
Akhmar sudah meninggalkan Aiza sendirian di hari perikahan, Akhmar juga bersikap acuh tak acuh selama ini, dan terakhir kali pria itu malah mengucapkan perkataan yang sangat menyayat hati, bahwa dia tidak lagi mencintai Aiza.
Sejak saat itu, Aiza mulai berjuang untuk mandiri. Sebab Akhmar telah mengajarkannya untuk hidup sendiri meski ia berstatus memiliki suami.
“Lepas!” Aiza mundur hingga terlepas dari pegangan Akhmar. Ia berjalan pergi dengan langkah lebar.
Akhmar menoleh, menatap kepergian Aiza. Dan ia tidak lagi bisa memaksa. Ia masuk ke mobil dengan perasaan tak menentu, ingin marah tapi tak tau pada siapa.
Suara dering ponsel membuat pandangan Akhmar tertuju ke arah ponselnya yang menunjukkan pesan masuk.
Akhmar cepat mengeklik chat dengan sekali tekan jempolnya, chat terbuka. Sebuah pesan dari Atep pun terbaca.
.
'Mar, gue deg- degan waktu deket sama Aiza. Badan gue ndredeg. Gue jatuh cinta, Mar. Mungkin ini sama kayak yg lo rasain dulu ke Aiza. Gue mau dia jadi pendamping hidup gue. Doain gue ya. He heee…'
.
Akhmar meletakkan hape ke pangkuan tanpa berminat untuk membalasnya. Hatinya ngilu membaca pesan itu. Istrinya ditaksir oleh pria lain dan ia tidak memiliki kekuatan untuk melarangnya.
Jika ia mengambil tindakan untuk mengungkapkan statusnya yang sudah menjadi suami Aiza, mungkin Aiza akan semakin marah dengan alasan Akhmar- lah yang memulai situasi itu, setidaknya jangan melarang Aiza untuk melanjutkannya.
Serba salah.
__ADS_1
Sementara Aiza berlari kecil menjauhi Akhmar. Hatinya kebas merasakan semua ini. Ia harus membentengi diri terhadap Akhmar, jangan sampai luluh. Akhmar dengan enaknya mencampakkan dirinya, lalu apakah sekarang dengan seenak perutnya memungut barang yang sudah dicampakkan. Aiza berhak menghukum Akhmar. Bukankah ini yang diinginkan Akhmar?
Seharusnya ia sudah duduk manis di dalam mobil tanpa harus kehujanan begini jika tidak mengedepankan perasaan sensitif, tapi fisiknya harus terhukum begini demi menghukum Akhmar.
Kaki pegel, menapaki jalan becek, kedinginan. Untungnya kini ia sudah sampai di jalan raya, sehingga tidak lagi menginjak tempat becek.
Thin thiiin…
Suara klakson mobil yang menjajari langkah, mengejutkan Aiza.
Nih cowok memang beneran nggak kapok. Masih aja terus ngintilin kayak anak ayam. Aiza cuek, terus berjalan di bawah guyuran hujan, mengira Akhmar yang mengikutinya.
"Aiza!"
Aiza menoleh. Ternyata Atep alias Abid yang kini tengah mengiringi langkahnya.
"Ayo, masuk! Hujan!" teriak Atep, pria yang kini tampak lebih dewasa dan tampan dengan kedewasaannya itu.
Tubuh Aiza sudah menggigil. Ia tak punya pilihan, lalu masuk ke mobil Atep.
"Ya ampun, Za. Kamu kedinginan. Ayo, pakailah ini!" Atep mengambil jaketnya dari jok belakang dan menyerahkannya kepada Aiza.
Aiza menggeleng. "Enggak. Jalan aja. Aku mau pulang!" Suara Aiza gemetaran.
__ADS_1
"Oke oke." Atep segera melajukan mobilnya. "Atau, aku antar kamu ke butik di depan sana. Kamu bisa ganti baju supaya nggak makin menggigil."
Aiza menggeleng.
Atep tak mau memaksa. Ia belum begitu mengenal sosok Aiza, yang dulu ia ketahui adalah gadis yang anti dengan pria bagajulan.
Atep memilih untuk mengikuti kemauan Aiza.
Tiba- tiba Atep menghentikan mobilnya secara mendadak, untung saja Aiza gesit menahan tubuh sehingga hidung mungilnya tidak terantuk dashboard.
"Kenapa?" seru Aiza sedikit kesal. Sudah menggigil begini, masih saja dibikin jantungan dan hampir mati.
"Itu di depan ada mobil berhenti mendadak," jawab Atep menatap mobil yang melintang di depan. "Mobil siapa itu? Apa maunya?"
Aiza mengikuti arah pandang Atep. Ia terkejut melihat mobil Akhmar yang melintang di depan. Tak lama Akhmar turun dari mobil, membuat Atep terkejut.
"Itu kan Akhmar. Ada apa ya? Kok, dia berentiin mobilnya begitu?" Atep heran atas sikap Akhmar.
Akhmar membuka pintu mobil tepat dimana Aiza duduk.
"Ikut denganku!" titah Akhmar sambil menarik lengan Aiza keluar dari mobil.
Bersambung
__ADS_1