
“Mananya yang sakit?” tanya Aiza terlihat panik.
Akhmar tidak menjawab. Malah terus tersenyum saja sambil menatap wajah cantik istrinya. Kapan lagi ia bisa di posisi seperti sekarang? Di saat hatinya merasa tenang dan ia bisa duduk nyaman bersama dengan orang yang dia cintai.
Setiap di rumah, ada serdadu yang siap menerkamnya setiap kali ia mendekat dengan Aiza.
“Jangan ngeliatin aku begitu!” Aiza mengusap wajah Akhmar dengan telapak tangannya. “Aku tanya kamu, apanya yang sakit biar aku survey?”
“Titid.”
Jawaban konyol. Membuat Aiza ingin memeras cucian baju.
Akhmar terkekeh. “Beneran sakit, kamu tindihin tadi. Trus ini sekarang jadi dicek apa enggak?”
Aiza mengangkat alis. “Oh… beneran mau dicek?” tantang Aiza.
__ADS_1
Loh? Kenapa Aiza tidak terlihat gugup atau salah tingkah? Wanita itu malah kelihatan lebih menantang? Tatapannya pun menantang.
Ditatap seperti itu oleh Aiza, Akhmar menelan. Justru mendadak muncul sesuatu yang menyerang organ tubuhnya, rasanya panas dingin. Demam mendadak. Namun Akhmar tetap menampilkan ekspresi tenang. Sedikit pun tak terlihat canggung.
Aiza bangkit dengan posisi kedua lutut menjadi penopangnya untuk tegak. Ia maju dengan menyeret lutut, lalu mengangkat salah satu kaki untuk kemudian duduk di pangkuan Akhmar.
Sesuatu yang hangat menyambar- nyambar dalam diri Akhmar, membangkitkan sesuatu yang menggelora.
“Sini, biar disurvey dulu. Setelah itu diobatin ya!” ucap Aiza dengan tatapan matanya yang bertukar pandang dengan mata tajam milik Akhmar, kedua telapak tangan Aiza mendarat di dada Akhmar, lalu bergerak mengelus dada bidang itu dan mencari benda yang katanya Akhmar tadi sakit akibat ditindih. Senyum Aiza mengembang, dia begitu berani dan menggoda. Bahkan tanpa enggan memulai semuanya hingga terjadinya peraduan itu. Ia sangat seksi saat rambutnya yang panjang tergerai dan terurai di atas ranjang.
Akhmar terkesima dengan semua itu. Benaknya pun mengakui betapa Aiza sempurna dari segala hal. Ia pun bertanya- tanya, bagaimana bisa Aiza sepintar itu dalam hal bercinta di atas ranjang? Apakah di Kairo Aiza juga belajar ilmu soal itu? hahaaa… Pikiran akhmar sudah mulai konyol.
Beberapa kali Aiza menjerit saat melihat benda yang disebut titid itu tanpa sengaja terlihat olehnya. Kaget. Oh… Mendingan merem. Meski ia berani dan menantang dalam peraduan itu, namun tetap saja ia kaget melihat sesuatu yang waow dahsyatnya membuat kepalanya bertanya- tanya apakah ia akan sanggup membiarkan si dahsyat itu melewati miliknya?
***
__ADS_1
“Ayo turun!” ajak Akhmar saat mobil sudah terparkir di depan rumah.
Tidak ada jawaban.
Akhmar menoleh saat sudah membuka pintu hendak turun.
Oh… Ternyata Aiza tertidur. Pulas sekali. Mulut mungil itu sampai terbuka sedikit, menunjukkan betapa ia sedang pulas. Padahal beberapa menit yang lalu, mereka masih asik mengobrol. Tiba- tiba sekarang sudah pulas begini.
Akhmar tersenyum mengawasi wajah polos istrinya. Wajah yang mengingatkannya pada adegan indah yang membuatnya sangat ingin mengulang dan mengulang lagi. Aiza… dia adalah istri yang lincah, cantik, juga menggoda dalam urusan ranjang. Sayangnya semua itu hanya terjadi satu kali saja. Akhmar tidak bisa mengulanginya lagi. Sebab waktu yang ia miliki tidak banyak. Seandainya ia terlalu lama menghabiskan waktu bersama dengan Aiza, bisa jadi Ismail akan mencurigainya.
Tanpa sadar Akhmar mendekatkan wajahnya ke wajah Aiza, dia sudah memiringkan kepala. Dan….
Bersambung
__ADS_1