Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Pulang Kembali


__ADS_3

"Ah, udahlah. Kamu nggak usah pikirkan masalah ini. Biar aku yang cari tau siapa dia," ucap Akhmar.


"Bukannya lebih baik kita cuekin aja? Lama- lama pasti dia bosen sendiri. Kalau kita malah kepancing dan merasa terusik, orang itu pasti di atas angin karena merasa berhasil neror kita. Sebaiknya seperti yang kamu katakan tadi, supaya kita jangan terpancing sama teror orang itu. Cuekin aja. Dia pasti kebakaran jenggot sendiri kalau dicuekin," ucap Aiza yang resah bila terjadi apa- apa pada suaminya.


Akhmar hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu.


Mobil sudah berhenti di depan rumah megah, tak lain rumah Akhmar yang di dalam sana ada Aldan dan Adam. 


Mereka masih berdiam di mobil menatap rumah megah itu.


"Kamu yakin bawa aku ke sini? Gimana sama perasaan Mas Aldan saat lihat kamu bersamaku?" Aiza ragu.


"Kamu tenang, Mas Aldan itu nggak jauh beda seperti guruku di Yogya, dia mengamalkan dan mencontohkan ilmu agama yang dia miliki. Dia beradab dan berakhlak. Dia udah ikhlas. Dan itu bukan dusta." Akhmar meyakinkan.


"Memang Mas Aldan itu lapang dada, tapi ikhlas itu nggak hanya dari lisan tapi juga zahirnya. Aku takut kita akan menyakiti Mas Aldan saat dia melihat kita bersama." Aiza tak enak hati.


Akhmar tersenyum dan mengusap lengan istrinya lembut. "Jangan cemas, orang cerdas seperti Mas Aldan akan mampu dan mengerti menempatkan hatinya. Aku jauh lebih mengenal Mas Aldan. Percayalah! Dia sudah bisa memahami setelah aku menunjukkan bukti yang sebenarnya."

__ADS_1


Aiza akhirnya mengangguk.


"Ya udah, ayo turun!" Akhmar menuruni mobil diikuti oleh Aiza. 


Mereka memasuki rumah dengan langkah gontai. Aiza sengaja menjaga jarak dari Akhmar supaya tidak kelihatan mesra.


"Assalamualaikum.." Aiza mengucap salam sesaat setelah Akhmar mendorong pintu dan masuk rumah.


Sepi.


"Mereka nggak ada di rumah mungkin," celetuk Aiza.


“Loh, kau kemari membawa istrimu ya?”  Desi yang baru saja muncul itu terkejut melihat kedatangan Akhmar bersama dengan Aiza.


Mendengar suara Desi, Akhmar memutar mata.  Jengah.  Dalam hati, ia berusaha menenangkan diri supaya kursi di dekatnya tidak terbang melayang.  Entah kenapa Akhmar jengah sekali menatap wanita itu.


“Apakah ayah dan kakakmu akan mengizinkan kalian bertamu di sini?” tanya Desi dengan suara datar.  Ia menenteng sebuah tas untuk belanja.  

__ADS_1


“Tolong untuk tidak terlalu banyak mencampuri urusan kami, Tante.”  Akhmar menggandeng Aysa dan melewati Desi begitu saja.


Lagian kenapa Tante Desi ada di rumah itu terus? Ingin mengusir wanita itu karena tidak ada hak, tapi takut dosa.


Desi tak peduli, ia melenggang pergi hendak ke mall.


Tak lama Aldan tampak melenggang gontai menuruni anak tangga, pria yang wajahnya bak duplikat Akhmar itu mengenakan piyama tidur. Tampak santai sekali.


"Hai... Akhmar!" Aldan tampak sumringah melihat kedatangan adiknya. Senyum mengembang lebar. Ia langsung menghambur memeluk Akhmar sebentar sambil menepuk- nepuk punggung adiknya itu, menunjukkan rasa kangen.


"Apa kabarmu? Rasanya seperti audah sebulanan kita nggak ketemu." Aldan menatap wajah Akhmar dengan girang. Lalu menoleh menatap Aiza. "Aiza, bagaimana kabar kalian? Semuanya baik?" 


Aiza tersenyum seperlunya. "Alhamdulillah, baik."


"Ayo, kita makan malam bersama. Kebetulan Mas dan papa belum makan malam. Tadi papa masak tumis kangkung sama ayam krispi disaosin. Tapi bukan sembarangan ayam, soalnya ayam kampung," celoteh Aldan.


Tak ada gambaran kesedihan di wajah itu, ia terlihat baik- baik saja. Bahkan malah gembira.

__ADS_1


"Pa! Papa, ayo kemari! Lihat siapa yang datang!" seru Aldan sambil mendongak ke atas.


Bersambung


__ADS_2