Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Sakit


__ADS_3

Akhmar tahu dimana warung tujuan Aiza.  Kemungkinan wanita itu mendatangi warung tak jauh dari rumah.  Di sana biasanya Akhmar berbelanja.  Tapi saat melintasi warung itu, tak ada Aiza di sana.  Akhmar langsung menuju ke rumah.  Berpapasan dengan Belor di pintu masuk.


“Itu Mas, Mbak Aiza keserempet motor.  Kakinya berdarah!” ucap Belor sambil menunjuk ke arah dalam rumah.  “Kasian iiih.  Sampai begitu lukanya.”  Belor bergidik ngeri semacam melihat ular kadut.


Akhmar mengangguk dan langsung masuk.  “Aiza!”  


Tampak olehnya Aiza duduk di sofa sambil meringis menatap luka di lututnya.  Celananya sampai sobek akibat tergores cukup keras dari arah luar.  Darah segar mencuat dari permukaan luka, menetes- netes dengan derasnya akibat luka goresan yang cukup dalam dan lebar.


“Adududuuh…  Fiuuuh… Fiuuh…” aiza meniup- niup luka itu.


“Bagaimana bisa sampai begini?” Akhmar jongkok di hadapan Aiza sesaat setelah mengambil kotak obat.  Ia tidak terlihat panik, tetap tenang.


“Diserempet motor tadi.  Ya Allah, sakit banget.  Perih.”  Aiza tanpa sadar menangis.  Air matanya menetes merasakan betapa perih luka di lututnya.  Bahkan tulang putihnya pun sampai kelihatan akibat daging di tubuhnya terkoyak.


Preeet!


Akhmar merobek celana Aiza hingga menyisakan celana bagian lutut ke atas saja.


Aiza terkejut.  “Loh, kok dirobek?” 


“Aku akan mengobati lukamu.”


“Jangan di sini!”


“Kenapa?”  Akhmar mengernyit heran.


“Lihat ii! kamu merobek celanaku, betisku kelihatan.  Kita nggak Cuma berdua di rumah ini.  ada papa dan Mas Aldan juga kan?  Kalau mereka lihat aku dalam keadaan begini, gimana?” Aiza tampak risih sekali dalam kondisi betisnya yang putihdan jenjang itu terekspos.  Dia jelas terlihat tak terbiasa dengan hal itu.  malu sekali.


“Oke, kita ke kamar!”  Akhmar mengangkat tubuh Aiza, menggendongnya menuju ke kamar.  

__ADS_1


Akhmar berpapasan dengan Desi di dekat anak tangga, wanita itu sedikit menghalangi langkah Akhmar hingga Akhmar terpaksa berhenti sebentar.


“Kalau istrimu itu sakit, bawa saja ke dokter.  Jangan manja!” Desi bersungut, menatap sinis ke arah Akhmar dan Aiza.


Tak mau peduli dengan ucapan Desi, Akhmar berkata, “Minggir, Tan!  Aku mau lewat!  Bebanku berat ini!”


Desi pun minggir.


Segera Akhmar melewati Desi dan membawa Aiza ke kamar.  Menutup pintu dengan menggunakan satu kali sentakan kaki.  Ia mendudukkan Aiza di kursi.


“Duuuh… Sakit banget.  Perih ini.”  Aiza sesenggukan, merasakan betapa ngilu dan nyeri pada tulang lututnya.  Rasanya tempurung lututnya seperti mau copot.  Ngilu sampai ke ubun- ubun.


Andai saja dalam situasi normal, Akhmar akan tersenyum melihat Aiza yang merintih begini, dia terlihat seksi saat merintih.  Sayangnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk melempar senyum.  Bisa- bisa Aiza malah ngambek kalau Akhmar ketawa ketiwi di depan Aiza yang sedang merintih- rintih begini.


“Tahan ya!” ucap Akhmar sambil mengelap darah yang mengucur di lutut Aiza menggunakan kain kasa.


“Awwh… sakiiit.  Perih banget.”  Aiza menjauhkan kakinya dari tangan Akhmar.  “Enggak!  Enggak mau diapa- apain.  Kena senggol dikit aja sakit.  Aduuuh…”


“Kamu kasar banget.  Sakit jadinya.”


Akhmar terkesiap.  Kok dibilang kasar?  Bukannya tadi udah lembut banget?  Malahan saking lembutnya, tangannya sampai gemulai saat mengelap darah di lutut Aiza.


“Oke, aku akan pelan- pelan!”  Akhmar kembali mengelap luka itu dengan sangat pelan.


“Sakit kalau tersentuh.”  Aiza makin sesenggukan.


Darah masih terus mengucur.


“Kita ke dokter aja.  Mereka pasti akan dengan mudah menangani ini,” bujuk Akhmar yang tak tega melakukan pengobatan itu.

__ADS_1


“Nggak mau!  Biar aja kayak gini!”


“Lukamu akan lambat sembuh kalau dibiarkan begini!”


Aiza tampak berpikir.  Ia lalu mendekatkan lututnya ke arah Akhmar.  “Ya udah!”


“Ya udah gimana maksudnya?”


“Ya udah, obatin sekarang!”  Tangis Aiza sudah lenyap.


“Oke.  Tahan ya sayang!”


Seharusnya Aiza menikmati panggilan sayang yang diucapkan oleh Akhmar.  Jarang- jarang Akhmar memanggilnya sayang begitu.  Tapi sayangnya ia sama sekali tidak menikmati keadaan, sehingga ia hampir tak menyadari panggilan sayang yang dilontarkan Akhmar.


Akhmar menekan kain kasa ke luka yang memang cukup dalam, menahan supaya darahnya tidak terus mengucur.


Aiza meringis menahan sakit.  


Setelah itu, Akhmar memberikan obat merah di luka itu dan menutupnya dengan kain kasa.


“Jangan dengarkan omongan tante Desi ya?  Dia itu memang sedikit cerewet dan nyinyir, soalnya sudah lama menjanda.  Dia itu adiknya mamaku,” jelas Akhmar.


“Apa kaitannya nyinyir dengan lama menjanda?”  Aiza tersenyum menatap wajah datar suaminya.


Akhmar hanya mengangkat alis.  Tak mau menanggapi perkatan Aiza.


 


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2