Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Kualat


__ADS_3

Akhmar menyetir mobilnya sambil memutar sholawat nabi yang menggema melalui speaker mobil. Aiza duduk di sisinya, sedangkan Zahra dan Adnan duduk di kursi belakang.


"Aiza, kira- kira abah mau menerima kakak pulang nggak ya?" Zahra mulai cemas.


Adnan melirik gadis di sisinya. Kepalanya menganggguk memberi dukungan.


"Kita kan udah bahas ini tadi kak, segala resiko harus kita hadapi," jawab Aiza.


Zahra akhirnya tampak lebih tenang.


Hampir seharian Mereka menghabiskan waktu bersama, bahkan sempat makan nasi bungkus bersama di kos- an. Kini mereka memutuskan untuk pulang siap menanggung resiko yang kemungkinan muncul.


Mobil berbelok memasuki area halaman rumah yang luas.


Adnan dan Zahra baru saja turun dari mobil ketika mobil Ismail berbelok memasuki halaman rumah. Tak lama pria paruh baya itu turun dan menatap tajam ke arah Zahra, juga Adnan.


"Abah!" panggil Zahra kemudian menghambur dan memeluk kaki Ismail sambil tersedu sedan. "Maafin Zahra. Zahra salah. Maaf, abah!"

__ADS_1


"Jangan pernah muncul di hadapanku! Kau bukan anakku lagi! Aku nggak akan pernah memaafkanmu selamanya! Pergi kau!" Ismail kemudian menatap Adnan.  “Kau juga, laki- laki tidak beradab!  Beraninya membawa kabur anak gadis orang!  sudah kau apakan saja Zahra selama kau membawanya, huh?”


“Pak, demi Allah, saya menjauhi Zahra selama bersamanya,” ucap Adnan dengan ekspresi agak gusar.  Bagaimana tidak?  Muka Ismail seram sekali.  


“Sudah!  Kalian pergilah dari hadapanku!  Tidak ada kata maaf bagi kalian berdua!  Bikin malu saja!”  Ismail melangkah masuk ke rumah, mendorong masuk Qanita yang baru saja muncul di pintu dan langsung menutup pintu tersebut dengan sentakan kuat.


Akhmar yang menyaksikan kejadian itu, langsung berlari mendekati pintu yang baru saja tertutup.  “Abah, kalau abah begitu terus, abah akan cepat kena stroke dan serangan jantung!  Mengekspresikan kemarahan adalah bentuk membuang sampah di depan umum.  Bukankah seharusnya kita mencari ampunan Tuhan? Bahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi hanya disediakan orang- orang yang bertaqwa, salah satunya orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang.”


Tak ada balasan dari dalam.  Akhmar tahu Ismail masih ada di balik pintu.  Sebab baju mertuanya itu kejepit di celah pintu yang tertutup.


“Abah, orang yang kuat itu bukan yang jago gulat, tapi orang yang sanggup menahan diri saat marah dan memaafkan orang lain,” seru Akhmar sambil garuk- garuk caruk leher.  Akhmar tahu si abah masih ngumpet di balik pintu.  


“Abah yang baik, marah itu perbuatan setan.  Dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu hanya dapat dipadamkan dengan air, maka itu, kalau abah sedang marah, ambil air wudhu aja,” sambung Akhmar.  Senyumnya makin mengembang.  Ia yakin abahnya itu akan semakin marah karena merasa digurui.


“Di akhirat nanti, Allah akan memanggil sosok manusia yang sanggup menahan amarah, hingga Allah menyuruhnya memilih bidadari manakah yang disukainya.  Para wanita di dunia ini kalah kalau dibandingkan dengan bidadari surga!” imbuh AKhmar lagi.


Pintu akhirnya terbuka.

__ADS_1


Syuuut…


Sandal melayang, tak lain sandal yang baru saja dilepas Ismail dan dia melemparkannya ke arah Akhmar.


Plak!  Sandal mendarat di lantai teras sesaat setelah melayang di udara.  Akhmar gesit berkelit hingga sandal hanya mengenai udara.


“Jangan lancang kau menceramahi aku!  Ilmu agamamu nggak sebanding dengan ilmuku!” gertak Ismail semakin emosi.


“Bukankah udah seharusnya kita saling mengingatkan, Abah?” Akhmar menampilkan senyum lebar supaya kemarahan Ismail luntur.


Tapi tidak demikian, justru muka macan yang muncul di wajah itu, serem.


“Berhenti bicara!  Jangan sok pintar kamu!” hardik Ismail kemudian kembali menutup pintu dengan kuat.  Brak!


“Aduh!”  Terdengar suara Ismail mengaduh kesakitan.  Kali ini jari tangan Ismail yang kejepit setelah tadi bajunya.  Pintu pun tidak tertutup dengan sempurna.  Dia lalu kembali menutup pintu dan menguncinya.  Kali ini berhasil.


Hm… kualat nih orang tua, hari- hari marah- marah mulu, akibatnya dibayar kontan sama Tuhan.  Kejepit tuh jari.  Pasti sakit.  Pingin ketawa jahat tapi takut durhaka.

__ADS_1


Akhmar menoleh ke balakang, menatap Aiza yang hanya bisa nyengir akibat merasa ngilu melihat jari abahnya kejepit pintu yang ditutup dengan sentakan kuat.  Entah bagaimana itu rasanya, pasti sakit banget.


Bersambung


__ADS_2