
"Ayolah, jangan terlalu serius!" Akhmar melempar kotak ke tong sampah dan memasukkan sepotong kain kafan itu ke dalam kantong celananya. Ia mengajak Aiza masuk ke rumah.
"Ini aku bawain obat buat kamu, semoga istriku cepat sembuh ya! Ngilu di lutut hilang dan jalannya nggak pincang lagi." Akhmar mengambilkan beberapa butir obat yang baru saja ia beli dari dokter beserta minum untuk Aiza. Dia taruh semua itu ke meja dimana Aiza duduk di kursi.
Aiza tersenyum dilayani suami begini. Kok, rasanya jadi tambah sayang sama Akhmar? Selain ganteng, baik, dia juga perhatian. Nggak nyangka, Akhmar bisa berubah seperti sekarang ini.
Kalau saja ia tengah berada di kamar, pasti ia sudah memeluk Akhmar dengan manja. Sayangnya mereka kini tengah berada di ruangan umum, sewaktu- waktu Aldan, Roni atau pun Adam bisa saja memergoki. Kan nggak lucu.
Akhmar menuju ke meja panjang, ia membuat kopi sachet panas lalu duduk di hadapan Aiza sambil meneguk minuman itu sedikit demi sedikit.
"Buat kopi sendiri nih? Nggak minta dibuatin istri?" Senyum aiza mengembang.
"Aku bisa membuatnya sendiri, kenapa harus ngerepotin kamu? Lagian kakimu sedang sakit. Bahaya kalau badanmu gerak terus, entar kakimu nggak sembuh- sembuh lagi. Kan malah aku yang repot nantinya." Akhmar lalu tergelak. "Nanti kalau kamu berminat buat bikinin aku minum, lakukan aja. Aku pasti minum."
Aiza hanya mengulum senyum saja. "O ya, Akhmar, aku jadi kepikiran umi sama abah nih. Umi pasti kesepian, anak- anaknya nggak ada yang nemenin. Padahal kan biasanya ada aku dan Kak Zahra. Sekarang, Kak Zahra nggak di rumah, kita juga nggak ada di samping umi. Dan abah..."
__ADS_1
Akhmar turut iba mendengar Aiza menyebut umi Qanita, namun ekspresi wajahnya mendadak berubah sebel saat mendengar abah disebut. "Nggak usah pikirin abah, abah tuh kan malah nggak seneng kalau di rumah rame. Ribet banget soalnya. Semuanya salah."
Aiza melirik Akhmar, ia sadar kalau suaminya anti banget sama sang abah. Ya mau bagaimana lagi, mereka memang tidak akur.
"Besok kalau aku jengukin umi, gimana?" tanya Aiza.
Akhmar kembali meneguk kopinya. Berpikir. "Besok malam aja ya. Biar aku anterin."
"Harus sama kamu?" Aiza menunjuk dada Akhmar.
Akhmar bangkit berdiri.
"Ya udah, yuk kita ke atas. Aku lelah, mau istirahat." Aiza bangkit berdiri, melangkah dengan kaki pincang menuju ke ruangan lain untuk menjangkau anak tangga.
Tiba- tiba tubuh Aiza terangkat, ada yang menggendongnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Akhmar.
__ADS_1
"E e eh... Ini apa apaan sih? Turunin nggak? Nggak enak kalau sampai diliat Mas Aldan atau papa," ucap Aiza memberontak dengan cara mengayun- ayunkan kakinya.
"Mas Aldan belum pulang, papa juga masih di luar. Aman. Aku tuh kasihan banget ngeliat kamu jalan kaki udah kayak nenek- nenek gitu, makanya aku bantuin." Akhmar tersenyum menatap wajah Aiza yang berada di jarak sejengkal saja dari matanya, gemas sekali menatap wajah cantik itu.
Akhmar sudah berada di depan pintu kamar, tangannya menjulur hendak membuka pintu, agak sulit karena kedua tangannya dalam posisi menggendong tubuh Aiza.
Bersambung
Follow instagram @emmashu90
__ADS_1