
“Sama seperti kamu, yang meninggalkan aku di hari pernikahan. Itu salah. Tapi kenapa kamu lakukan? Apa bedanya dengan kak Zahra?” protes Aiza.
“Aiza, aku lakukan itu karena banyak alasan. Dan salah satunya adalah karena aku sudah melakukan kewajibanku menikahi mu. Sedangkan pesta pernikahan itu bukanlah sebuah kewajiban. Tidak dilakukan pun tidak apa- apa. Ada hati lain yang harus aku jaga meski aku harus mengorbankan dua hati yang lain. Nggak ada celah dosa di situ. Tapi Kak Zahra? Dia meninggalkan tanggung jawab yang sebelumnya sudah dia sanggupi. Bahkan dia pergi bersama dengan laki- laki yang bukan mahram. Meski di luar sana dia nggak melakukan apa- apa dengan Adnan, tapi bagaimana dengan pandangan orang tuamu?”
“Ya, aku tau Kak Zahra memang salah. Tapi apa salah kalau aku ingin mencarinya dan meluruskan yang salah?” Aiza menatap Akhmar.
Tercetak senyum skeptis di wajah Akhmar. “Well, aku tau nggak ada manusia yang sempurna. Dan Kak Zahra sedang keliru sekarang. Aku akan bantu mencarinya.”
Suara getar ponsel mengalihkan perhatian Aiza. Sekilas Aiza menatap ke arah ponsel dan membiarkannya. Sebenarnya Aiza sedang malas berurusan dnegan hape. Namun saat sekilas melihat nama Zahra pada isi chat yang menggantung di layar, ia segera meraih benda itu dan langsung membuka isi chat yang memakai nomer baru itu. nomer hape Zahra selama ini sudah tidak aktif.
.
( Aiza, ini Kak Zahra )
( Bisakah ketemu sama kakak? )
( Balas kalau mau ya? )
.
Aiza membelalak dengan perasaan terkejut, akhirnya Zahra menghubunginya. Ia lalu menoleh ke arah Akhmar. “Ini Kak Zahra ngajakin ketemuan.”
“Ya udah, temui dia!”
Cara Akhmar menjawab sangat dewasa, nada suaranya menenangkan. Senang sekali punya suami begini.
__ADS_1
“Oke, aku jawab dulu.” Jantung Aiza deg- degan. Rasanya campur aduk. Antara ingin marah, rindu, bahagia dan kesal berbaur jadi satu. Ia kesal dan marah karena Zahra telah lari dari tanggung jawab sehingga Aiza yang harus menanggung korban akibat tingkah laku kakaknya itu. namun bahagia karena akhirnya kakaknya itu ditemukan juga. rasa rindu ingin bertemu tetap saja membuncah meski ia tahu bahwa kakaknya itu telah melakukan kesalahan.
Dulu, saat Aiza berada di dalam kesulitan dan tidak seorang pun yang mempercayai dan mendukungnya, hanya Zahra yang mempercayai dan memberikan dukungan terhadapnya, baik matil maupun spiritual. Mungkin itulah sebabnya Aiza masih bisa merindukan kakaknya meski kesalahan fatal Zahra telah membuatnya diserbu masalah besar.
Aiza mengetik pesan yang langsung dikirim kepada Zahra.
.
( Iya, Kak Zahra. Aku akan menemuimu.)
.
Zahra lalu membalas lagi.
.
.
Aiza berpikir sebentar. Ia berniat akan mengajak Akhmar. Tapi Zahra memintanya untuk tidak membawa siapa- siapa.
“Iyakan saja!” ucap Akhmar yang melongokkan kepala dan melirik isi chat.
“Aku mau ditemani kamu.”
“Aku akan menemanimu,” jawab Akhmar.
__ADS_1
“Gimana aku akan menjawab Kak Zahra? Nanti aku bohong dong?”
Akhmar mengambil hape milik Aiza dan mengetik untuk membalas chat itu.
.
( Kirimkan alamatmu. )
.
Oh… Kalau begitu, artinya Aiza tidak mengiyakan permintaan Zahra. Akhmar memang pintar untuk soal pelesetan begini. Duuuh… makin sayang.
Tak lama ada chat masuk. Dari Zahra yang menyebutkan alamat lengkap.
“Nah ini alamatnya udah dikirim. Ayo kita ke sana!” Aiza bersemangat dan langsung berdiri.
“Hei, habiskan dulu makananmu!” Akhmar menarik lengan Aiza dan menariknya hingga wanita itu kembali terduduk.
Pandangan Aiza tertuju ke arah piring yang isinya masih bersisa.
Alis Akhmar terangkat dengan dagu menunjuk ke piring.
Kenapa Aiza tidak berkutik melihat sikap dan raut wajah Akhmar yang begini. Apa lagi tatapan mata pria itu terasa menusuk jantung. Aiza seperti diremot, ia menyantap makanannya sampai habis.
Bersambung
__ADS_1