
Wah wah, ternyata uminya tidak lupa dengan makanan kesukaannya. Kentang goreng. Senyumnya mengembang saat mengambil sepotong kentang dan menarih ke piring.
Meski bibir tersenyum dan wajahnya tampak biasa saja, namun jauh di lubuk hatinya, tetap tertanam rasa kecewa, seperti ada yang menyayat- nyayat di dalan sana. Ia kesal sekali atas sikap Akhmar yang telah tega meninggalkannya sendirian di acara pesta pernikahan. Bahkan penjelasan Akhmar tadi sama sekali tidak menenangkan.
Situasi yang mereka alami.memang sulit, tapi setelah Akhmar menjadi suami Aiza, setidaknya pria itu menjadi perisai yang siap melindungi, bukan malah meninggalkan.
Sudah mati- matian Aiza membela Akhmar di hadapan kedua orang tuanya, demi supaya Akhmar tetap terlihat baik dan dimaklumi, semua itu ia lakukan semata- mata supaya hubungan antara Akhmar dan kedua orang tuanya akan baik. Meski seburuk apa pun Akhmar menyakiti dirinya, ia akan tetap membela nama baik Akhmar di hadapan kedua orang tuanya. Itu karena ia tidak ingin penilaian kedua orang tuanya terhadap Akhmar kian buruk.
Ismail dan Qanita sudah makan, tinggal Aiza saja yang belum makan.
Senyum di wajah Aiza memudar saat mendengar suara kursi di sisinya ditarik. Ia tahu siapa yang sekarang duduk di sisinya, pandangannya mendapati sosok Akhmar melalui pintu kaca lemari di depan, pantulan wajah Akhmar tercetak jelas di sana.
Akhmar mengamati isi meja. Ia lalu mengambil sepotong buah apel dan mengunyahnya.
Beberapa menit terdengar suara kunyahan apel tanpa ada pembicaraan.
__ADS_1
Sesekali Aiza melirik kaca di depan sana, Akhmar tampak tejang mengunyah buah itu tanpa beban. Ya, seperti tidak ada hal apa pun yang terjadi.
Haloo... Mereka sedang dalam kondisi tidak baik- baik saja, tapi setenang itukah Akhmar sekarang?
Sikap pria itu terlihat dingin, tak mau bicara.
Aiza memakan kentang goreng dengan mencocolkannyan ke saus yang dia tuang ke sisi piring, tanpa nasi.
Aiza ingin menawarkan piring, barang kali Akhmar lapar dan ingin makan, tapi entah kenapa lidahnya berat sekali. Bahkan untuk menelan kentang pun lehernya seperti dicekik, kentang nyangkut mulu di tenggorokan.
"Enggak. Aku merasa kenyang." Akhmar meneguk minum, kemudian berlalu pergi.
Begitu saja? Aiza gemas sekali. Sepertinya ia perlu melontarkan banyak pertanyaan kepada Akhmar, ia harus bicara empat mata. Tapi… Rasanya percuma bicara dengan Akhmar. Pria itu kini lebih seperti kulkas yang dingin yang malas bicara.
Aiza menyudahi makan, lalu menuju ke teras belakang rumah, dimana ikan koi menjadi peliharaannya, yang bentuknya indah dan berwarna- warni, gerakan lincahnya selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Aiza.
__ADS_1
Aiza berdiri di sisi kolam, kedua tangannya berpegangan pagar setinggi pinggang, pandangannya tertuju pada ikan koi yang berenang ke sana kemari, terlihat tanpa beban.
"Enak banget idup lu, berasa enjoy aja tiap hari, nggak ada beban hidup," celetuk Aiza dengan senyum simpul.
"Di sini lebih tenang! Ini memang tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran,” celetuk Akhmar yang baru saja muncul dan berdiri di sisi Aiza. Pria itu sama halnya seperti Aiza, berpegangan pagar. Kepalanya menoleh menatap Aiza yang ada di sisinya.
Menyadari menjadi pusat perhatian Akhmar, Aiza memilih untuk tetap menatap lurus ke depan, tidak mau menoleh ke erah Akhmar.
“Kamu mau minum?” Akhmar menyodorkan sebuah kaleng minuman.
Aiza tidak menjawab. Ia berjalan menjauhi Akhmar, menyambar makanan ikan dan duduk di sisi batu berukuran besar yang terletak di sisi kolam ikan. Ia melempar makanan ikan ke kolam. Tampak ikan- ikan itu berebut, lalu kembali berenang ke sana kemari.
Bersambung..
Bantu komen, bantu share, dan bantu ramein yups ☺️
__ADS_1