
“Kita pergi sekarang?” ajak Aiza setelah meneguk minum.
“Ya. sekarang.”
Tiba- tiba terdengar suara mengguntur keras dari arah luar. “Aiza!”
Tak lain suara Ismail.
Aiza dan Akhmar bertukar pandang.
Aiza tahu apa yang akan terjadi kalau saja Ismail mendapati Akhmar yang kini ada di kamarnya. Kamar itu adalah area terlarang untuk dipijak oleh Akhmar.
Sebaliknya Akhmar yang malah terlihat anteng saja, tenang dan tak sedikit pun gugup. Ia hanya geleng kepala sebentar dan bahkan malah meletakkan kepala ke sandaran kursi yang ada di hadapannya.
"Akhmar itu abah, kamu bisa digunting abis kalau ketahuan ada di sini." Aiza panik. Ia tahu kalau Ismail tidak main- main dalam ancamannya.
Akhmar mengangkat kepala, menatap wajah cantik Aiza yang tampak panik. "Lebih baik abah tahu kalau aku mendatangimu di kamar ini, namanya juga suami istri. Palingan abah kebakaran jenggot sendiri."
"Akhmar, kamu benar, tapi ini situasinya berbeda. Lebih baik mengalah dulu, bukan berarti kalah. Sabar!" Aiza menarik lengan Akhmar supaya bangkit berdiri.
Pria itu terpaksa menurut.
__ADS_1
"Aiza, kamu bicara sama siapa?" Suara Ismail semakin dekat. Langkahnya terdengar sangat cepat.
Ismail memegang handle pintu dan mendorongnya kuat, pintu terbuka. Sorot matanya tajam mengawasi ke dalam. Baru saja beberapa menit ia meninggalkan rumah, tapi Aiza sudah melakukan sesuatu yang mencurigakan. Pandangannya mengedar ke seisi ruangan, hanya ada Aiza sendirian yang tengah duduk di kursi sambil memegangi gelas yang sepertinya isinya baru saja ia teguk.
"Ada apa, abah?" tanya Aiza dengan senyum.
"Abah mendengar suara orang di sini. Kamu bicara sama siapa?" Ismail masuk ke kamar, celingukan meneliti. Pandangannya liar ke setiap sudut ruangan mencari- cari.
"Aiza barusan nelepon. Kenapa, abah?"
Ismail mengendus- endus. Hidungnya kembang kempis. "Abah mencium aroma mencurigakan. Wangi badan Akhmar," celetuk Ismail sambil terus mengendus.
"Aiza lagi mau nyetruka baju Akhmar, abah. Tuh!" Aiza menunjuk ke keranjang dimana pakaian Akhmar dan juga pakaian miliknya teronggok di sana. Untung saja ada pakaian itu, setidaknya pakaian itu bisa menjadi alasan untuk menyelamatkannya dari kecurigaan Ismail.
Ismail tak peduli dengan perkataan Aiza, ia terus mengendus kemudian ke kamar mandi, membuka lemari, dan mengintip ke kolong dipan kasur.
"Abah nyari apaan sih?" Aiza mulai cemas. Takut abahnya akan menemukan Akhmar yang sekarang tengah bersembunyi. "Abah bukannya udah pergi tadi, kenapa balik lagi?"
"Hape abah ketinggalan. O ya, Akhmar dimana?"
"Mungkin di kamarnya, atau mungkin di dapur. Nggak tau, abah."
__ADS_1
Duuuh.. dosa nggak sih bohong gini? Udah nikah pun masih kucing- kucingan aja.
Ismail melangkah keluar. Ia berteriak memanggil Akhmar.
Cepat Akhmar keluar dari balik guci berukuran besar, lebih besar dari tubuh manusia.
"Cepetan!" titah Aiza.
"Kalau aja kamu nggak memintaku untuk bersembunyi, ini nggak akan aku lakukan. Aku melakukan ini hanya demi kamu," bisik Akhmar kemudian menyelinap keluar rumah melalui pintu samping. Memutari teras rumah menuju ke samping dan masuk rumah lagi melalui pintu samping rumah lainnya supaya seakan- akan terlihat berasal dari arah lain, intinya supaya tidak dicurigai berada di kamar Aiza tadi.
"Abah memanggilku?" tanya Akhmar dengan rileks saat bertemu dengan Ismail di ruang tamu.
Melihat raut wajah Akhmar yang tidak gugup dan seperti tanpa dosa, Ismail hanya meneliti wajah itu saja tanpa bicara apa pun. Kemudian melengos pergi setelah menyambar hape di atas meja.
Akhmar menoleh ke arah Aiza yang mengintip dari pintu ruangan lain. Wanita itu tersenyum simpul sambil menghambur keluar, lalu berkata, "Aman. Yuk pergi!"
Akhmar melenggang mengikuti wanita itu. Mereka menggunakan mobil milik Akhmar.
***
Bersambung
__ADS_1