Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Pecah


__ADS_3

“Intinya, kau itu belum pantas menjadi imam Aiza yang justru memiliki ilmu agama jauh lebih baik darimu.  jadi jangan coba- coba untuk menyentuh Aiza!  Kalau kau tidak tahan, kau bisa ceraikan dia!” gertak Ismail makin emosi.


Wah, makin nyolot!  Dada Akhmar pun rasanya terbakar.  Awalnya ia bisa menghadapi sikap Ismail yang memperlakukannya semena- mena, tapi jika sudah begini, ia pun tak kuasa menahan emosi.  Ini sudah sangat keterlaluan.


“Apakah abah merasa bahwa perlakuan abah itu sudah benar dan sesuai dengan dalil serta sunnah?” ucap Akhmar dengan gigi menggemeletuk.


“Hei, ilmuku jauh lebih tinggi darimu!  Tidak ada sedikit pun ilmu di kitab Islam yang terlewat dari jangkauan mataku.  Jangan kau mengguruiku seakan- akan kau lebih paham dengan ilmu agama.”


“Aku tau ilmu agama abah jauh lebih tinggi.  Semua ilmu sudah abah pelajari.  Tapi perlu abah tau satu hal, memiliki ilmu tinggi saja nggak cukup.  Kalau bicara ilmu, bahkan iblis pun jauh lebih tinggi ilmunya.  Sikap yang beradablah yang dibutuhkan.”  Akhmar melenggang masuk ke kamar dengan langkah lebar.  Ia memasukkan barang- barang penting miliknya ke tas.  Lalu ia kembali melintasi ruangan tadi dimana Aiza tengah memberi pengertian pada abahnya, meminta perdamaian.

__ADS_1


Qanita juga sudah ada di ruangan itu.  menangis sesenggukan, mengharapkan supaya suaminya menurunkan ego dan memahami situasi.  Qanita pun menentang sikap Ismail.


“Abah masih mau punya anak kan?  Kak Zahra sudah pergi akibat keegoisan abah.  Dan sekarang bagaimana dengan Aiza?  Kalau abah masih ingin memiliki anak, tolong jangan sakiti Akhmar supaya abah masih bisa memeluk anak abah di sini.  Seenggaknya abah hargai Akhmar yang selama ini udah menunjukkan sikap baik, Akhmar bahkan sudah belajar agama dan menunjukkan perubahan yang luar biasa. Kenapa abah nggak melihat itu?” sesal Aiza.


Ismail tak mau mengindahkan perkataan Aiza.  Ia berpaling dengan raut dipenuhi emosi.


Akhmar meraih pergelangan tangan Aiza.  “Kita pergi!”


Namun Qanita terlihat melempar senyum meski air matanya berurai.  Ia menganggukkan kepala sebagai isyarat menyetujui tindakan Akhmar, juga merestui kepergian Aiza. 

__ADS_1


Akan lebih banyak mudhorot saat Akhmar tinggal bersma dengan Ismail yang jelas- jelas membencinya.  Kebencian Ismail terhadap Akhmar terlihat tidak luntur meski Akhmar jela menunjukkan perubahan yang jauh lebih baik.  Bukankah manusia dilihat dari taubatnya untuk dinilai baik atau buruk?  Lalu kenapa Ismail justru tidak bisa melihat hal itu?  


Akhmar menyetir mobil dengan tatapan nanar, urat rahang yang masih menegang, juga napas yang tak beraturan.  Raut kesal jelas terlihat di wajah itu.


“Percuma mengaku punya ilmu tinggi jika tidak beradab dan akhlaknya rusak.  Jadi dimana ia menerapkan ilmu yang dia pelajari itu?  Apa gunanya menyantap ilmu agama kalau bukan untuk diamalkan?  Percuma!”  Akhmar bicara sendiri, meluapkan kekesalannya.  Sejak tadi ia merasa tenang dan baik- baik saja, namun setelah bertemu ismail dan mertuanya itu memaki- maki dirinya, kekesalannya pun terpancing juga, tak kuasa dipendam.


“Aku tau ini berat buat kamu.  Menghadapi abah yang perilakunya begitu memang berat banget,” ucap Aiza sambil merengkuh lengan Akhmar dan mengelus lembut dengan jempolnya.  Dia tampilkan senyuman manis, yang membuat Akhmar bisa terserang diabetes akibat manisnya itu loh, bikin kejer.  “Aku juga dulu begitu.  Kesel banget, bahkan membenci abah karena perilaku abah yang semena- mena terhadap umi.  Tapi sekarang aku bisa atasi itu.  sebab aku sadar bahwa abah itu adalah ayahku, dan aku nggak akan ada di dunia ini tanpa abah.  Aku terlahir dari benihnya.  Bagaimana pun beliau, aku harus bisa menghadapinya dengan baik.”


Akhmar menarik napas panjang dan melepasnya dengan semburan kuat.  Ia berusaha menenangkan diri.  

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2