Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Bertemu Zahra


__ADS_3

Langkah Aiza semakin memelan saat mendekati sosok yang duduk di sebuah ruangan sendirian. Kursi tanpa sandaran itu menopang tubuh di atasnya yang berbalut gamis sederhana kisaran harga delapan puluh ribuan yang bisa dibeli di pasar rakyat.


"Kak Zahra!" panggil Aiza lirih, tanpa senyum. Ada banyak rasa yang berkecamuk dalam benaknya, sulit dipisahkan, membuatnya memasang wajah kaku sekarang. Ia hanya masuk sendirian, tanpa Akhmar. Suaminya itu menunggu di luar.


Zahra menatap Aiza dengan pandangan gusar, antara bingung dan serba salah.


"Aiza!" Zahra bangkit berdiri, enggan hendak memeluk adiknya, ia sadar sudah melakukan kesalahan yang mungkin saja memberikan nama cemar di keluarganya. Melihat ekspresi wajah Aiza yang datar, Zahra langsung tahu apa yang dirasakan adiknya. "Aiza, kamu marah sama kakak?"


Aiza diam, hanya menatap kakaknya tanpa sepatah kata pun.


"Aiza, kakak sadar udah melakukan kesalahan dengan lari dari masalah. Lari dari tanggung jawab," ucap Zahra dengan penyesalan. "Kamu marah karena kakak udah bikin malu keluarga kan? Bahkan disaat kamu baru aja pulang dari negeri orang. Seharusnya situasi kebersamaan serta cengkrama hangat yang tercipta di kepulanganmu setelah sekian lama kita nggak bertemu. Tapi kakak malah membuat masalah besar yang pasti sulit untuk dimaafkan." Zahra menunduk, merasa sangat bersalah.


Di dalam benak Aiza saat ini sudah sangat sesak dipenuhi oleh kata- kata yang berjubel, saking banyaknya kata- kata, sampai tak satu pun yang terlontar keluar.

__ADS_1


"Aiza, katakan sesuatu!" lirih Zahra dengan tatapan sendu.


"Aiza begini bukan karena kakak menjadi penyebab keluarga kita menanggung malu, tapi karena efek dari maslaah yang kakak timbulkan itu bertubi- tubi jadinya." Aiza ankhirnya angkat bicara.


"Abah dan umi menanggung malu jika sampai kak Zahra kabur dan meninggalkan perjodohan yang sebelumnya udah kakak sanggupi, lalu Aiza yang menjadi sasaran setelah itu. Aiza yang harus menggantikan kakak," ucap Aiza yang membuat Zahra sontak terkejut hebat.


Aiza kemudian menceritakan semua masalah yang telah terjadi setelah kepergian Zahra. Aiza benar- benar dalam kesulitan, ia sendirian waktu itu. Tanpa dukungan siapa pun. Semua masalah timbul hanya karena ulah Zahra, dan Aiza- lah yang harus menanggungnya.


"Ya Allah... Aiza, kakak sama sekali nggak pernah berpikir ke situ. Kakak nggak tau kalau akhirnya masalah akan sepelik itu. Kakak mengira, saat kakak kabur, maka masalah akan selesai. Dan perjodohan pun batal, tapi ternyata kejadiannya benar- benar di luar dugaan," ungkap Zahra.


"Aiza, maafin kakak. Kakak nggak bermaksud membuat kamu menanggung semua ini, kakak nggak bermaksud memindahkan beban kakak ke kamu. Kakak benar- benar takut dan bingung saat itu."


"Lalu, dimanan Adnan sekarang?" tanya Aiza.

__ADS_1


"Kakak tinggal di kos- an ini sendirian. Kos-an ini hanya terdiri dari kamar dan kamar mandi doang. Adnan tinggal di komplek perumahan lain," jawab Zahra.


Kamar kos itu memang sempit, begitu pintu dibuka, maka akan langsung menghubungkan ke kamar yang berisi kasur dan lemari.


"Maafin kakak, Aiza. Sungguh, kakak nggak bermaksud begini," ucap Zahra penuh penyesalan.


Aiza mendekati Zahra. Menatap iba pada wajah yang mulai terlihat tirus karena agak kurus. Pasti Zahra kwsulitan mencari makan. Dia tidak punya banyak stok uang untuk menghidupi dirinya sendiri. 


"Kakak nggak kerja? Lalu dapet uang dari mana?" tanya Aiza yang meyakini kakaknya itu kesulitan makan.


"Kakak belum bekerja. Perusahaan mana pun menolak lamaran kakak. Kartu kartu kakak ditolak semua sama bank. Dan... Hanya Adnan yang selalu kirim makanan ke sini. Atau sekedar kasih kakak uang walau hanya sedikit. Adnan juga kesulitan mencari pekerjaan karena nggak membawa keperluan lengkap surat- surat untuk melamar kerja. Dia hanya bekerja serabutan aja. Ini mungkin hukuman karena kakak udah bikin malu orang tua." Zahra berkata dengan lirih. "Kamu boleh marah sama kakak, dek. Silakan."


Aiza sebenarnya memang ingin marah, tapi istighfar di hati telah mampu membuat hatinya luluh dan sabar. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2