
"Lalu bagaimana caranya abah bisa menerima Akhmar sebagai menantu sekarang?" Zahra bingung.
"Jangan pikirkan Aiza dan Akhmar, kak." Aiza meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat, menunjukkan kalau ia berlapang dada untuk menerima semuanya. Takdir sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali.
"Dari kejadian besar ini, ada hikmah besar yang patut disyukuri. Dan pada intinya, Aiza udah nikah sama Akhmar atas perintah abah sendiri tanpa harus kesulitan untuk bisa menikah dengan orang yang Aiza cintai. Tanpa abah harapkan, abah malah memaksa Akhmar untuk menikahi Aiza."
Zahra mengangguk. "Kakak paham apa yang udah kakak lakukan adalah salah. Lalu apa pendapat umi? Umi marah besar ya?"
"Umi adalah ibu yang melahirkan kita. Apa pun alasannya, dan sebesar apa pun kesalahan kita, percayalah umi pasti akan memaafkan kita karena alasan sayang. Sedangkan abah, abah nggak mau menganggap kak Zahra sebagai anak lagi. Abah nggak bolehin siapa pun menerima kaka Zahra pulang."
"Kakak sadar diri, itu pantas kakak dapatkan." Zahra pesimis.
__ADS_1
"Aiza seneng kak Zahra mengakui kesalahan dan menyesalinya. Kak Zahra ingat nggak waktu Aiza diusir abah dadi rumah? Kak Zahra mendukung Aiza dan memotivasi Aiza supaya mau balik ke rumah apa pun resikonya kan? Sekarang apa bedanya dengan kakak sekarang? Kakak harus pulang."
"Pintu rumah udah ditutup untuk kakak, abah juga udah nggak menganggap kakak sebagai anaknya lagi, gimana kakak mau pulang?" Zahra menggeleng.
"Lidah boleh mengatakan hubungan anak dan ayahnya terputus, tapi darah manusia nggak akan pernah putus. Ikatannya tetap ada. Nggak ada istilah mantan anak." Aiza memotivasi, ia tahu kakaknya sekarang sedang tersudut dan takut.
Zahra menatap ragu. "Abah nggak mau terima kakak lagi, dek."
"Inilah resiko dari kesalahan yang kita buat, kita harus bisa menghadapinya. Percayalah, Tuhan pasti akan memberi jalan keluar untuk hambanya yang selalu meminta kepadanya dengan jalan baik. Apa pun resikonya nanti, kita harus siap. Strong, okey!" Aiza tersenyum. Berharap motivasinya akan menguatkan kakaknya. Sama halnya seperti dulu saat Aiza sendirian, Zahra lah yang selalu mendukungnya. Sekarang, Aiza juga ingin melakukan hal yang sama.
"Perempuan itu nggak bisa lepas dari ikatan ayahnya, apa lagi saat masih gadis seperti kakak. Siapa yang akan menjadi wali nikah kakak kalau bukan abah? Kakak nggak akan bisa lari bersama dengan Adnan selamanya. Kakak butuh abah," ucap Aiza lagi.
__ADS_1
"Tapi bagaimana abah akan merestui kakak dan Adnan yang jelas- jelas udah kabur begini dan bikin malu keluarga. Bahkan orang tua Adnan pun pasti marah besar pada Adnan, juga pada kakak." Zahra mengernyit, menyadari masalahnya yang tak biasa.
"Harus bisa hadapi ini semua. Masih percaya kan kalau Tuhan nggak akan mungkin memberi ujian di luar batas kemampuan manusia?" Senyum Aiza mengembang, menyemangati.
Zahra menghambur maju dan memeluk adiknya. Inilah waktu yang tepat untuk merasa terharu. Ternyata masih ada yang peduli terhadapnya.
"Jangan nangis! Jelek!" bisik Aiza membuat Zahra yang tengah menangis itu pun terkekeh kecil sambil mengusap air matanya.
Sementara di luar, Akhmar tengah nyender di badan mobil. Sendirian. Kedua tangan menyilang di dada. Mobil hanya bisa diparkirkan di pinggir gang sempit mengingat halaman rumah jauh lebih sempit dan tidak ada tempat untuk memarkirkan mobil.
Akhmar mengawasi sesosok manusia yang berjalan mendekat, menenteng sebuah plastik berisi nasi bungkus. Tak lain Adnan. Penampilannya tampak sedikit kacau hanya dengan mengenakan kaos oblong warna biru dipadu celana panjang yang pastinya tidak tersentuh setrikaan. Agak kusut. Serta rambutnya tampak kering tanpa polesan minyak rambut. Sendal jepit menjadi alas kakinya.
__ADS_1
Ngenes amat. Jadi lebih persis orang jalanan.
Bersambung