
Keesokan harinya.
Di kamar Erren yang bernuansa hitam putih Ellena pun menatap diam ke arah Erren yang sedang duduk terdiam di depan meja belajarnya sambil menatap penuh fokus ke arah buku yang berada di hadapannya itu.
Sudah kebiasaan bagi seorang Erren Aghanta Gorneo Aditya untuk bangun lebih awal saat masa - masa sekolah untuk belajar lebih dahulu setelah membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke sekolah itu.
" Rajin banget anak Mama... " Kata Ellena yang berjalan menuju sang anak sambil membawa tumpukan baju milik Erren yang sudah bersih dan di lipat dengan rapi itu.
Erren yang mendengar suara Mamanya pun menoleh kemudian tersenyum kecil lalu kembali fokus menatap bukunya itu.
" Udah kebiasaan ma... " Kata Erren dengan tatapan yang masih menatap fokus ke arah bukunya itu.
" Ohh, Mama cuma berharap Erren bisa nikmatin masa kecil Erren untuk ngak memikirkan hal - hal yang berat - berat... " Kata Ellena sambil meletskkan baju - baju milik putranya ke dalam lemari itu.
" Mama ngak Erren kayak gini... " Kata Erren sambil menatap ke arah Ellena yang juga ikut menatap ke arahnya itu.
Kemudian Ellena pun menghembuskan nafasnya lelah sambil menutup lemari, lalu berjalan menuju meja belajarnya milik putranya itu.
" Bukan begitu, Mama bangga punya anak seperti Erren yang memilki banyak bakat yang ngak semua orang lain miliki. Tapi Mama ngak kalo sampek Erren menghabiskan masa kecil Erren hanya untuk belajar, belajar, dan belajar... " Kata Ellena sambil menatap penuh arti putranya itu.
" Akan ada saatnya Erren untuk terus fokus belajar. Tapi bukan sekarang Erren, seharusnya saat ini Erren hanya perlu memikirkan kesenangan Erren. Bermain bersama teman, menggambar, dan mulai bersosialisasi... " Lanjut Ellena terpotong itu.
" Bukan seperti sekarang ini, Erren hanya memikirkan belajar dan mempelajari sesuatu yang seharusnya Erren belum pelajari sekarang ini. Erren ngak pinter untuk membangun masa depan, Erren hanya perlu menjalani alur kehidupan ini yang akan membawa Erren pergi ke mana takdir Erren yang telah di tentukan oleh Tuhan. Bahkan tanpa Erren memikirkan tentang masa depan, Papa sama Mama sudah memikirkannya lebih dulu. Kami yang akan menjamin masa depan Erren, jadi Erren ngak perlu khawatir... " Kata Ellena yang mulai mengeluarkan segala keluh kesah yang tersimpan dalam hatinya selama ini itu.
" Papa sama Mama ngak mau kalo Erren dewasa sebelum waktunya... " Kata Ellena yang menundukkan kepalanya dengan memori di kepalanya yang terputar momen - momen di mana perkembangan putranya yang begitu cepat di bandingkan anak - anak yang lainnya itu.
__ADS_1
" Maaf ma, kalo pertumbuhan Erren bikin Mama khawatir. Tapi Erren nyaman dengan kehidupan Erren sekarang, bukannya Erren ngak bisa bersosialisasi hanya mungkin Erren belum mendapat teman yang baik menurut Erren... " Balas Erren setelah sekian lama terdiam mendengarkan segala isi hati Mama tercintanya itu.
" Mama ngak perlu khawatir ini keinginan Erren sendiri bukan paksaan. Erren juga main kok teman - teman cuma Erren lebih menyendiri untuk belajar banyak hal tentang dunia ini, Mama mau kan terus bimbing Erren jadi anak baik dan bisa banggain Papa dan Mama... " Kata Erren sambil menggenggam kedua tangan Ellena itu.
Ellena pun mengangkat kepalanya lalu menatap putra nya sambil tersenyum bangga padanya itu.
" Papa sama selalu bangga sama Erren. Karena itu Papa sama Mama ngak pernah ragu untuk nyerahin tanggung jawab Ellana ke Erren. Bimbing adik kamu yah sayang, Mama yakin Erren bisa jadi kakak yang baik buat Ellana... " Kata Ellena sambil mengelus rambut putranya dengan lembut itu.
" Erren akan berusaha buat jadi Kakak yang baik buat Ella. Makasih udah mau ngelahirin Erren ke dunia ini Ma... " Kata Erren kemudian memeluk erat tubuh Ellana itu.
" Ma-af, maafin Mama Erren. Mama udah bohong ke Erren... " Batin batin Ellena yang membalas pelukan erat sang putra dan tanpa sadar lelehan air telah mengalir deras tanpa aba - aba di atas pipinya itu.
Ellena tak munafik untuk tidak pernah khawatir jika Erren mengetahui identitas nya yang sebenarnya, setiap hari Ellena terus di hantui rasa ketakutan apalagi melihat tumbuh kembang Erren yang begitu cepat membuat Ellena semakin takut. Jika akan ada orang jahat yang akan memberitahu semua kebenaran tersebut pada Erren karena merasa iri padanya itu.
" Papa minta maaf Erren... " Batin Elyon yang memang sejak tadi mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut di balik pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar sang putra itu.
Setelah itu Elyon pun pergi dan berjalan keluar dari kamarnya itu.
" Kita mending ke lantai dasar, karena Erren ngak mau sampek telat ke sekolah... " Kata Erren sambil merapikan buku - buku yang berada di atas meja belajarnya lalu memasukkan kedalam tas dan kemudian mengendongnya itu.
" Yok ma! " Ajak Erren sambil tersenyum kecil itu.
" Let's go!!! " Balas Ellena yang tersenyum lebar itu.
Ibu dan anak tersebut pun saling bergandengan tangan kemudian berjalan menuju lantai dasar rumah mereka untuk sarapan bersama di ruang makan itu.
Di ruang makan.
" Pagi! " Sapa Elyon dan Ellana saat melihat Ellena dan Erren yang berjalan menuju mereka itu.
" Too... " Balas Erren dan Ellena secara bersamaan itu.
__ADS_1
" Kita mulai sarapannya... " Kata Elyon setelah Ellena dan Erren duduk di kursi masing - masing itu.
Kemudian Elyon pun memimpin doa kemudian mereka pun sarapan dengan hikmat dan tak ada yang berbicara kecuali suara dentingan sendok dan piring yang sedang beradu itu.
Setelah sarapan selesai Ellena yang membawa tas kerja Elyon pun mengantar suami dan anak - anaknya ke depan pintu utama kediaman mereka itu.
CUP...
" Sayang, hati - hati di rumah. Kalo ada apa - apa telfone aku okay? " Kata Elyon setelah mengecup sayang istri nya itu.
" Iyah, kamu juga yang semangat kerjanya. Biar dapet uang banyak... " Kata Ellena yang kemudian tertawa kecil itu.
" Bahkan kalo aku ngak kerja selama setahun pun aku masih bisa nafkahin kamu sama anak - anak... " Kata Elyon setelah menggeleng - gelengkan kepalanya karena tingkah random istrinya itu.
Sedangkan Erren dan Ellana hanya menatap mata kedua orang tuanya, mereka sudah terbiasa melihat hal romantis yang di tebarkan oleh kedua orang tua mereka itu.
" Ma, kita berangkat dulu yah. Takut telat..." Kata Erren yang langsung menyalami tangan Ellena kemudian berjalan menuju mobil dengan sopir yang sudah standby di sampingnya itu.
" Ellana juga ma!!! " Kata Ellana yang langsung menyalami Ellena dan kemudian berlari menyusul kakaknya yang akan memasuki mobil itu.
" Dasar! Lihat tuh anak - anak kamu... " Kata Elyon setelah menggeleng - gelengkan kelapanya karena putra dan putrinya yang tidak ada menyalaminya itu.
" Anak - anak kamu juga kan... " Kata Ellena sambil tertawa kecil itu.
" Terserah, aku pergi dulu... " Kata Elyon yang kemudian berjalan menuju mobil yang di naiki oleh Erren dan Ellana tadi karena setiap berangkat sekolah maka Elyon akan selalu mengantarkan mereka sampai ke sekolah dengan selamat itu.
" Berangkat pak... " Kata Elyon setelah duduk di samping sopir pribadi keluarga nya itu.
" Baik Tuan besar... " Balas Sopir tersebut sambil sedikit menundukkan kepalanya itu.
Berbeda dengan Erren dan Ellana yang sedang duduk anteng sambil fokus ke layar tablet mereka masing - masing itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....