Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Pingsan


__ADS_3

"Loh loh loh.... Ini kenapa lagi ini?" Aldan bingung melihat tubuh Nayla yang keliyengan dengan mata terpejam. Sepertinya gadis itu merasa puyeng.


"Hei hei, jangan sekarang!" Aldan hampir saja membiarkan tubuh Nayla ambruk karena sadar tak seharusnya menyentuh tubuh gadis yang bukan mahromnya, namun tidak ada orang lain selain dirinya di sana yang dekat dengan Nayla, kalau saja dia biarkan tubuh Nayla terus keliyengan, maka dipastikan tubuh gadis itu terhentak di lantai.


Terpaksa, dengan alasan udzur, Aldan menangkap tubuh Nayla meski dengan kedua telapak tangan yang merentang, tak ingin menyentuh tubuh itu, hanya lengan Aldan saja yang menahan tubuh Nayla.


“Hei hei, jangan pingsan sekarang!” seru Aldan mewanti- wanti saat melihat mata Nayla yang kian rapat terpejam, disusul tubuh yang lemas.  Tak cukup hanya dengan menopang tubuh Nayla menggunakan satu lengan saja, akhirnya Aldan memegangi tubuh itu.


Ingin memanggil Aiza, satu- satunya wanita di rumah itu untuk membantu membawa Nayla, namun urung mengingat untuk berjalan saja Aiza kesulitan.


“Ya ampun, gadis ini merepotkan saja!”  Aldan pasrah menggendong tubuh Nayla ke sofa, lalu menarik lengannya yang berada di bawah punggung Nayla dengan cepat dan tanpa sengaja membuat kepala Nayla terhentak cukup kuat di sofa.


Entahlah, mungkin kepala gadis itu semakin pusing.


“Aiza!  Kemarilah!  Lihatlah temanmu ini pingsan, lebih baik ini diapakan?” seru Aldan membuat Aiza segera muncul, berdiri di lantai atas menatap ke lantai bawah.


“Apa yang terjadi sama Nayla, Mas?” Aiza terkejut melihat Nayla tergeletak di sofa, padahal terakhir kali dilihat, dia baik- baik saja.


“Terjatuh di tangga, dia menimpaku, lalu sekarang pingsan.  Ya Tuhan!”  Aldan tampak stress.


Aiza malah terkekeh melihat kakak iparnya berasa dikerjain.  Ia perlahan menuruni anak tangga.

__ADS_1


Melihat Aiza yang kesulitan turun, Aldan tampak iba, lalu berkata, “Ya udahlah, kamu di atas aja.  Biar aku yang urus prekedel ini.”


“He heee… Mas Aldan begitu amat sama Nayla, masak dipanggil perkedel sih?  Itu temen baik Aiza, loh.”  Aiza berhenti di tengah- tengah anak tangga.


“Aku nggak mengerti kenapa selalu saja tertimpa musibah setiap kali bertemu dengannya.  Ya Tuhan, sabarkan aku.”  Aldan menyodorkan minyak kayu putih yang tutupnya dalam keadaan terbuka ke arah hidung Nayla.


“Ayo, bangun!” bisik Aldan.


Nayla tak kunjung bangun.


“Jangan- jangan dia gagar otak, atau hilang ingatan setelah ini.  oh Tuhan!”  Aldan geleng- geleng kepala.


“Nay!  Ayo, bangun!”  Aiza menepuk pelan pipi Nayla.


“Aneh nih cewek, dia yang menimpaku, dan seharusnya justru aku yang mengalami rasa sakit lebih parah karena aku korban yang terhentak di lantai, tapi ini kenapa malah jadi Nayla yang sakit begini?”  Aldan frustasi.


“Mungkin Nayla syok aja.”


“Biar aku ambilkan air minum, siapa tau kalau dicipratin air, dia akan terbangun.”  Aldan melangkah ke ruangan belakang.


Tiba- tiba mata Nayla melek, membuat Aiza terkejut.  Kok, belum diapa- apain udah melek sendiri?  

__ADS_1


“Dia udah pergi?” tanya Nayla dengan raut was- was sambil menoleh ke arah hilangnya Aldan.


“Ya ampun Nay, lo pingsan bohongan?”  Aiza geleng- geleng kepala.


“Duuuh… Mendingan gue pura- pura pingsan, soalnya gue takut banget Mas Aldan ngamuk.  Dia udah kesel banget sama gue.  Bertubi- tubi gue ini cuma bikin dia sial terus.  Ya udah gue pulang!  Dadaaah!”  Nayla lari ngibrit. Namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Aldan yang tiba- tiba sudah berada di hadapannya, menghadangnya dengan kedua tangan menyilang di dada, tatapannya tak nyaman.  


Pria itu sejak tadi berdiri di balik dinding, mengintip.  Hanya ingin melihat apa yang dilakukan Aiza saat menyadarkan Nayla, eh ia malah mendapati fakta baru tentang Nayla yang pura- pura pingsan.  Ia sudah dikadalin.


“Makasih ya udah ngerjain!”  Aldan kemudian melenggang pergi.


Nayla tertunduk.  Lemes.  Lagi- lagi ia kena sembur.  Aldan memang tidak memaki atau pun melontarkan kata- kata buruk, justru sikap dan perkataan yang hanya berupa sindiran halus itu membuat Nayla tersentil kuat.  Jantungnya berasa barusan dicubit.


Nayla melangkah keluar pasrah.


Aiza hanya bisa mengulum senyum.  Nasib Nayla yang harus menanggung resiko akibat ulahnya itu.


***


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2