
Beberapa menit setelah Akhmar pergi, terdengar suara bel pintu.
"Biar aku buka!" ucap Aldan yang berada lebih dekat dengan pintu. Ia mengernyit menatap sosok yang berdiei di depan pintu. Nayla. Gadis cantik itu tersenyum kaku. Teringat kasus yang terjadi antara dirinya dan Aldan cukup buruk, ia jadi kaku begitu.
"Ada apa?" tanya Aldan dengan alis terangkat.
"Mm... Mau ketemu Aiza. Aiza bilang, dia tinggal di sini sekarang. Trus aku dengar dari satpam tadi, Aiza kecelakaan," jawab Nayla.
"Oh.. masuk!" Aldan mempersilakan.
"Makasih." Nayla melewati Aldan dengan kulit punggung yang meremang, sungkan sekali. Bahkan ia merasakan Aldan masih menatap ke arahnya saat ia berjalan menjauh.
"Aiza!" Nayla menghambur mendekati Aiza. "Beneran lo kecelakaan? Trus gimana keadaan lo sekarang?"
"Nggak apa- apa. Ini sebenernya cuma luka gini, tapi sakitnya masyaa Allah... Ngeri deh." Aiza mengangkat sedikit roknya untuk memperlihatkan luka di lututnya. Tenang, Aldan tidak melihat. Pria itu duduk di sofa pada meja lain yang sejak tadi dia duduki.
"Ron, ambilin minum untuk tamu. Ini ada tamu besar datang," seru Aldan sambil fokus pada latar hape nya. Ia berteriak memanggil asisten rumah tangga.
Mendengar Aldan menyebut tamu besar, Nayla malah merasa berkecil hati. Aldan kan sedang kesal terhadapnya, masak sih menyebutnya sebagai tamu besar? Ini artinya menyinggung atau bagaimana? Muka Nayla memerah dan malu.
Memang aneh, Nayla adalah desainer baju yang baik meski pemula, tak pernah melakukan kesalahan dan selalu berhati- hati, namun anehnya, kenapa ia teledor saat mengerjakan baju pesanan Aldan. Padahal ia sudah merasa sangat teliti saat mengerjakannya.
__ADS_1
Dan kemarin ia juga sempat menabrak mobil Aldan di parkiran gedung kerjanya saat memundurkan mobil, membuat mobil Aldan penyok.
Selalu dan selalu Aldan yang menjadi korban, bagaimana Aldan tidak kesal dibuatnya? Nayla terlihat sebagai gadis ceroboh di mata Aldan, padahal sebenarnya Nayla itu kan bukan gadis ceroboh. Ini takdir atau apa?
Aiza menyenggol lengan Nayla sambil tersenyum. "Pst, kamu dibilang tamu besar sama Mas Aldan. Istimewa banget."
"Justru itu Mas Aldan tuh lagi kesel banget sama aku, itu sindiran garis keras," balas Nayla.
Tak lama Roni datang membawa segelas minuman dingin, es teh.
"Ini tamunya? Silahkan Neng!" Roni meletakkan gelas ke meja kemudian berlalu pergi.
Setelah mengobrol selama sekitar sepuluh menit, Nayla berpamitan pulang. Ia merasa canggung karena ada Aldan di sana, hatinya tak nyaman.
"Bisa anterin gue ke atas dulu? Kaki gue kalau naik tangga ngilu nih, turun tangga sih rada mendingan," ucap Aiza.
"Oke, gampang. Yuk, gue bantuin!" Nayla membimbing tubuh Aiza menaiki anak tangga, memapahnya dengan sangat berhati- hati. Sesampainya di ruangan lantai atas, Nayla pun berpamitan untuk turun.
Langkah kecil Nayla menuruni anak tangga dengan kepala menunduk dan pandangan fokus tertuju ke anak tangga yang dia lalui.
Entah kenapa tiba- tiba kakinya tersandung.
__ADS_1
Gludak gluduk.
Blugh.
Nayla menggelinding dan terjatuh. Untungnya sudah berada di ujung tangga sehingga tidak terlalu jauh menggelinding.
Lah kok bisa?
Nayla menyesali kejadian naas itu, yang baru ia sadari bahwa ia tidak terjatuh sendirian. Ada Aldan yang tadi sedang naik tangga dan berpapasan dengan Nayla hingga mereka menggelinding bersamaan.
"Bangkitlah dari situ! Apa kamu mau begini selamanya?" kesal Aldan menyadari tubuh Nayla yang berada di atasnya.
Nayla segera bangkit berdiri, kepalanya puyeng, pusing dan oyong.
"Sudah ya, ini terakhir kali aku ketimpa musibah! Tolong menghindar dariku!" ucap Aldan menahan kesal, namun tetap berusaha bersikap tenang. Tubuhnya ngilu, punggungnya sakit, kepalanya pusing akibat kejeduk anak tangga.
Sebelum sempat Aldan melanjutkan kalimatnya, ia melihat tubuh Nayla terhuyung ke sana kemari sambil memegangi kepala.
Bersambung
__ADS_1