
"Loh?" Aiza terkejut saat tubuhnya terangkat. Akhmar menggendongnya. Sontak lengannya mengalung di leher Akhmar karena takut jatuh. Ia jadi ingat kejadian beberapa tahun silam, saat ia dikejar warga dan ujung- ujungnya digendong begini oleh Akhmar. Kenangan itu mencekam, namun manis bila diingat. Semuanya terjadi karena kepepet.
Di jarak sedekat itu, pandangan Aiza begitu dekat dengan rahang kokoh Akhmar, serta leher berotot dan juga dagu yang ditumbuhi bulu halus.
"Jangan digendong! Malu diliatin orang!" ucap Aiza kikuk, takut diperhatiin orang banyak.
"Pejam mata aja biar nggak tau bagaimana pandangan orang- orang yang melihatmu!"
Seperti diremote, Aiza sontak memejamkan mata. Dan benar, ia merasa aman dengan tidak melihat pandangan orang- orang di sekitar. Terserah orang mau bilang apa, ia sudah terlanjur nyaman di posisi itu, merasakan ayunan di setiap langkah Akhmar yang terus bergerak.
Aneh, kok lama banget ya Akhmar berjalan cuma buat masuk ke kafe doang? Bukannya hanya tinggal berjalan beberapa langkah saja mereka seharusnya sudah sampai ya?
Setelah menikmati nyamannya digendong oleh Akhmar, akhirnya tubuh Aiza didudukkan di sebuah kursi.
Akhirnya sampai juga.
Saat itulah Aiza membuka mata. Ia mengira beberapa pasang mata yang duduk di meja tak jauh darinya akan menatapnya dengan pandangan menilai- nilai, tapi ternyata dugaannya salah. Tidak ada meja di sekitarnya. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Hanya ada ranjang king size, lemari dan perabotan isi kamar selayaknya.
"Loh?" Aiza kaget. Kenapa malah ada di kamar?
"Kamu nggak sedang berada di kafe sekarang, tapi di kamar!" Senyum Akhmar mengembang, ia jongkok di hadapan Aiza hingga kini Aiza mesti harus menunduk untuk menjangkau wajah Akhmar di bawah.
"Kamar siapa?"
__ADS_1
"Hotel."
"Hah?" Aiza kaget. Pantesan tadi Akhmar cukup lama berjalan sambil menggendongnya, rupanya ia dibawa ke hotel yang tepatnya bersebelahan dengan kafe tadi. Cukup membelokkan langkah saja, Akhmar sudah bisa langsung membawa Aiza ke kamar itu.
Akhmar menyentuh pergelangan kaki Aiza, melepas sepatu high heels yang ada di kaki putih itu.
Kok jadi makin deg- degan gini Akhmar menyentuh kakinya? Apa lagi sentuhan Akhmar berbeda.
"Kamu mau ngapain?" tanya Aiza.
Akhmar kembali mengangkat wajah. Lalu tersenyum lagi. "Nggak usah tegang begitu. Aku mau urut kaki kamu yang keseleo."
"Memangnya bisa?"
"Hei, kalau salah urut, bisa tambah parah entar!" Aiza menarik kembali kakinya dari pegangan Akhmar, takut salah urut.
"Enggak. Tenang aja!" Akhmar kembali meraih kaki Aiza lalu mulai melakukan gerakan urut. "Sakit?"
"Enggak."
Beberapa menit setelah menjawab enggak, rasa sakit mulai dirasakan oleh Aiza. Pijitan Akhmar agak keras.
"Adudududuh..." Aiza menjerit kecil.
__ADS_1
Tak peduli dengan jeritan Aiza, Akhmar terus melakukan aksinya.
"Udah udah..." pinta Aiza.
Akhmar masih melanjutkan pekerjaannya sampai ia menyudahi pekerjaan itu sendiri.
"Duuh, kamu mau patahin kakiku atau gimana sih?" protes Aiza.
"Sekarang coba jalan, mungkin udah mendingan," ucap Akhmar yang langsung bangkit berdiri untuk memberi kesempata pada Aiza supaya berjalan.
Aiza menuruti titah sang suami, mulai menapaki lantai dan berjalan. Oh.. kakinya sudah enakan. Tidak ada rasa nyeri. Wah wah.. Akhmar ternyata suami multifungsi, jadi mbah dukun pun bisa juga.
Beberapa detik kemudian, hape milik Akhmar berdering. Setelah tadi menginterogasi Aiza, Ismail gantian menelepon Akhmar. Paling mau menginterogasi juga.
Akhmar hanya mengedikkan bahu, malas menjawab telepon.
"Genderuwo itu siapa?" tanya Aiza yang menatap ke arah hape Akhmar dan mendapati nama Genderuwo tengah menelepon.
Tawa Akhmar pecah. "Ini mertuaku."
"Maksudnya abah?" Aiza mengernyit.
Akhmar hanya menatap Aiza tanpa memberikan jawaban, tak tega mengiyakan meski sebenarnya memang iya. Duh, entah setelah ini Tuhan mungkin akan menghukumnya, gegara jadi menantu kualat begini.
__ADS_1
Bersambung