
Tak lama Adam muncul, pria paruh baya yang tubuhnya masih tampak bugar itu tersenyum lalu turun ke lantai bawah.
"Akhmar, Aiza, kalian baru datang?" tanya Adam.
"Ya, Pa! Aku dan Aiza baru aja datang," jawab Akhmar.
"Kita makan bersama saja, bagaimana?" tawar Adam. "Ayo, ke ruang makan. Papa masak enak tadi."
Aiza mengikuti ketiga pria itu dengan rasa syukur yang tak henti terpatri di benaknya. Alhamdulillah, Adam dan Aldan menyambut dengan baik.
Mereka semua duduk melingkar di meja makan.
Akhmar mengambilkan lauk untuk Aiza. Sedangkan Aldan mengambilkan nasi dan lauk untuk Adam.
"Pa, maksud kedatanganku kemari bukan untuk sekedar berkunjung. Tapi aku ingin mengajak Aiza tinggal di sini," ucap Akhmar meminta ijin.
Adam menatap Aldan.
Melihat arah tatapan papanya, Akhmar langsung tahu kemana arah ijin yang seharusnya ia sampaikan.
"Mas Aldan, bagaimana menurutmu? Apakah Mas ridha kalau aku fan Aiza tinggal di sini?" tanya Akhmar menatap kakaknya serius.
"Loh, kok tanya sama Mas? Tanyanya sama papa, dong. Kalau Mas sih nggak masalah. Justru Mas seneng banget kita bisa kumpul lagi. Masa- masa seperti inilah yang Mas tunggu- tunggu sejak dulu. Yaitu kita kumpul bersama. Ini kan rumah kamu juga, jangan beranggapan seperti orang asing," jawab Aldan dengan senyum simpul. Ia lalu menatap ke arah Aiza. "Dan Aiza, semoga kamu betah tinggal di sini."
__ADS_1
Aiza mengangguk. "Insyaa Allah."
"O ya, ini kalian memutuskan untuk tinggal di sini bukan karena masalah apa pun kan? Ini atas kehendak kalian kan?" tanya Aldan.
"Intinya, aku nggak diterima menjadi menantu abah Ismail karena abah Ismail hanya mengharapakan Mas Aldan yang menjadi menantunya. Aku hanyalah suami pengganti. Penilaian abah Ismail terhadapku jauh berbanding terbalik dengan penilaiannya terhadap Mas," jelas Akhmar tanpa ingin menutup- nutupi.
"Benarkah begitu?" Aaldan ingin meyakinkan.
"Nggak perlu aku menutupi ini, dan memang aku jauh jika dibandingkan dengan Mas Aldan. Tapi bukan begini caranya kan?" ucap Akhmar dengan nada lembut.
"Kalau begitu, biar Mas menemui Pak Ismail untuk menjelaskan dan meluruskan hal ini."
"Nggak usah, Mas. Aku hanya merasa nggak nyaman dengan penilaian Abah Ismail yang terus nggak terima karena aku dianggap hanya sebatas menantu pengganti. Nggak ada bedanya dengan Aiza yang juga menjadi pengantin pengganti di hari pernikahan itu. Kami sama- sama menggantikan orang yang seharusnya duduk di pelaminan. Seharusnya ini nggak dipermasalahkan." Akhmar meletakkan sendok, kemudian meneguk minum.
"Apa? Aiza adalah pengantin pengganti? Apa itu benar?" Aldan mengawasi wajah Aiza.
Aldan menghela napas.
"Berhubung Mas Aldan udah mendengar masalah ini, sebaiknya aku menjelaskannya. Mas Aldan awalnya dijodohkan dengan Kakakku Zahra, tapi dia kabur sebelum lamaran dilangsungkan. Aku hanya berusaha menutupi aib ini," sambung Aiza.
"Ya Allah, jadi kalian ini sama- sama menjadi pengganti?" Aldan menatap Akhmar dan Aiza silih berganti. "Tuhan sudah menjodohkan kalian. Dan memang aku bukanlah jodohnya Aiza. Ini sudah menjadi jalan hidup kalian. Aiza, Akhmar, kalian adalah sepasang suami istri, teguhkanlah ikatan suci pernikahan kalian, ujian dalam rumah tangga nggak hanya itu itu saja. Makin kuat ujian itu, artinya kalian menjadi manusia pilihan yang dianggap mampu melewatinya. Kalian harus saling menjaga." Aldan berpesan.
Akhmar hanya bisa terdiam, tak menyangka Aldan justru bersikap sedemikian rupa. Betapa dia mampu berbesar hati.
__ADS_1
"Tuhan nggak pernah salah dalam menetapkan jodoh, hanya manusianya aja yang terkadang keliru menghadapi kenyataan sehingga terkadang terjadi perceraian. Mas nggak mau itu sampai terjadi pada kalian," ucap Aldan. "Alhamdulillah... Sebagai pengantin pengganti, Aiza menemukan suami pengganti yang juga tepat."
"Sampai di sini, papa menyadari bahwa ini memang sudah garis Tuhan, ternyata Aiza begitu mulia dengan merelakan dirinya menjadi pengganti. Kalian Baik- baik, ya!" imbuh Adam.
Aiza dan Akhmar saling pandang.
"Makasih, papa!" balas Akhmar.
Betapa indah jalan Tuhan menyatukan dua hati itu, dengan awal yang buruk dan ujian bertubi- tubi, namun pada akhirnya Tuhan menyatukan cinta mereka dengan memberikan hikmah besar.
“O ya pa, kenapa Tante Desi tinggal di sini terus ya?” tanya Akhmar mengenang tantenya yang entah kenapa menetap di rumah itu.
“Ya,” jawab Adam sedikit memutar mata.
“Akhmar, tante Desi itu sekarang sudah menjadi mama kamu,” ucap Aldan sambil menepuk pundak Akhmar. Aldan sangat paham bahwa Akhmar tidak menyukai Desi sejak dulu, mereka tidakpernah bisa cocok.
Akhmar terkejut. Ia sampai tak bisa berkata- kata. Bagaimana mungkin Adam bisa menikahi wanita seperti Desi? Apakah stok wanita di dunia ini sudah menipis sampai- sampai Desi yang mesti dinikahi?
“Kau tidak tahu soal ini karena pernikahan Tante Desi dengan papa berlangsung ketika kau tidak di rumah.” Aldan merangkul pundak adiknya, berharap adiknya tidak kecewa.
Pada dasarnya, Adam menikahi Desi atas dasar banyak alas an yang menurutnya baik.
Akhmar melepas napas panjang. Ia tak bisa berkata apa- apa lagi. Semuanya sudah terjadi. Pun ia tak bisa marah karena memang Akhmar sadar pernikahan berlangsung ketika ia sedang kabur dari rumah, ia tidak punya hak bersuara. Lagi pula ayahnya punya hak untuk menentukan pilihan.
__ADS_1
***
Bersambung