Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Dikibulin


__ADS_3

"Apa yang Mas Aldan lakukan di sini?" tanya Akhmar. "Tertarik dengan desain Nayla?"


"Oh... Kamu salah. Justru aku ke sini karena komplen. Pakaian yang dirancang eh Nayla sedikit berbeda dengan desain gambarnya. Ini nggak cocok." Muka Aldan tiba- tiba tampak sedikit frustasi dengan pandangan tertuju pada kertas di tangannya. 


Muka Nayla sedikit ditekuk mendengar pwngakuan Aldan. "Maaf, itu kemarin memang terjadi kesalahan. Tapi bisa aku rombak dan disesuaikan gambar. Duuh.." Nayla menepuk keningnya sendiri.


"Pakaian yang aku pesan darimu adalah untuk meeting di kelas internasional. Bahkan udah nggak ada waktu lagi untuk menunggu, kupikir pakaian itu nggak perlu aku ambil, tapi aku akan tetap membayarnya. Dan memang sudah aku transfer semuanya."


"Jangan begitu Mas Aldan, kan Mas Aldan bisa pakai bajunya untuk acara lain, jadi Mas Ambil aja bajunya kalau udah selesai dirombak nanti," ucap Nayla dengan kecewa.


Aldan menggeleng. "Makasih."


Tak ada yang mau ikut campur dalam urusan antara Aldan dan Nayla. Akhmar hanya diam,.demikian pula Aiza yang hanya diam menyaksikan. Ia yakin Nayla pasti bisa menyelesaikan masalahnya, mereka kan sudah dewasa.


Pandangan Aldan kemudian tertuju ke arah Akhmar. "Mas duluan?" Ia menepuk lengan Akhmar penuh kasih sayang kemudian melangkah pergi.


"Duh, kamu gimana sih Nay? Kok bisa bermasalah begitu?" tanya Aiza menyesalkan kejadian itu.


"Inilah yang aku nggak tau, batu kali ini loh kejadian begini. Memang aku yang salah. Maklumlah, aku belum benar- benar profesional dalam bidang ini.  Mas Aldan pasti kecewa banget." Nayla menghela napas.


"Yaps, jangan terlalu berkecil hati. Kamu itu selalu oke dlaam hal ini, dan baru kali ini melakukan kesalahan. Namanya juga manusia nggak ada yang sempurna. Jadikan ini sebagai cambuk untuk lebih baik ke depannya."

__ADS_1


Nayla tersenyum nyengir. "Tapi kan aku jadi kehilangan satu pelanggan."


"Hilang satu, tumbuh berganti. So happy, okey?" Aiza menyemangati.


"Ya udah, sekarang aku tunjukkan baju pesanan Akhmar. Ayo!" Nayla mengajak masuk ke ruangan lain.


***


Setelah urusan pakaian selesai, Akhmar mengajak Aiza ke kafe untuk makan malam. Ia menghentikan mobil tepat di depan kafe.


Mereka turun.


"Aku udah laper banget ini," ucap Aiza dengan langkah terburu- buru menuju ke kafe.


"Aduh!" Aiza menjerit kecil, gara- gara terburu- buru, malah tersandung dan akhirnya terjatuh.


Akhmar segera mendekati Aiza. Meraih lengan wanita itu dengan posisi seperti merangkul dari belakang. "Ayo, kubantu!"


Posisi lengan kekar Akhmar yang melingkar dari belakang mengalirkan sesuatu yang hangat di sekujur tubuh Aiza. Berasa seperti disetrum cantik.


Akhmar membantu Aiza bangkit berdiri. Tapi karena kaki Aiza keseleo, wanita itu merintih saat menapakkan kaki hendak jalan. Ternyata pergelangan kakinya sakit sekali. 

__ADS_1


Akhmar malah tersenyum melihat istrinya merintih kesakitan, beberapa kali mengaduh.


Aiza menatap wajah Akhmar yang berada di dekat wajahnya dengan tatapan heran. "Kok, malah diketawain?"


"Kamu makin cantik kalau aduh aduh begitu!" Akhmar mulai menggoda istrinya.


"Apaan sih? Jangan aneh aneh deh, ini sakit beneran."


"Yang bilang main- main juga siapa?" ucap Akhmar sambil mengulum senyum. "Ya udah, aku papah aja ya!"


Belum sempat melangkah, hape Aiza berdering. "Tunggu bentar!" 


Aiza mengangkat telepon dari abahnya.


"Assalamualaikum, Abah! Ada apa, abah?"


"Kamu di mana? Kenapa sudah malam begini belum pulang?"


"Di kafe. Mau makan malam, abah."


"Ya sudah, setelah itu cepat pulang ya!"

__ADS_1


Ismail tidak tahu jika Aiza sekarang sedang bersama dengan Akhmar. Setahunya, Akhmar bekerja. Sedangkan Aiza menghabiskan waktu dengan melakukan apa saja sesuai kesenangannya.


Bersambung


__ADS_2