Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Menggemaskan


__ADS_3

Semalaman dikurung di kamar tak membuat Akhmar menjadi jemu. Ia masih bisa video call dengan sang istri, sampai jam sepuluh malam, ia video call bersama dengan  Aiza, nyaris seperti orang pacaran.


Paginya, Ismail membukakan pintu untuknya. Mertuanya itu mengajak Akhmar ke lokasi pembangunan pondok pesantren. Ia ingin mengejek hasil kerjanya Akhmar, dan ternyata sampai di tahap ini, tidak ada celah cacat yang perlu dihakimi olehnya. Pekerjaan Akhmar sempurna baik. 


Meski demikian, masih saja Akhmar itu terlihat buruk di mata Ismail. Apa saja yang dikatakan oleh Akhmar selalu salah.


Jika kondisi itu telah terjadi, Akhmar pun memilih untuk menjauh dari mertuanya itu, setidaknya ia tidak lagi melihat muka mertuanya dulu, sebab ia takut kepalan tangannya malah melayang dan menjadikannya kualat karena telah membuat mertua terkapar di lantai dengan sekali tabok.


Tidak. Itu tidak boleh terjadi.


"Akhmar, aku bawain ini buat kamu!" Aiza datang membawa sebuah tupperware berisi makanan lezat hasil masakan Qanita.


Akhmar terkesima mendengar suara istrinya, menggemaskan sekali. Sayangnya ia belum bisa menyentuh istrinya itu meski sejujurnya ia sangat ingin. Ini gegara mertua bahlul, sembarangan melarang ini dan itu.


"Loh, kamu kemari?" tanya Akhmar.


"Iya. Sengaja bawain ini buat kamu sama abah."


"Buat abah juga?" tanya Akhmar tampak kurang berkenan.

__ADS_1


Aiza mengangguk, mengerti letak kekesalan suaminya.


"Abah ada di sana!" Akhmar menunjuk Ismail yang ada si kejauhan dan sejak tadi Ismail tampak sibuk dengan para pekerja bangunan yang sedang beraktifitas.


Akhmar mengambil tempe mendoan yang masih hangat dan mengunyahnya. Tap tup tap tup, makanan pun ludes, tanpa sisa.


Aiza hanya bisa terbengong, makanan sebanyak itu dihabiskan sendiri oleh Akhmar.


"Kamu nggak mau nyisain sedikit makanannya untuk abah?" tanya Aiza heran.


"Nggak usah. Abah sejak tadi terus- terusan nyalahin omonganku. Ini bawaannya jadi kesel." Akhmar menggandeng tangan Aiza dan menariknya berjalan menjauhi lokasi itu.


"Mau kemana?" tanya Aiza.


"Nanti abah marah kalau kamu pergi gitu aja. Kasian abah, entar jantungan kalau marah- marah mulu," bujuk Aiza.


Akhmar tersenyum simpul. Ia membukakan pintu mobilnya untuk Aiza. "Ayo, silakan duduk, istriku! Aku akan kembali dan minta ijin sama abah untuk pergi."


Aiza hanya bisa mengulum senyum. Mengangguk dan masuk ke mobil.

__ADS_1


Akhmar menemui Ismail. "Abah, aku pergi duluan, ada pekerjaan yang harus segera akau handle," pamit Akhmar.


"Aku tidak mengijinkan kamu pergi. Urusanmu di sini belum kelar!" tegas Ismail ketus.


Ya ampun, untung saja tua.


Sabar sabar sabar. Akhmar melepas napas berat. Sebenarnya ia benar- benar sudah tidak sabar. Makin lama Ismail makin menjadi. Bahkan sikap baik Akhmar selama ini sama sekali tak terlihat di matanya. Ugh, untung saja Akhmar masih memilki sebongkah kesabaran yang membuatnya bisa bertahan sampai di titik ini.


"Kan di sini ada abah yang urus. Sedangkan pekerjaanku terbengkalai. Kalau pekerjaanku bangkrut, Aiza juga yang jadi korban. Kasian dia punya suami miskin." Akhmar melempar senyum tenang.


Perkataan Akhmar nyangkut juga di pikiran Ismail. Benar apa kata Akhmar, kalau pekerjaan Akhmar terbengkalai dan dia malah jadi bangkrut, Aiza juga yang malah jadi kasian.


"Lalu kenapa masih di sini?"


Akhmar mengulas senyum lebar dan melenggang pergi. Ia menyusul Aiza masuk ke mobil. 


"Berhasil?" tanya Aiza.


Akhmar mengangguk.

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan area itu.


Bersambung


__ADS_2