
"Bukan hanya suami, istri juga sama- sama mengejar amal sebanyak- banyaknya," imbuh Qanita berusaha membuat suasana sedikit rame dengan mengajak ngobrol. Dan yang membuat Qanita kagum, Akhmar tampak seleluasa itu saat mencuci piring, seperti sudaj terbiasa melakukannya.
"Kamu udah bisa nyuci piring?" tanya Qanita.
"Tiga tahun di Yogya, aku melakukan semuanya sendirian, Umi. Termasuk mencuci piring," jawab Akhmar. Pria itu kemudian menuju ke kamar mandi umum, tempat dimana baju- baju kotor dionggokkan. Dia dengan entengnya mencuci baju menggunakan mesin cuci. Bahkan ia begitu paham memilih milih pakaian mana yang seharusnya dicampur dan yang tidak.
Aiza sebenarnya kagum dengan semua yang dilakukan Akhmar, yang menauladani sikap Rosulullah, yang begitu memuliakan wanita saat dalam urusan pekerjaan. Tapi mengingat sikap Akhmar yang telah menyakitinya, Aiza jadi mikir dua kali untuk bisa mengaguminya.
Akhmar kan nyebelin.
Sehari- harinya, Akhmar melakukan pekerjaan yang sama. Setiap usai shalat subuh, ia ke dapur. Apa saja pekerjaan dapur yang belum sempat tersentuh oleh istrinya, ia akan mengerjakannya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan di benak Aiza adalah apa dasar Akhmar mengerjakan pekerjaan rumah? Apakah karena memang menauladani Rosulullah, atau karena takut pada murka Ismail sehingga ia terpaksa taat pada perintah Ismail?
Dua alasan itu merupakan dua hal yang menjadikan Akhmar sebagai sosok yang berbeda pula.
__ADS_1
***
Pagi itu, Akhmar mendatangi rumah Adam, tujuannya adalah menemui Aldan. Kebetulan sekali Aldan sedang berada di ruang tamu, duduk menghadap laptop yang menyala. Adam sedang duduk di kursi lain, meja sebelah depan televisi sambil membaca sesuatu di hape.
"Mas Aldan!"
Aldan yang tengah menunduk itu pun mengangkat wajah. Ekspresinya tak berubah saat menatap wajah Akhmar, sama seperti saat terakhir kali ia menatap adiknya itu.
Demikian pula Adam yang menatap Akhmar dengan tatapan tak bersahabat.
"Mas Aldan, ijinkan beberapa untuk bicara padamu," ucap Akhmar to the point.
Akhmar memanggil Meta dan seorang pria, serta perias pengantin yang saat itu diminta untuk merias Aiza.
Melihat dua orang wanita, serta seorang pria yang masuk, Aldan mengernyit, bingung.
__ADS_1
"Mereka ada perlu apa?" tanya Aldan.
Akhmar menatap Meta, menganggukkan kepala sebagai isyarat supaya Meta angkat bicara.
Kemudian dengan tatapan gusar, wajah menunduk, Meta pun berkata, "Mas Aldan, kejadian yang kemarin itu, saat Akhmar tertidur di kamar tamu rumah Aiza adalah kesalahpahaman."
Aldan masih diam, mengawasi Meta dengan tatapan intens. Menunggu dengan serius apa yang akan dikatakan gadis itu.
Kemudian Meta menceritakan seluruh kejadian, bagaimana ia memberikan obat tidur pada jus yang diminum oleh Akhmar, juga membawa Akhmar ke kamar tamu dan menidurkannya di sana. Serta alasan apa yang membuatnya melakukan hal itu.
"Mas Akhmar benar- benar nggak sadar waktu itu karena memang benar- benar tertidur. Meta nggak tau kejadian selanjutnya setelah Mas Akhmar ditidurkan di sana, soalnya Meta pergi karena ada urusan sama ibu," jelas Meta menyesali perbuatannya.
"Saya dan teman yang membantu untuk membawa Mas Akhmar ke kamar karena waktu itu Mbak Meta nggak kuat mengangkat tubuh Mas Akhmar," sambung seorang pria.
"Dan saya ini adalah periasnya Mbak Aiza. Waktu itu, Mbak Aiza tidak dirias di kamar pengantin, melainkan dirias di kamar lain, yaitu kamar tamu. Soalnya Mbak Aiza bilang, di kamar pengantin ada temannya yang sedang tidur nyenyak. Kata Mbak Aiza, temannya itu kecapekan, jadi dia nggak mau kalau sampai mengganggu kenyamanan temannya itu," terang si perias pengantin. Manik matanya lalu tertuju ke wajah Meta. "Nah, ini temannya Mbak Aiza yang ngorok di kasur pengantin."
__ADS_1
Meta pun menjadi pusat perhatian semua orang. Yang ditatap tertunduk kaku sambil garuk- garuk caruk leher. Meta telat memberikan penjelasan karena sekarang Akhmar sudah menjadi suami Aiza, menyesal sudah menaruh Akhmar ke kamar itu. Kejadiannya malah begini.
Bersambung