
"Kenapa kamu bisa ada di kamarku? Bukannya abah pasti kunciin kamu di kamar ya?" tanya Aiza heran.
"Di balik kecerdikan abah, menantunya jauh lebih cerdas. Aku punya duplikat kuncinya." Akhmar menunjukkan kunci yang baru saja dia ambil dari kantong celana. "Tadi pas abah ngajakin aku ke lokasi pembangunan pondok, aku ambil kunci yang ditarok di laci mobil abah, lalu cepat- cepat menduplikatnya. Mudah kan?"
Aiza tertawa dan menjepit ujung hidung Akhmar.
"Trus sekarang mau ngapain ke kamarku?" tanya Aiza.
"Bobok sama kamu."
"Bobok di sini?"
"Iya."
"Tapi sebelum subuh besok, kamu harus udah pindah kamar," celetuk Aiza.
"Iya."
Akhmar menggendong tubuh Aiza ke kasur. Inilah saatnya ia menyirami istrinya, beginilah rasanya saat merasa masih menjadi pengantin baru. Bawaannya ngegas terus.
__ADS_1
"Bukannya tadi udah nganu?" tanya Aiza begitu polos. Akhmar hanya mengulum senyum. Yang penting maju terus. Inilah yang akan membawa rumah tangga mereka terjerat oleh ikatan cinta yang semakin kuat.
Mereka saling memadu kasih, saling berinteraksi memberikan sensasi indah dengan seirama. Tak peduli peluh membasuh kulit, namun tetap saja semua berjalan dengan indah. Bahkan Ac dengan temperatur rendah pun tak mempan.
Mereka mandi berdua, benar- benar menikmati kebersamaan itu dengan penuh cinta. Saling memeluk, saling gosok dan tak henti mengecup satu sama lain.
Akhmar memilih untuk tidur bersama dengan Aiza di kamar itu. Lalu satu jam sebelum subuh, Akhmar dibangunkan oleh Aiza dan disuruh pindah kamar. Tak apalah untuk sementara kucing- kucingan begini, yang penting Akhmar sudan mendapat jatah. Semalaman suntuk berpelukan dengan istrinya.
Saat Ismail membuka kunci pintu kamar Akhmar jam tujuh pagi, Akhmar tampak bugar dan bahagia, wajahnya berseri. Tidak seperti pria selayaknya yang seharusnya loyo dan pucat akibat tidak mendapatkan pemuas batin.
Bahkan Akhmar tetap mengerjakan pekerjaan dapur, membantu Aiza mengerjakan kegiatan rumah. Kali ini mengepel lantai rumah yang luasnya lumayan bisa bikin betis gempor.
Aiza melewati ruangan tempat dimana Akhmar tengah mengepel sambil membawa sekeranjang pakaian yang sudah kering dan siap disetrika.
“Pst… nanti malam ya!” bisik Akhmar tepat saat Aiza melewatinya.
Wanita itu tersenyum sambil geleng- geleng kepala.
“Kenapa itu bisik- bisik?” tanya Ismail seperti seorang pengawas.
__ADS_1
“Abah lebih baik nggak dengar, sebab kalau dengar, aku khawatir dengan kondisi kesehatan abah.” Akhmar tertawa kecil. Mantu durhaka! Hadeh!
Tatapan mata Ismail tampak horor. Perkataan Ahar telah menyinggung berat.
“Ini tehnya!” Qanita meletakkan segelas teh ke meja hadapan suaminya.
Ismail meneguk teh itu.
“Mas, Akhmar kan sudah menunjukkan sikap positif, sama sekali nggak ada celah cacat dari perilakunya selama di rumah. Dia juga terlihat baik memperlakukan Aiza. Lihatlah, bagaimana Akhmar begitu memuliakan wanita dengan caranya. Aiza dan Akhmar kelihatan bahagia dan dekat sekarang ini. Artinya Akhmar sudah lulus ujian. Dia adalah menantu yang baik,” jelas Qanita.
“Belum lulus. Dia itu bersikap begitu saat di hadapan kita saja, tapi dia nggak akan melakukannya saat berada di belakang kita,” celetuk Ismail sinis.
“Nggak boleh suudzon. Itu hanya akan melunturkan amal kita.”
Ismail tak mau menanggapi lagi. Pandangannya kembali fokus ke hape.
***
Bersambung
__ADS_1