
" Api, tok adiknya Ndak di elut Mama? " Kata Erren yang mulai bingung itu.
Suasana pun sunyi karena pertanyaan labil dari bocah balita yang sedang menatap semua orang dengan tatapan penuh penasaran itu.
" Sini Mama gendong... " Kata Ellena yang langsung mengambil alih Erren kedalam gendongan nya itu.
" Kenapa dedek bayinya Ndak ada di perut Mama. Karena belum saatnya, kan Aunty Sherly Aunty nya Erren. Jadi dedek bayinya Aunty juga jadi dedek bayinya Erren... " Jelas Ellena pada putranya dengan penuh kesabaran itu.
" Belalti, anti di cini uga ada dedek Ayi nya..." Kata Erren sambil memegang perut datar Ellena itu.
" Iyah. Tapi Erren harus cepet besar, supaya dedek bayinya cepet di perut Mama... " Kata Elyon pada putranya itu.
" Ote! Elen Alus akan anyak bial cepet becal... " Kata Erren sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tangan nya itu.
" Nah gitu dong. Ini jagoan Papa... " Kata Elyon yang mengelus rambut putranya dengan penuh sayang itu.
" Ma. Elen au cu cupaya cepet becal... " Kata Erren pada Mamanya itu.
" Siap kapten! Bik Inah tolong buatin Erren susu Bik! " Kata Ellena yang meneriaki Bik Inah yang sedang berada di dapur itu.
" Siap Nona Muda... " Balas Bik Inah dari arah dapur itu.
" Ya udah yuk kita mulai buat nyelesaiin tugas... " Kata Ellina yang mulai mengajak mereka menyelesaikan tugas kampus mereka yang menumpuk itu.
Semua orang pun mulai memfokuskan diri dengan tugas mereka dan sedang bocah kecil yang berad di samping mereka sedang mencoret - coret buku yang sudah di sediakan Elyon agar tak mengganggu menyelesaikan tugas kampus mereka itu.
Beberapa detik kemudian Bik Inah pun datang membawa sebotol susu dot milik Erren dan balita kecil tersebut pun langsung menyambar botol dot nya kemudian langsung menghisapnya dengan semangat itu.
Waktu pun berlalu dengan cepat, Erren pun mulai yang bosan mencoret - coret buku pun tak sengaja melihat buku tulis Luwis yang bergambar mobil tersebut. Hal itu pun membuat Erren berbinar dan tertarik dengan gambar buku tulis tersebut.
Tanpa aba - aba Erren pun langsung menyahut buku tulis tersebut dengan senyum yang merekah itu.
Luwis pun terkejut saat terdapat tangan kecil yang langsung mengambil buku tulis milikkan yang tergeletak di sampingnya itu.
Ellena yang melihat itu pun langsung melotot karena perbuatan putranya yang terbilang tak sopan itu.
" Erren, kembali kan buku tulis milik om Luwis! Dan Erren juga harus minta maaf sama Om Luwisk karena udah mengambil barangnya tanpa izin... " Kata Ellena dengan nada suara sedikit di tegaskan itu.
" Api... Elen... Cuka... Ukunya... " Kata Erren dengan bibir yang cemberut dan jangan lupa kan mata nya yang sudah berkaca - kaca itu.
" Ngak pokoknya Erren harus kembalikan buku itu ke Om Luwis! Erren udah salah lho karena mengambil barang orang lain... " Kata Ellena yang berusaha menasihati Erren dengan pelan - pelan itu.
" Biarkan saja. Erren masih kecil, biarkan dia melakukan apa yang dia suka... " Kata Elyon yang membantu putranya agar tak terkena ceramah panjang dari istrinya itu.
" Ini semua karena kamu tahu ngak! Kalau kamu ngak manja in Erren dia ngak bakal berlaku seenaknya kayak gini! " Kata Ellena yang langsung menyalahkan Elyon yang terlalu memanjakan putra mereka itu.
Elyon pun hanya memasang wajah jengkel dengan istrinya yang tanpa sadar malah membela Luwis daripada putranya itu.
" Udah! Kok malah ribut. Ngak baik di lihat sama Erren... " Kata Ellen yang menengahi pertengkaran suami istri itu.
" Erren minta maaf sama Om Luwis oke? " Kata Ellen pada keponakan nya yang sudah duduk di pangkuan sejak kedua orang tua balita kecil tersebut bertengkar itu.
Erren pun mengangguk patuh pada perkataan Unclenya itu.
__ADS_1
" Ngak papa kok. Bukunya juga ngak terlalu penting... " Kata Luwis yang berusaha mencairkan suasana yang mulai menegang itu.
Sedangkan yang lainnya pun hanya menjadi penonton, karena mereka tahu jika mereka ikut campur maka konsekuensinya adalah ikut terkata siaraman ceramah panjang lebar Ellena yang pedas itu.
" Ndak papa. Elen inta app om, Elen Anji Ndak nakal agi. Nih... Ukunya Elen alikkin... " Kata Erren dengan senyum kecil sambil menyodorkan buku tulis tersebut ke arah Luwis itu.
" Ngak papa kok Erren ganteng. Sebagai gantinya Om kasih buku tulis itu buat Erren yah. Karena udah berani mengakui kesalahan Erren, serta meminta maaf... " Kata Luwis sambil mencubit kecil pipi Erren dengan gemas itu.
" Yeee!!! Akasih Om!!! " Kata Erren yang langsung loncat - loncat kegirangan karena dapat mendapatkan buku yang dia inginkan itu.
" Thanks. Sorry jadi ngak enak gw... " Kata Ellena pada Luwis itu.
" Santai ajah. Erren kan masih kecil jadi wajar kalau bersikap kayak gini... " Kata Luwis sambil tersenyum manis pada Ellena itu.
Sedangkan Elyon hanya bisa menatap tajam ke arah Luwis yang sudah berani tersenyum manis ke arah istrinya itu.
" Udah selesaikan masalahnya kan? Kita pamit ajah yah ini udah mau malem, lagian tugas kita juga udah selesai semua... " Kata Kanaya pada mereka itu.
" Ohh ya udah. Makasih udah mau ngeluangin waktu kalian ke sini... " Kata Ellena yang membalas perkataan Kanaya itu.
" Santai ajah. Thanks jugak minuman sama cemilannya... " Kata Gerio sambil menyengir kuda pada Ellena itu.
" Haha. Iyah... " Kata Ellena setelah tertawa kecil karena perkataan absrud Gerio itu.
Elyon pun hanya diam tanpa membuka suara sama sekali. Mungkin dia masih marah karena masalah beberapa menit lalu itu.
" Kita pergi dulu. Assalamualaikum... " Kata Argara dan yang lainnya itu.
" Wa'alaikumsalam... " Balas Elyon dan Ellena secara bersamaan itu.
Langkah Ellena pun terhenti saat akan memasuki lift sambil menggendong putra mereka yang sedang sibuk dengan buku yang di beri kan oleh Luwis tadi itu.
" Ngak kenapa - kenapa. Apa salahnya kita bermain - main... " Kata Ellena sambil tersenyum smrik itu.
" Huh. Terserah! " Kata Elyon dengan wajah kesal langsung berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamarnya itu.
" Marah tuh orang... " Kata Ellena yang mengangkan bahu nya acuh kemudian langsung memasuki lift menuju kamar putranya untuk membersihkan balita kecil tersebut karena hari yang hampir menjelang malem itu.
Sejak hari itu, kehidupan Ellena pun mulai tak tenang dengan banyak pesan chat serta surat dengan hadiah misterius yang selalu di kirim ke rumahnya. Tapi anehnya lagi hadiah tersebut selalu tak luput dari tema bunga matahari itu.
Di Kamar Erren.
Malam ini, Ellena sedang mencoba menidurkan Erren dengan membacakan dongeng yang di sukai bocah balita tersebut yaitu dongeng si kancil itu.
CUP....
Setelah beberapa menit, Erren pun telah masuk kedalam alam mimpinya. Ellena pun mengecup dahi putranya dengan sayang itu.
" Selamat malam anak Mama... " Kata Ellena dengan lirih setelah mengecup sayang dahi putranya itu.
Dengan langkah hati - hati, Ellena pun berjalan keluar dari kamar putranya sambil menutup pintu tersebut dengan perlahan agar tak membangunkan putranya itu.
Entah ada apa dengan Erren malam ini, biasanya bocah balita tersebut akan tidur bersama kedua orang tuanya walupun sudah memiliki kamarnya sendiri itu.
__ADS_1
Sudah selama beberapa hari yang lalu, Erren selalu meminta untuk tidur di kamarnya. Tetapi hal tersebut masih tak luput dengan tangisan bocah balita tersebut jika tak melihat wajah Papa nya saat bangun tidur itu.
Saat keluar kamar Erren, Ellena pun langsung melihat Elyon yang sudah tertidur di kasur mereka dengan pulas, karena dia yang menggunakan pintu yang langsung terhubung dengan kamar nya juga Elyon itu.
Ellena pun hanya diam duduk di pinggir ranjang sambil menatap wajah tampan nan polos milik Elyon saat tertidur. Setelah sholat isya' berjamaah tadi, laki - laki tersebut langsung menidurkan tubuhnya di kasur itu.
Mungkin karena hari ini suami Ellena tersebut sedang kelelahan karena setelah pulang dari kampus dia harus ke kantor, karena pekerjaan yang menumpuk itu.
Bahkan laki - laki tersebut melupakan makan siang dan malamnya karena terlalu banyak pekerjaan itu.
Ellena pun mengelus rambut Elyon dengan sayang. Sedangkan Elyon masih terlelap dengan wajah polosnya itu.
" Maaf, Lyon. Untung saja, tidak terjadi sesuatu padamu... " Kata Ellena yang kemudian mengecup bibir Elyon dengan singkat itu.
" Tidur yang nyenyak Lyon nya Lena... " Bisik Ellena lagi itu.
Selang beberapa detik, handphone milik Ellena di atas nakas pun berbunyi dengan sigap Ellena pun langsung mengambil handphone miliknya untuk memeriksanya itu.
081234×××××× : Beberapa hari yang
akan datang, aku akan
menagih janjimu.
081234×××××× : Hari itu memang tak
berhasil tapi belum tentu
dengan LAIN KALI.
Ellena : Gw ngak akan biarin itu
terjadi lagi. DASAR
BEDEBAH!
Setelah itu, Ellena pun langsung memblokir nomer tersebut dengan rasa kesal yang memuncak itu.
" Gw ngak akan kecolongan lagi... " Batin Ellena yang mulai memutar memori tentang kejadian beberapa hari yang lalu itu.
Saat itu, mobil yang akan di kendarai Elyon untuk pergi ke kantor di sabotase oleh orang misterius yang selalu meneror Ellena beberapa minggu belakangan ini.
Untung saja Elyon tak memakai mobil tersebut karena sedang dia pinjamkan oleh salah satu bodyguard nya itu.
Dan terjadilah kecelakaan tersebut yang seharusnya menargetkan Elyon tetapi malah berimbas pada salah satu bodyguard nya itu.
Saat mengingat hal ini, Ellena pun mulai waspada karena orang misterius tersebut sudah mulai bertindak keluar batas itu.
Sejak kejadian tersebut, Ellena pun mulai waspada dan berjalan dua langkah lebih unggul dari orang misterius itu.
Ellena hanya tak ingin kecolongan lagi dan dapat mengakibatkan salah - satu orang - orang nya tiada, sudah cukup sekali tidak ada kata dua kali lagi itu.
" Kau ingin bermain - main yah, maka akan ku wujudkan... " Batin Ellena sambil tersenyum smrik dengan otak yang sudah berputar untuk merencanakan sesuatu itu.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
Annyeong...👋👋👋