Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Di Kamar Aiza


__ADS_3

Dan siang itu, Akhmar juga mengambilkan Aiza makan dan mengantarnya ke kamar saat jam makan tiba.  Padahal Aiza masih belum berminat untuk makan, tapi pria itu malah bersikap demikian.  


Tentu saja Akhmar melakukannya tanpa sepengetahuan Ismail, kalau ia ketahuan masuk kamar Aiza, ia bisa disunat papak.  Kan kacau.


"Abah pasti marah kalau tau kamu ada di sini."  Aiza yang tengah fokus pada layar laptop, terkejut melihat Akhmar memasuki kamarnya.


"Abah udah pergi. Tenang aja ya!" Akhmar tampak santai.


"Oh..." Aiza lega.  “Tapi kan aku bisa ambil makan sendiri ke ruang makan, nggak perlu dianter begini!”


Akhmar hanya diam dengan kedua tangan masuk ke kantong celana.  Ia sedang berusaha mengambil hati istrinya, inilah perjuangannya.  Wanita itu istimewa, jadi harus diperlakukan istimewa pula.


“Suamimu udah capek- capek ngambil, masak dianggurin?”  Akhmar menyeletuk.


“Iya iya.  Aku makan!”  Aiza duduk dan mulai menyantap makanan itu.  “Kamu kan nggak boleh masuk kamar ini smaa abah.  Gimana kalau sampai ketahuan abah?  Bisa- bisa abah ngamuk?”

__ADS_1


“Emangnya dosa ya masuk kamar istri sendiri?  Tunjukkan satu dalil yang mengatakan bahwa suami mendatangi kamar istri itu dosa dan wajib mendapat hukuman.”


Aiza menampilkan ekspresi datar.  


“Justru itu amalnya besar loh.”  Akhmar mengangkat alis.


“Ini bukan masalah amal dan dosa.  Tapi sekarang ini kita sedang mencari keridhaan abah.  Juga restu dari dia.  seenggaknya kita nggak melakukan apa pun yang membuatnya marah.  udah, cukup itu aja.”


“Tapi semua yang aku lakukan selalu salah di mata abah.  Benar pun tetap salah.”  Akhmar tersenyum simpul mengenang sikap Ismail yang menggemaskan.  Suka ngomel dan marah- marah terus terhadapnya.  


Bukan itu saja, Ismail juga sempat membuang bajunya ke tong sampah sesaat setelah menanyai Qanita siapa yang mencuci bajunya, dan jawabannya adalah Akhmar.  Sedangkan yang menyetrika baju adalah Qanita.


Kata Ismail, bajunya masih bau.  Padahal wanginya sudah melebihi parfum ala Sidney.  Hadeeeeh.  Pokoknya mertuanya itu menggemaskan sekali.  


Namun Akhmar menghadapinya dengan tenang.  Anggap angin lalu.  Ia mengerti bahwa mertuanya itu masih menyimpan dendam akibat sepatu terbang waktu itu.  akhmar sering kali menyumbat telinganya dengan headsetdan mendengarkan murotal saat Ismail mengomel panjang lebar.  Alhasil ia tidak mendengar apa saja yang diucapkan oleh Ismail.

__ADS_1


Aiza terkekeh mendengar pengakuan Akhmar.  Ia sengaja tertawa untuk merenyahkan situasi.


“Makanya, kalau abah ngomel jangan didengerin,” ucap Aiza.


“Ya, aku jarang mendengarkan omelan abah.”


Pembicaraan dijeda.  Aiza fokus mengunyah makanannya.


Akhmar mengawasi setiap gerakan mulut Aiza yang mengunyah makanan.  Seksi sekali.


“O ya, abah bener- bener marah besar sama kak Zahra.  Sampai- sampai abah nggak mau lagi menerima Kak Zahra di rumah ini, dia menganggap Kak Zahra bukan anaknya.”  Aiza kembali membuak pembicaraan.  “Tapi aku nggak mau begitu.  Kesalahan Kak Zahra memang fatal, sama halnya seperti pecundang yang lari dari tanggung jawab.  Tapi walau bagaiman pun dia itu tetap kakakku.  Aku harus menemukannya.  Aku ingin mencari keberadaannya,” ucap Aiza.


Akhmar menarik kursi, mendekatkannya ke arah Aiza.  Ia duduk dengan posisi terbalik, posisinya menghadap ke arah sandaran kursi, menjadikan benda itu untuk barang pelukannya.


“Kamu tahu kan kalau Kak Zahra itu sudah dewasa?  Dia juga hidup dengan pendidikan agama yang baik.  Bekal agamanya bagus.  Dia sudah bisa membedakan mana yang halal dan haram.  Dia bisa membedakan mana yang hak dan bathil.  Harusnya dia tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah,” ucap Akhmar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2