu senasib, sama- sama menjadi orang susah.


Sekarang Fahri sudah terlihat mapan dengan menjadi chef di restoran ternama dengan gaji yang juga cukup besar. Berbeda dengan Bia yang malah terjerumus ke dalam pernikahan gila.

__ADS_1


"Hei, apa kabar Bia? Bagaimana pernikahanmu? Semua okey kan?" Fahri terdengar girang.


“Enggak.” Bia sadar bahwa satu- satunya sahabat yang bisa dipercaya, yang paling mengerti dirinya adalah Fahri. Berbicara dengan orang yang tepat dan bisa dipercaya bukanlah bermaksud mengumbar aib, namun mencari solusi, mengurangi beban dan mengharap kebaikan.


“Enggak? Maksudmu?” Fahri agak kaget.


Dada Bia terasa sesak. Rasanya ingin mengungkapkan semuanya supaya plong. “Mas Bustan sudah punya istri. Istrinya nggak bisa punya anak dan aku dinikahi hanya untuk menghasilkan anak. Ini pernikahan yang sama sekali nggak aku inginkan.”


Fahri terdiam. Tak ada balasan suara di seberang sana.


“Fahri!” panggil Bia setelah cukup lama lawan bicaranya itu terdiam.


“E eeh.. I iya? Kok, bisa begitu? Maksudku, kenapa suamimu setega itu?” Fahri terdengar belepotan. “Jadi sekarang kamu maunya bagaimana?”


“Aku mau minta cerai. Tapi Mas Bustan nggak mau menceraikan aku. Yang aku hadapi ini bukan orang sembarangan. Aku nggak berkutik, Fahri.” Bia geregetan. “Aku harus bagaimana?”


Terdengar suara Fahri melepas napas panjang.


“Bia, jangan gegabah. Kamu harus pikirkan masalah ini matang- matang. Ini bukan masalah kecil. Jika ini menyangkut keselamatan ayahmu, akan lebih baik kamu berhati- hati.”


“Justru itu, aku nggak bisa berbuat banyak. Ya udahlah. Kamu menelepon di saat yang nggak tepat. Lain kali aja kita bicara. Aku sedang pusing.” Bia mengucap salam dan menutup sambungan telepon.


Bia tidak sudi mendampingi pria kejam itu. Pembunuh. Dia harus berpisah dari Bustan. Harus! Jangan sampai ia terjebak di dalam pernikahan ini.


Sabiya tentu ingin mengabdi dan menghabiskan waktu bersama dengan pria yang bisa menjadi imamnya, penuntunnya menuju surga, bukan pria seperti Dajjal yang tega menghabisi nyawa manusia serta pekerjaannya adalah segala sesuatu yang haram.


“Bia!”


Panggilan itu membuat Sabiya terkejut hingga hp di tangannya melompat dan terjatuh ke lantai. Lagi- lagi suara Bustan membuat Bia seperti hampir diterkam singa.


Bia memungut hp dan mengangkat wajah, menatap Bustan dengan rasa takut.


Pria yang memiliki tubuh gagah dan dada bidang itu melangkah masuk mendekati Sabiya yang duduk di sofa. Ia mengawasi ekspresi wajah Sabiya dengan seksama.


“Ada apa denganmu? Kau kelihatan seperti sedang syok begitu?” tanya Bustan.


Sabiya menggeleng. “Aku nggak apa- apa. Aku hanya sedang pusing dan merasa stress” ia bangkit berdiri. Meletakkan tas ke meja. Kini posisinya membelakangi Bustan. Ia sedang mengumpulkan nyali untuk bicara.


“Mas, kalau kamu nggak mau menceraikan aku, maka aku yang akan mendatangi kantor agama untuk mengajukan perceraian. Aku mau pisah!”


Tubuh Bia berputar dan menghadap Bustan ketika ia mendapat tarikan kuat dari tangan pria itu. mereka bersitatap dalam jarak dekat. Bahkan hembusan napas keras Bustan terasa menampar keras di wajah Sabiya.


Bustan semakin maju hingga membuat jarak mereka terkikis habis. Sabiya merasakan permukaan tubuh mereka saling menempel. Percayalah, Sabiya merasakan seluruh permukaan tubuh pria itu menempel dan ia dapat merasakan segala lekuk dan tonjolan pada pria itu.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu keturunanku terlahir? Kau tidak boleh pergi dariku!"


Ya Tuhan, Bustan berharap mempertahankan Bia hanya karena ingin secepatnya mendapat keturunan. Peduli apa Sabiya dengan keturunan Bustan?


Bia sadar bahwa pernikahannya dengan Bustan sama sekali tidak diketahui banyak orang. Mereka menikah cukup disaksikan oleh warga sekitar di pemukiman rumah Bia saja.


Dari pihak Bustan, hanya beberapa orang yang katanya adalah keluarga dekat Bustan saja yang mengetahuinya. Katanya kedua orang tua Bustan sedang di luar kota sehingga tidak bisa hadir di acara itu. dan sekarang Bia baru tahu bahwa orang- orang yang mengaku sebagai keluarga Bustan di acara pernikahan itu hanyalah orang sewaan.


Fix, Bia menjadi istri yang disembunyikan, yang hanya dibutuhkan untuk melahirkan keturunan saja.


"Aku nggak bisa hidup bersamamu, aku mau pisah," tegas Bia.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi." Bustan mendominasi.


"Kamu nggak bisa memaksaku, Mas." Sabiya berusaha mengumpulkan keberanian. Dan benar, keberanian itu akhirnya muncul dalam dirinya. Dia tidak gentar lagi. Dia bahkan sanggup menatap mata gelap Bustan.


"Well, silakan kalau kamu mau pergi dariku. Tapi jangan harap ayahmu akan baik- baik saja."


Bia membelalak kaget. "Kamu mengancamku?"


"Tidak ada cara lain."


Bia menelan. Ya Tuhan, Bia benar- benar sudah menikah dengan mafia kejam. Bia merasa semakin asing pada Bustan. Sosok yang memiliki uang banyak, yang tentunya bisa melakukan apa saja. Termasuk membuat ayah Sabiya celaka meski Bustan duduk diam di rumah. Semuanya mudah bagi pria itu.


"Kau harus tahu bahwa aku punya segalanya, aku bisa melakukan apa pun." Bustan membenahi kerah kemejanya dengan sentakan kuat hingga malah membuat kemejanya tampil berantakan.


Bia bisa saja menolak dan membantah Bustan, tapi jika sudah menyangkut keselamatan ayahnya, apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada lagi yang ia miliki selain ayah dan adiknya.


“Carilah wanita lain, jangan aku!” pinta Sabiya.


"Kau sekarang menjadi ratu. Menikmati kekayaan. Bahkan ayahmu pun bisa kecipratan senang. Semuanya kau miliki. Mobil pun akan aku belikan. Lebih baik ikuti kemauanku! Atau… aku bisa melenyapkan siapa saja, baik kau atau pun ayahmu dalam hitungan detik. Itu mudah sekali bagiku." Bustan mengeluarkan senjata api, membuat Sabiya terkejut bukan main.


Jantung Bia pun berdetak kencang. Ia tak pernah melihat senjata api sebelumnya, dan sekarang ia melihat benda mengerikan itu ditodongkan ke arahnya. Nyawa seperti di ujung tanduk. Kulitnya meremang hebat. Andai saja pelatuk ditarik, maka tamatlah riwayatnya saat itu juga.


Bustan menurunkan senjata api dan memasukkannya ke balik kemeja. Ia lalu melewati Bia dan melangkah pergi.


Ah tidak. Bia tidak boleh termakan ancaman Bustan. Ia harus bisa memberikan keselamatan ayahnya. Jangan sampai ayahnya menjadi korban. Dialah yang harus melindungi ayahnya dari ancaman.


Bia berjalan menuju kamar, ingin mengemas semua pakaiannya dan membawanya pergi. Ah, niatnya urung. Ia tidak mau ketahuan Bustan. Jika sampai Bustan melihatnya mengemasi pakaian, pasti pria itu akan melarangnya pergi. Lebih baik ia pergi tanpa membawa apa pun.


Langkah lebar membawanya sampai ke luar. Ia menaiki taksi. Perjalanan lumayan jauh, memakan waktu hingga lebih dari setengah jam, ia sempat terjebak macet beberapa menit sebelum akhirnya ia sampai ke rumah ayahnya.


Mata Bia menatap haru rumah tersebut. Baru satu malam ia meninggalkan sang ayah, rasanya ia sudah sangat merindukannya. Ingin memeluk tubuh kurus yang sudah menua itu.


Setelah Sabiya menikah, ayahnya Sabiya tinggal sendirian. Seharusnya ada Rania, si bungsu yang menemani ayahnya di rumah jika saja Rania sudah lulus dari pondok pesantren. Tapi bungsunya itu masih harus menyelesaikan sekolahnya dulu.


"Ayah!" Bia menghambur menuju ke rumah. Tangannya mengguncang handle pintu. Oh… sayangnya pintu dikunci.


Ayah kemana? Jam segini biasanya ayah duduk manis menunggu warung kecilnya. Tapi warung yang menyatu dengan rumah itu tutup. Pintu rumah pun dikunci.


Bia mencari kontak sang ayah di hape. Tak sulit mencari nama itu sebab berada paling atas sebagai nomer favorit.


Panggilan telepon tersambung sesaat ia menekan nama itu.


"Ayah!" panggil Bia setelah durasi panggilan berjalan.


"Ya, Bia? Ada apa, Nak?" sahut suara kebapakan di seberang. Suaranya menenangkan hati Bia.


"Ayah dimana? Warung ditutup?"


"Ayah sekarang sedang ada di vilanya Nak Bustan. Tadi barusan ayah dijemput supir, diajak liburan dulu. Yaa... Dikasih uang untuk liburan juga. Itung- itung, ayah kan juga butuh refreshing biar isi kepala ayah jadi segar. Ini rumahnya bagus sekali," sahut Sudirjo, ayahnya Bia.


Mendengar suara sang ayah yang bahagia, Bia terdiam. Ayahnya ternyata gembira sekali diajak liburan.


"Ayah, ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ayah bisa nggak liburannya lain kali aja. Ayah pulang dulu sekarang!" pinta Bia.


"Memangnya kenapa ayahmu disuruh pulang?"


Bukan suara Sudirjo, melainkan suara Bustan. Hp sudah berpindah tangan.


Bia tergugu di tempat. Mulutnya tak bisa bicara lagi. Jadi ayahnya sekarang sedang bersama dengan Bustan?


Ya ampun, Bustan gerak cepat. Bia ingat ancaman Bustan tadi, yang mengatakan supaya menuruti semua kemauan Bustan jika tidak mau ayahnya kenapa- napa.


Bustan melangkah menjauhi mertuanya. Kemudian ia berkata, "Percayalah ayahmu akan baik- baik saja di vilaku, selagi kamu mau ikuti suamimu. Kau masih mencintai ayahmu kan? Maka jangan kecewakan aku!"


Tubuh Bia terasa lemas. Ia terduduk di kursi teras.


Sial! Bia kalah selangkah. Bustan benar- benar nekat. Pria itu berhasil membawa ayahnya pergi. Berperang melawan orang berduit memang susah. Mereka bisa saja melakukan apa pun dengan mengandalkan uang serta kejahatannya itu. Sedangkan Bia? Membujuk sang ayah supaya menjauh dari Bustan juga akan percuma, melawan penjahat sadis seperti Bustan bukan dengan fisik, tapi kecerdasan.


Well, Bia harus main cantik.


***


Bia kembali pulang ke rumah barunya. Sudah ada Bustan di rumah itu. Bustan memang seperti katak, mudah saja melompat ke sana sini. Baru saja Bustan menelepon dan mengatakan bahwa dia berada di vila bersama Sudirjo, sekarang pria itu sudah ada di rumah.


“Alangkah hebatnya kamu berpura-pura perhatian di depan ayah dan membawanya jalan-jalan. Beginikah caramu menakut- nakuti aku, Mas? Kamu bawa ayah supaya aku mencemaskannya karena beliau ada bersama denganmu? bahkan sekarang pun aku nggak tahu dia ada di mana, sedang apa, dan apakah dia baik- baik saja?” Bia mengulum senyum getir. Keberaniaannya untuk bicara akhirnya tumbuh meski sebenarnya jantungnya terasa kebas. “Aku semakin merasa asing padamu!”


Bustan melangkah mendekati Bia. Ia membungkuk, kedua tangannya menapak di sisi kiri dan kanan kursi Bia. Membuat jarak pandang mereka mengikis. Tatapan mata keduanya beradu. Sorot mata itu tajam.


“Aku hanya butuh rahim mu, Bia. Aku membutuhkannya.” Bustan mengelus permukaan perut Bia.


Ya Allah… Bia sudah terlanjur menyerahkan keperawanannya kepada Bustan. Bia kalah selangkah. Entah beberapa kali Bustan melakukan terhadapnya malam itu. bahkan Bia melakukannya dengan paduan yang penuh cinta. Ia menyerahkan segenap jiwa dan raga seutuhnya. Kini, cinta itu berbaur dengan benci. Ya, benci dan cinta dirasakan secara bersamaan.


Rasanya tidak adil. Bia menyerahkan jiwa dan raganya karena cinta, namun pria itu mengambil keperawanannya karena hal lain.


Elusan tangan Bustan di permukaan perutnya membuatnya merasa kesal, namun juga kulitnya meremang. Ada gairah dan hasrat di balik semua itu.


“Kamu bingung akan mewariskan kemana hartamu itu jika nggak punya keturunan. Kamu juga malu dicecar banyak orang tentang anak. Ya, kan?” bisik Bia.


Bustan tidak menjawab. Ia mengecupi pipi Bia. Kedua tangannya memeluk Bia dan mengelus punggung wanita itu.


“Lepas!” Bia memberontak, bangkit berdiri menjauh dari Bustan.


Dengan sigap Bustan, menarik lengan Bia. Mencengkeram erat lengan itu. pria dingin bak gunung everest itu menatap tajam Bia. Tubuh Bia seketika tertarik dan berbalik lalu menubruk tubuh Bustan ketika tarikan tangan Bustan menyentaknya.


“Aku sedang membutuhkanmu!” Suara Bustan terdengar datar.


Bia menghela napas. “Aku tidak.”


“Kau tau kan kalau menolak suami itu dosa?” Bustan mendominasi.


“O ya? Mengancam istri juga dosa.”


Bustan tak peduli dengan perkataan Bia. Ia mengangkat tubuh kecil itu dan melangkah mundur duduk di sofa. Memposisikan tubuh Bia duduk di atasnya dengan kedua paha Bia yang mengalung di pinggang Bustan.


Saat Bia mendorong dada Bustan hendak kabur, Bustan dengan cepat melingkarkan satu lengan kokohnya ke pinggang Bia.  Tubuh mungil itu pun terseret maju dan permukaannya menempel di dada bidang Bustan.


Wajah keduanya tanpa jarak.  Napas Bustan terasa hangat menampar pipi Bia.


Satu tangan Bustan memegang kepala belakang Bia lalu pria itu mendaratkan ciuman di bibir istrinya.


Satu hal yang tak bisa dipungkiri dalam diri Bia.  Saat bibir lembut Bustan menyentuhnya, ia merasa sesuatu yang mendamba.  Bagaimana tidak?  Rasa cinta itu masih terasa kuat.  Namun kebenciannya juga memuncak.  Semuanya beradu.  


Bahkan saat Bustan menyentuh milik Bia, kehangatan dalam tubuh Bia menyambar- nyambar begitu saja.  Rasa itu tak bisa dihindari. 

__ADS_1


Dan kini...


Baca kelanjutannya di GOODDREAMER dengan judul Godaan Istri Kedua. ingat, namanya Gooddreamer ya, lihat tulisannya digabung, jangan dipisah. lambang bulan dan bintang. warnanya ungu kuning. Siapin tisu untuk baca. Ini novel terbaik diantara karya Emma Shu lainnya.


__ADS_2