
Akhmar membukakan pintu mobil untuk Aiza yang langsung dibalas dengan senyuman lebar oleh wanita itu.
Aiza terkesima diperlakukan bak ratu. Tumben Akhmar membukakan pintu mobil untuknya?
Mobil melesat di jalan raya. Terdengar irama musik romantis lagu Aisyah dan Rosulullah yang menggema di dalam mobil. benar- benar menenangkan. Aiza membuka hape dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Ismail. Juga ada chat masuk dari sumber nama yang sama menanyakan keberadaan Aiza.
Aiza hanya menjawab kalau ia sedang have fun bersama dengan teman- temannya. Setelah itu, tak ada lagi balasan dari Ismail.
Demikian pula Akhmar yang diam- diam sejak di kamar tadi melihat panggilan tak terjawab dari Ismail. Mertuanya itu memerintah Akhmar agar meninjau lokasi pembangunan pondok pesantren. Namun Akhmar tidak membalasnya. Ia sudah jengah dengan segala peraturan yang diberikan oleh mertuanya itu.
Di tengah senyum yang mengembang, Aiza tiba- tiba menegakkan punggung saat menyadari arah jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju pulang.
“Kita mau kemana lagi nih?” tanya Aiza.
“Aku akan mempertemukanmu dengan seseorang.”
“Siapa?” Aiza penasaran.
Akhmar hanya diam.
__ADS_1
“Kalau kita kelamaan jalan berduaan, bisa- bisa abah curiga.”
“Abah kan nggak tau kalau kita berduaan.” Akhmar tampak rileks.
“Sejak tadi abah nelepon mulu. Aku nggak bisa bohong terus.”
“Apa yang dilakukan abah adalah keliru, maka kita nggak perlu merasa cemas melakukan hal ini.” Akhmar berbicara dengan nada lembut, menenangkan istrinya.
Duuh… adem banget saat dinasihati suami begini. Akhmar yang sekarang benar- benar beda jauh dengan Akhmar yang dulu. Sepertinya Akhmar mengamalkan sunah Rosul.
Akhmar lalu berbicara melalui via telepon. “Gue ke sana. jangan kemana- mana ya! ada hal penting yang mau gue omongin!”
Setibanya di sebuah rumah mewah, Akhmar membelokkan mobil. tampak Atep tengah berdiri nyender di badan mobil yang sama seperti mobil yang dia naiki saat meninggalkan hotel. Sepertinya Atep baru saja sampai dan ia sengaja menunggu di sana.
“Ini rumahnya Atep?” tanya Aiza mengedarkan pandangan ke rumah mewah itu.
“Ya,” jawab Akhmar.
“Untuk apa kamu membawaku kemari?”
__ADS_1
“Atep itu suka sama kamu dan dia nggak percaya kalau kamu itu istriku akibat pernyataanmu tempo hari. Ayo turun!” Akhmar melepas sabuk pengaman dan turun. Disusul oleh Aiza yang baru memahami maksud dan tujuan Akhmar membawaya ke sana.
Wah wah, Akhmar gercep banget ini bertindak, tak mau istrinya dilirik teman.
Senyum Atep memudar melihat Akhmar turun dari mobil bersama dengan Aiza. Heran bercampur kecewa. Gadis pujaannya berada di satu mobil bersama dengan laki- laki lain.
“Kalian bersama- sama?” tanya Atep.
“Ya,” jawab Akhmar. “Gue hanya ingin memperkenalkan lo dnegan istri gue. Ini, Aiza!” ucap Akhmar menatap istrinya.
Aiza tersenyum dan memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi. “Iya, jadi aku ini istrinya Akhmar. Kami udah menikah beberapa minggu yang lalu.”
Raut kecewa sekaligus patah hati langsung terlihat jelas di wajah Atep, kulit wajahnya yang putih pun memerah. Lesu dan loyo. Kalau tidak ada orang, ia pasti sudah berguling bebas sambil mencakar- cakar tanah dan mnangis pilu.
“Aku sempat bilang kalau aku ini nggak pacaran sama Akhmar karena memang hubungan kami bukan sekedar pacaran, tapi sepasang suami istri. Dan ada banyak hal pribadi yang nggak bisa aku sampaikan ke kamu. Maaf, aku nggak bermaksud membuat kamu jadi salah paham,” ucap Aiza menjelaskan.
Atep masih terlihat lemas. Patah hati memberikan efek kontan. Langsung tak bertenaga dan bahkan muka memucat.
Bersambung
__ADS_1