
“Umi mengerti letak kepanikan, keresahan, juga kebingungan Akhmar menjalani pernikahan ini. tapi kan bukan begini caranya,” ucap Qanita lembut. Meski ia kecewa, namun tetap saja ia bicara dengan legowo. “Dia itu laki- laki. Harus menghadapi semua ini dengan baik.”
“Abah, Umi, marahin aja Akhmar kalau dia ke sini. Udah, gitu aja!” celetuk Aiza yang gemas karena tak tahu harus bicara apa.
“Memangnya masalah akan selesai setelah abah dan umi memarahinya?” ucap Qanita.
“Seenggaknya dia mendapat hukuman atas perlakunya. Entahlah, Umi. Aiza juga nggak tau bagaimana menyikapi masalah ini,” ucap Aiza. “Lah itu abahkan hobi tuh kalau ngamuk- ngamuk, abah bisa puas- puasin marahin Akhmar atau menghukum dia. dia kan udah jadi menantu abah!”
Ismail mengernyit. “Kamu pikir abah hobi ngamuk? Ini bukan hobi, tapi terdesak oleh situasi.” Pria paruh baya itu terbatuk.
Qanita menyodorkan air mineral yang langsung diteguk olehnya. Belum hilang rasa gatal di tenggorokan akibat terbatuk, keningnya malah kesambar sendok.
Plak!
__ADS_1
Sendok mendarat manis di keningnya.
Aiza membelalak. Sendok di tangannya terlepas dan malah melayang lalu berakhir di kening abahnya. Kualat nih. Jadi anak durhaka banget. Malah nimpuk orang tua apaki sendook. Tapi percayalah, Aiza nggak sengaja. Murni kecelakaan.
Dalam hitungan detik, kening si abah langsung membenjol agak kebiru- biruan.
Duuuh… itu pasti sakit banget deh.
Hantaman sendok benar- benar dahsyat.
Aiza meringis mengawasi kelereng lebam di kening abahnya. Ingin tertawa, tapi takut dosa. Aiza setia memegangi kompres dengan raut meras abersalah.
“Itu sendok dari mana asalnya kok bisa nyamber begitu,” kesal Ismail emosi. “Jidat bagus- bagus begini ditempeleng sendok. Halah, ada- ada aja.”
__ADS_1
Aiza mengulum senyum. Abahnya gokil juga. masak sih sendok bisa menempeleng. Aih, abah lucu.
“Sekarang kamu bisa lihat kan bagaimana Akhmar menghadapi situasi ini? Dia itu laki- laki nggak bertanggung jawab. Bisa- bisanya kabur di hari pernikahan. Kalian semua ini nggak ada yang beres. Udah benar kamu nikahnya sama Aldan, malah memilih tidur dengan Akhmar. Jadinya begini kan?” Ismail mengomel dengan raut menegang. “Sampai sekarang ponsel Akhmar pun nggak bisa dihubungi. Dasar buaya!”
“Sekali lagi abah, Aiza nggak akan pernah mengakui bahwa Aiza sengaja tidur bersama dengan Akhmar. Ini semua hanya kebetulan.” Aiza kemudian menceritakan semuanya, sama seperti ia menceritakannya kepada Nayla, bahwa ia pun tidak tahu kenapa tiba- tiba Akhmar sudah ada di sisinya saat ia terjaga.
“Ini murni kebetulan, Umi. Lagi pula, kalau Aiza dan Akhmar akan melakukan perzinahan, tentu kami nggak akan sebodoh itu. berbuat hal gila di hari pernikahan begini, bahkan menunjukkan hal itu di hadapan umum,” jelas Aiza meminta kepercayaan. “Entahlah, kalau abah dan umi nggak bisa mempercayai Aiza. Tapi percayalah, ketika semua mata menyaksikan fakta yang dapat membenarkan bahwa Aiza dan Akhmar melakukan zina, tapi Allah Maha Tahu. Allah menjadi saksi atas kejadian ini. Tidak ada sedikit pun kejadian yang khilaf dari kehendak Allah. Demikian juga kejadian ini, semua dalam pengawasan- Nya.”
Aiza menelan, menatap wajah abah dan uminya yang juga menatapnya dengan intens.
Bersambung
Klik like dulu sebelum next
__ADS_1