
"Tuh, hape kamu di bawah bantal!" Akhmar menunjuk hape Aiza yang ujungnya sedikit kelihatan, sengaja ditaruh dengan posisi sedikit terlihat begitu.
"Oh, di situ rupanya." Aiza meraih hape miliknya.
Sebenarnya Aiza ingin menjelajahi rumah itu, melihat- lihat seluruh kondisi rumah megah itu, tapi sayangnya kakinya sakit begini.
"Bisa jalan?" tanya Akhmar sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah Aiza sebagai tanda bersiap hendak membantu apa bila Aiza kesulitan melangkah.
"Aku coba!" Aiza bangkit berdiri. "Eee eeh.. aduuh!" Tubuh Aiza terhuyung hendak tumbang sesaat setelah menapakkan kakinya yang sakit ke lantai.
Akhmar dengan cekatan menangkap tubuh mungil itu.
"Udah kayak bayi aja, jalan pun mesti ditatah!" ledek Akhmar sambil mengayunkan alis.
Aiza menatap wajah Akhmar yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Untung ganteng nan sempurna. Alis matanya pun menawan. Huluuuh...
"Aku beneran sakit ini, jangan diledekin!" ancam Aiza menunjukkan kegalakannya seperti dulu saat ia menghadapi Akhmar yang begajulan dan sibuk mengejar- ngejar dirinya.
Melihat istrinya yang berubah menjadi galak, Akhmar pun hanya bisa mengulum senyum tipis.
"Oke, aku bantu jalan yuk!" ucap Akhmar lembut.
__ADS_1
Duuh.. bisa juga Akhmar bicara dengan nada selembut itu, bikin hati meleleh bambang.
"Enggak usah, aku bisa jalan sendiri. Ini tadi cuma kaget aja makanya mau jatoh," tolak Aiza dengan kalem. Ia melepaskan diri dari lingkaran lengan kekar Akhmar yang memeluk tubuhnya.
Aiza lalu kembali menapakkan kakinya. Alhamdulillah... Ia masih bisa berjalan meski bagian lutut ngilu sekali setiap melangkah.
"Sekarang mau kemana?" tanya Akhmar.
"Ke dapur."
"Ngapain?" Akhmar mengikuti Aiza.
"Masak."
"Iya." Aiza berjalan menuruni anak tangga dengan gerakan yang terlihat sulit sekali.
Akhmar membiarkan saja, cukup mengiringi dari samping. Membiarkan Aiza mandiri dan berjalan sendirian.
Sesampainya di lantai bawah, tampak Aldan tengah mengaduk teh hangat dan berjalan menuju sofa. Pria itu tersenyum simpul menatap Akhmar yang membantu Aiza duduk di sofa yang berlainan meja. Masih dekatan, mereka bisa saling tatap karena masih dalam satu ruangan.
"Hmm... Gitu amat yang jadi pengantin baru, suara di kamar nggak usah dikencengin!" Aldan terkekeh pelan.
__ADS_1
Akhmar dan Aiza bertukar pandang. Mereka baru sadar satu hal, pasti Aldan salah paham atas teriakan dan rintihan Aiza di kamar tadi.
"Jalan pun sampe kepayahan begitu, seberapa hebatnya sih kamu Mar sampai bisa bikin aiza lempoh begitu?" Lagi- lagi Aldan ngeledekin.
"Mas Aldan salah paham nih, Aiza keserempet motor dan ini kakinya lagi sakit. Aku hanya mengobati lukanya tadi," ucap Akhmar menjelaskan.
"Uhuk!" Aldan keselek saat minum teh. Rupanya ia salah paham. Soalnya tadi teriakan Aiza yang diiringi rintihan itu membuat bayangan Aldan jadi nggak karuan. Maklumlah, Aiza dan Akhmar kan pengantin baru, jadi dia pikir kebablasan sampai- sampai teriak- teriak begitu.
"Maaf, Mas salah paham," ucap Aldan merasa menyesal.
"Lagi pula kami nggak akan mungkin rame banget begitu kalau sedang anu..." Akhmar kesulitan menjelaskan. "Kami tau adabnya."
Aldan melempar senyum. "Maaf maaf, Mas salah duga. Sakitnya parah ya?" Aldan bangkit berdiri.
"Lumayan. Nanti akan aku carikan obat," jawab Akhmar. "Ya pergilah cari obat secepatnya, biar cepat sembuh."
"Mas nggak kerja hari ini? Tumben jam segini masih di rumah?" tanya Akhmar.
"Bentar lagi."
"Oke, aku pergi dulu." Akhmar berpamitan. Ia berlalu meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Bersambung