
“Wajib, sunah, Mubah atau apa pun itu, yang jelas kamu itu tidak menghargai pasanganmu,” maki ismail.
“Ya. Sekali lagi aku akui, bahwa aku salah. Aku merasa ingin pergi untuk menenangkan diri dari kekacauan yang terjadi. Maaf kalau itu dianggap telah menimbulkan masalah besar. Maaf. Dan perlu diluruskan sekali lagi, bahwa aku dan Aiza benar- benar tidak melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama. Kejadian di kamar kemarin adalah kebetulan yang tidak disengaja. Saat aku nggak sadarkan diri, entah siapa yang membawa aku masuk ke kamar itu. Dan saat aku terbangun, sudah ada Aiza di sampingku. Itulah kejadian yang sebenarnya. Piur, murni kebetulan. Tolong jangan memandang buruk terhadap Aiza.”
“Modus!” Ismail masih tidak mempercayai.
“Itulah yang bisa aku sampaikan sesuai apa yang telah terjadi. Baiklah, aku permisi dulu!” Akhmar balik badan.
“Hei hei, mau kemana kamu?” hardik Ismail.
Akhmar menoleh. Diam saja.
“Aku melarangmu meninggalkan rumah ini. Kamu harus tetap di sini sampai tiga bulan ke depan. Aku mau tau bagaimana cara kamu memperlakukan putriku. Setelah itu, aku bisa lega melepas putriku dan terserah kau mau bawa dia kemana.”
“Aku hanya ingin mencari angin di luar!” jawab Akhmar.
__ADS_1
“Tunggu!” Teriakan Ismail membuat langkah kaki Akhmar tertahan.
“Apa ada yang perlu aku bantu, abah?” tanya Akhmar.
“Sini kamu!” Ismail mendekati Akhmar, lalu menarik pergelangan tangan Akhmar dan menggeretnya menuju ke sebuah kamar.
Qanita dan Aiza mengikuti. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Ismail terhadap Akhmar. Siapa tahu Ismail akan melakukan tindak kekerasan, seperti menggendong AKhmar dan mencelup- celupkannya ke bak mandi, atau mencubit jari- jari Akhmar, atau hal lainnya.
“Ini kamarmu. Jangan sekali- kali mendekati kamar Aiza!” Ismail membuka pintu salah satu kamar dan menunjuk dengan telunjuknya.
“Pilih mana? Masih mau melanjutkan pernikahan ini, atau menceraikan Aiza? Ini pernikahan udah kayak guyonan saja, yang mau dinikahkan siapa, eh yang nikah juga siapa. Haduuuh…!” Ismail geleng- geleng kepala.
Akhmar menarik sudut bibirnya. “Baik, abah. Aku akan menempati kamar ini!” jawab Akhmar.
“Sebesar apa pun kesalahan Akhmar dan Aiza, tetap aja Mas akan berdosa kalau melakukan ini,” ucap Qanita.
__ADS_1
“Loh, kamu mau anakmu ditiduri begajulan seperti dia ini?” tatapan mata Ismail tertuju ke wajah Qanita, namun telunjuknya tertuju ke wajah Akhmar. “Laki- laki berandalan ini harus benar- benar terbukti memiliki kahlak yang baik barulah bisa menggauli Aiza. Kasian anak kita kalau sampai sudah terlanjur tidur dengan begajulan ini dan bahkan punya keturunan dari Akhmar, tau- tau Akhmar memperlakukan Aiza dengan snagat buruk. Kalau sudah terlanjur begitu, kan Aiza juga yang rugi.”
“Baik, abah. Tenang, aku patuhi permintaan abah,” ucap Akhmar lagi.
Ismail mengernyit melihat sikap Akhmar yang tampak tenang. Sesantai itu menghadapi mertuanya yang sejak tadi menampilkan ekspresi seperti macam kelaparan. Bahkan nyaris terlihat senyum simpul di sudut bibir pria tampan itu.
"Sekali saja kau macam- macam pada Aiza, apa lagi sampai menyentuhnya, maka percayalah kau akan mendapatkan ini!" Ismail memperlihatkan kepalan tinjunya. "Mau yang kiri atau yang kanan? Yang kiri langsung masuk rumah sakit, yang kanan langsung ke liang lahat." Dia mengangkat dua kepalan tinjunya yang besar.
"Ya ya, aku mengerti." Akhmar mengangkat alis.
"Tinggalkan dia!" Ismail mengajak Qanita dan Aiza meninggalkan ruangan itu.
Aiza yang masih kesal terhadap Akhmar, melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Akhmar. Langkahnya lebar hingga sampai di ruang makan. Perutnya lapar, tapi nafsu makan lenyap entah kemana. Ia tersenyum menatap kentang goreng kesukaannya.
Bersambung
__ADS_1
Hayuk klik like dulu sebelum next.