Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 72


__ADS_3

Saat mereka sedang nyaman dalam dekapan satu sama lain.


Tiba - tiba terdengar suara teriakan dari seseorang yang memanggil nama Ellena itu.


" ELLENA!!! " Teriak Sherly sambil berlari menghampiri Elyon dan Ellena yang masih saling berpelukan itu.


Sedangkan Ellena yang mendengar panggilan itu pun langsung melepaskan pelukannya pada Elyon dan menoleh ke arah Sherly dengan mata yang memerah dan bengkak karena menangis tadi itu.


" Kakak... " Lirih Ellena sambil menatap ke arah Sherly yang berlari menghampirinya itu.


GREP...


Suara pelukan itu.


Setelah itu, Sherly pun langsung memeluk tubuh Ellena dengan kuat itu.


" Hiks... Lo ngak papa kan? Hiks... Please... jangan bikin Gw khawatir lagi dengan Lo pergi dari rumah tanpa kasih tau gw... Hiks..." Kata Sherly yang memeluk tubuh Ellena sambil menangis karena sangat mengkhawatirkan Ellena itu.


" Ma-af... Hiks... Hiks... " Kata Ellena yang membalas pelukan ari Sherly sambil menangis sesenggukan karena merasa bersalah telah membuat kakak tersayang nya khawatir itu.


Dan mereka pun menangis sambil memeluk satu sama lainnya itu.


Sedangkan semua teman - teman mereka yang berada di sana hanya bisa menatap mereka dengan haru itu.


Beberapa menit kemudian, Sherly pun pun melepas pelukannya dari tubuh Ellena. Lalu mengusap pipi Ellena yang basah karena air matanya itu.


" Stop... Jangan nangis lagi, hmm... Nanti jelek ya ilang lho... Hahaha... " Kata Sherly sambil tertawa kecil itu.


" Kok jelek sih, harusnya kan cantiknya... " Kata Ellena yang menghapus air mata di pipi Sherly sambil sedikit memanyunkan bibirnya itu.


" Hahaha... " Tawa mereka berdua.


Kemudian mereka pun saling tertawa dan saling menghapus air mata di pipi mereka itu.


Semua orang yang melihat mereka pun hanya bisa diam sambil tersenyum kecil karena melihat keakraban kakak dan adik itu.


" By... Kamu Kakak yang hebat untuk Ellena..." Batin Ellen yang bahagia dengan keakraban istri dan juga adiknya itu.


Saat mereka hanyut dengan dunia mereka.


CKLEK...


Suara pintu yang terbuka itu.


Tiba - tiba terdengar suara pintu ruangan pemeriksaan Erren pun terbuka dan keluarlah seorang dokter laki - laki dari ruangan itu.


Mereka yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah pintu tersebut.


" Keluarga pasien atas nama Tuan Muda Erren...? " Tanya dokter itu.


" Saya Ibunya dok. Bagaimana dengan keadaan anak saya? " Tanya Ellena dengan panik sambil langsung berdiri dari tempat duduknya itu.


" Anda tidak perlu khawatir, keadaan tuan muda Erren sudah membaik. Mungkin karena syok jadi pasien pingsan dan saya sudah memberikan obat bius, agar pasien dapat beristirahat... " Jelas dokter tersebut sambil tersenyum ramah itu.


Semua orang yang mendengar perkataan dokter itu pun langsung menghela nafas lega, jika kondisi Erren tidak sangat parah itu.


" Apakah saya bisa melihat anak saya, dok? " Tanya Ellena sambil menghela nafas lega pada dokter itu.


" Tentu... " Balas dokter tersebut dengan senyum yang ramah itu.


" Bawa anak saya di ruangan VIP! " Kata Elyon dengan suara berat dan sedikit tegas itu.


" Baiklah Tuan Muda Gorneo Aditiya... Kalau begitu saya pamit pergi ke ruangan saya dulu... " Kata dokter itu sambil membungkukkan sedikit badan nya ke hadapan Elyon itu.


Dan kemudian dokter tersebut pun langsung berjalan menuju ruangan itu.


Kemudian Ellena pun langsung berjalan memasuki ruangan rawat anak nya itu.


" Erren... " Lirih Ellena yang air matanya mengalir dengan sempurna di atas pipi nya itu.


Kemudian Ellena pun menduduki kursi dekat dengan ranjang pasien Erren itu.


Ellena pun hanya bisa menangis sambil menatap tubuh mungil putranya yang memucat di atas ranjang pasien itu.


" Maafkan... Mama Erren... " Kata Ellena sambil menggenggam tangan mungil putranya yang sedikit dingin itu.


" Hiks... Hiks... Hiks... " Suara Ellena yang menangis sesenggukan sambil sambil menggenggam tangan mungil Erren dan menciuminya itu.


Mereka pun hanya bisa menatap Ellena dengan sendu baru pertama kalinya mereka melihat Ellena yang berada di titik terendah nya itu.


" Sabar dek, Erren pasti baik - baik. Keponakan Kakak itu kuat... " Kata Ellen yang mencoba menenangkan adiknya dengan mengelus punggung Ellena itu.


" Kak... " Lirih Ellena sambil langsung memeluk tubuh Ellen untuk menyalurkan rasa sedih yang menimpa dirinya itu.


Sedangkan Ellen hanya bisa mengelus rambut Ellena untuk menenangkan nya itu.


" Dek, kenapa kamu jadi lemah seperti ini? " Batin Ellen yang baru pertama kalinya dia melihat Ellena yang sangat terpuruk itu.


" Kak... Ini semua salah Ellena, Ellena yang udah bikin Erren kayak gini. Ibu macam apa aku? bahkan aku tak bisa menjaga putraku dengan baik... Haaaa... Hiks... Hiks... " Kata Ellena sambil menangis dengan keras itu.


" Hey Ellena sayang ya Kakak... " Panggil Ellen yang mengangkat kelapa adiknya agar dapat menatapnya itu.


" Ellena ngak salah, ini semua musibah Ellena. Jangan kayak gini, kasihan Erren dia butuh Mamanya... Jangan menyalahkan diri kamu sendiri okay? " Kata Ellen sambil menghapus air mata di pipi Kakak nya itu.


" Maaf, Ellena minta maaf... Hiks... Hiks..." Kata Ellena yang meletakkan kepalanya di perut Kalanya dan memeluknya dengan erat sambil menangis itu.


" Hustt... Udah jangan nangis lagi... " Kata Ellen sambil terus mengelus rambut Ellena untuk menenangkan nya itu.


" Hiks... Maaf... Ellena bikin kalian khawatir... Maaf... " Kata Ellena yang masih terus mengucapkan kata ' maaf ' itu.


" Udah dek, nanti ponakan Kakak bangun lho denger suara tangisan kamu yang kayak kaleng rombeng... " Kata Ellen yang mencoba menghibur adiknya itu.

__ADS_1


" Ihh... Kakak nyebelin... " Kata Ellena yang langsung melepaskan pelukannya pada Kakaknya dan memukuli lengannya Kakaknya itu.


" Hahaha... Nah gitu dong senyum kan cantik... " Kata Ellen sambil menghapus air mata adiknya di pipi cantik Ellena itu.


" Makasih Kak... Udah selalu ada buat Ellena... " Kata Ellena sambil tersenyum kecil dan memeluk kembali Kakak nya itu.


" Hmm... Sama - sama, ini udah tugas Kakak buat jaga kamu.. " Kata Ellen sambil membalas pelukan Erren itu.


Sedangkan Elyon yang melihat Ellena tersenyum kembali pun membuat hati menghangatkan itu.


Beberapa detik kemudian, Elyon pun mengepalkan tangannya sambil menatap tajam ke arah putranya yang masih terbaring lemah di atas ranjang dan tangan pun langsung mengepal dengan kuat itu.


" Sampah itu, yang udah bikin anak gw kayak gini... Dia akan tahu akibatnya berurusan dengan keluarga Gorneo Aditiya... " Kata Elyon yang tubuhnya mulai di selimuti oleh aura mematikannya itu.


Kemudian Elyon pun akan berjalan ke luar dari kamar rawat Putranya itu.


Sedangkan Gerio yang melihat itu pun langsung menoleh ke arah Elyon itu.


" Elyon, Mau kemana? " Tanya Gerio pada Elyon itu.


Kemudian semua orang pun langsung menoleh ke arah Elyon karena perkataan Gerio, begitu juga dengan Ellena yang langsung melepaskan pelukannya pada Ellen itu.


" Markas... " Balas Elyon sambil berjalan keluar dari kamar putranya sambil masih mengepalkan tangannya dengan kuat itu.


" Kita ikuti Bang Elyon... " Kata Argara pada Gerio itu.


Sedangkan Gerio yang mendengar perkataan Argara pun langsung mengerti dan menganggukkan kepalanya paham itu.


" Luciana Lo bakal habis di tangan Elyon... " Batin Gerio yang mengikuti Argara yang telah berjalan terlebih dulu untuk mengikuti Elyon itu.


Sedangkan Ellen yang melihat itu pun langsung menoleh ke arah Ellena itu.


" Apa semua baik - baik ajah? " Tanya Ellena yang khawatir dengan keadaan Suaminya yang sepertinya sangat marah besar itu.


" Tenang ajah dek, semua kan baik - baik ajah... Kakak pergi dulu, buat cek keadaan Elyon atau suami Lo itu bakal hancurin markas M-GA karena amarahnya... " Kata Ellen pada Ellena sambil mengelus pipi Ellena agar tak khawatir pada Elyon itu.


Kemudian Ellena pun menganggukkan kepalanya mengerti itu.


" Tolong jaga Lyon Kak... " Kata Ellena sambil memegang dengan lembut tangan Kakaknya yang berada di pipinya dan mengucap dengan penuh sayang di dahi adiknya itu.


Kemudian Ellena pun melepas tangannya di pipi Ellena dan menatap ke arah istrinya itu.


" Hati - hati... " Kata Sherly yang tersenyum kecil dengan lembut pada suaminya itu.


CUP...


Kemudian Ellen pun mengecup sekilas bibir ranum istrinya itu.


" Hmm... tolong jaga Ellena... " Kata Ellen pada istrinya itu.


" Pasti... " Balas Sherly yang pipinya mulai memerah sambil menganggukkan kepalanya mengerti itu.


Di Markas M-GA.


BRAK....


Suara pintu yang di tendang itu.


Semua orang yang berada di markas itu pun terkejut dan menoleh ke arah pintu yang di tendang dengan keras oleh Elyon itu.


Ya, yang menendang pintu itu adalah Elyon dengan wajah yang murka, mata yang menggelap, dan aura yang dia pancarkan pun dapat membuat semua orang yang berada di dekatnya akan sesak nafas itu.


" Mana ****** itu...? " Tanya Elyon dengan nada yang dingin itu.


" Di-di ru-ruang penyik-saan, bo-ss... " Kata salah satu anggota M-GA denagn nada yang terbata - bata itu.


Kemudian Elyon pun langsung menuju ruang penyiksaan dengan raut wajah yang masih dalam mode iblis itu.


Sedangkan di ruang penyiksaan Luciana yang terduduk dan tangannya yang terikat oleh tali dengan kuat pun terus meronta - ronta untuk di lepaskan itu.


" YAKKK!!! BAJINGAN!!! LEPASIN GW!!! " Teriak Luciana sambil terus berusaha melepaskan tali yang terikat kuat di kedua tangannya yang sudah berlumuran darah karena tertembak oleh peluru yang di luncurkan oleh Argara tadi itu.


PLAK...


Suara tamparan itu.


Para penjaga yang sudah muak denagn teriakan Luciana pun langsung menampar mulut Luciana dengan keras, hingga mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya itu.


" Sttt... Brengsek, lepasin gw. Lo belum tahu siapa gw? Gw anak dari pengusaha ternama di dunia... Jadi jangan main - main sama gw... " Kata Luciana sambil meringis kesakitan karena bibirnya yang perih untuk berbicara dan dengan sikap angkuh nya itu.


" Jika anda audah masuk ke dalam ruang penyiksaan ini, maka siapapun tidak akan bisa menyelamatkan anda... Jadi tutup mulut anda... " Kata pria berjaket hitam yang berlogo M-GA dengan gambar singa bermahkota berlian di atasnya kepala singa itu.


BRAK...


Suara pintu yang di tendang itu.


Kemudian terdengar suara pintu yang di tendang dengan keras dan pelakunya adalah Elyon itu.


Semua orang yang melihat itu pun membungkukkan badan mereka untuk menghormati bos mereka itu.


Elyon pun berjalan menuju Luciana yang terikat di kursi besi dan melewati anak buahnya yang memberi hormat pada nya itu .


Sedangkan Luciana yang melihat Elyon mulai berjalan ke arahnya dengan aura yang mematikan pun mulai ketakutan dan masih mencoba melepaskan ikatan di tangannya itu.


" Lyon, gw mohon lepasin gw... " Kata Luciana yang mohon pada Elyon itu.


" Tampar mulutnya...! " Perintah Elyon yang menatap Luciana dengan mata yang seperti ingin membunuh Luciana habis - habisan itu.


PLAK...


Suara tamparan itu.

__ADS_1


Kemudian salah satu anak buah nya pun langsung menampar mulut Luciana sekali lagi itu.


" ******, jangan pernah menyebut nama LYON dari mulut Lo berbisa itu... " Kata Elyon sambil menekan kata ' Lyon ' itu.


" Yang boleh menyebut nama itu adalah Lena SEORANG... " Kata Elyon lagi sambil menatap Luciana dengan tajam dan juga menekan kata ' seorang ' itu.


Sedangkan Luciana yang mendengar itu pun hanya bisa menangis karena diam dan tak bisa berbicara sepatah kata pun, karena bibirnya yang sakit saat di gerakan itu.


" Kenapa Tuhan ngak nak dirin Lo buat gw, Elyon...? " Batin Luciana yang menangis sambil meratapi nasibnya itu.


" Dengan Lo maksa gw yang bukan takdir Lo, itu sama ajah Lo bikin hidup lo hancur... Dan kata maaf ngak akan bisa memperbaiki segalanya... " Kata Elyon yang seperti mengerti apa yang ada dalam batin Luciana itu.


" Gw udah kasih kesempatan buat Lo, tapi Lo sia - siain, Luciana... Lo itu STUPID... " Kata Elyon sambil tersenyum remeh pada Luciana itu.


" Gw ng-ngak akan per-nah... Lepa-sin Lo bu-buat jala-ng kayak Ellena i-itu... " Kata Luciana dengan terbata - bata sambil meantap tajam Elyon itu.


PLAK...


Suara tamparan itu.


Kemudian Elyon pun langsung menampar pipi Luciana dengan keras, hingga Luciana terbatuk mengeluarkan darah itu.


" Uhuk... Uhuk... " Suara Luciana yang terbatuk - batuk hingga mengeluarkan darah itu.


Kemudian Elyon pun langsung mengusap tangannya yang dia gunakan untuk menampar pipi Luciana dengan sapu tangan dengan tulisan E&E di pinggir kanannya itu.


" Damn it... Tangan gw bisa terinfeksi gara - gara nampar Lo. Dasar ****** stupid... " Kata Elyon yang merendahkan Luciana itu.


Kemudian Elyon pun memberikan sapu tangan itu pada salah satu buah nya itu.


" Bersihkan sapu tangan ini! Sampai bersih. Jangan sampai kuman dari ****** ini ada di sapu tangan ini, kalo bisa bersihkan dengan bunga tujuh rupa... " Kata Elyon dengan nada datar dan dingin itu.


" Baik bo-boss... " Kata Salah satu anak buahnya sambil menerima sapu tangan itu dengan badan yang sedikit membungkuk untuk menghormati bos nya itu.


" Siapkan alat - alat untuk penyiksaan...! " Perintah Elyon pada anak buahnya sambil menatap tajam Luciana itu.


Sedangkan Luciana yang mendengar itu pun langsung menangis dengan diam dan melototkan matanya sambil meronta - ronta agar terlepas dari ikatan tangannya dan hasilnya pun nihil dia tak bisa melepaskan diri dari iblis yang telah dia bangun kan itu.


" Yon, ap-pa ka-kamu ng-ngak a-ada se-seedikit ajah... Ra-rasa ci-cinta ke-e a-aku...? " Kata Luciana yang terbata - bata dengan air matanya yang mengalir deras di atas pipinya itu.


" Gw pernah jawab pertanyaan dari Lo ini, dan jawabannya sama NGAK... Gw ngak akan pernah suka sama lo apalagi cinta sama Lo... Lo yang terlalu buta akan cinta Lo itu... " Kata Elyon denagn menatap tajam ke arah Luciana itu.


Sedangkan Luciana yang mendengar itu pun hanya bisa menutup matanya dan mengais dalam diam sambil merasakan hatinya yang seperti di tusuk ribuan bahkan jutaan jarum itu.


" But, itu bukan cinta melainkan obsesi lo sama gw... " Kata Elyon yang menatap Luciana tajam tanpa ada rasa kasihan sama sekali di matanya itu.


" G-gw ng-ngak pe-peduli, ya-yang g-gw ma-mau ii-itu l-lo... E-elyon... " Kata Luciana yang terbata - bata dan masih kekeh dengan keinginan nya itu.


" Ba-bahkan sam-sampek g-gw ma-mati s-sekali p-pun, g-gw n-ngak a-akan p-pernah bi-biarin l-lo ja-jadi mi-milik Ja-****** i-tu... " Kata Luciana yang terbata - bata sambil menatap tajam mata Elyon itu.


Sedangkan Elyon hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya karena di buat naik pitam oleh Luciana itu.


" L-lo cum-mak mi-milik g-gw se-seorang Yo-yon... " Kata Luciana sambil sedikit tersenyum menyeringai itu.


DOR...


Suara tembakan itu.


Damn it, Elyon pun langsung murka karena perkataan Luciana. Kemudian dia pun langsung mengeluarkan pistolnya, lalu menembakkan nya di tembok hingga tanpa sengaja menggores pipi kiri Luciana itu.


" Sekali lagi Lo bilang, kalo gw milik... Maka peluru ini bakal bersarang tepat di otak Lo yang ngak guna itu... " Kata Elyon yang menatap tajam Luciana sambil menekan perkataan nya itu.


Sedangkan Luciana masih memejamkan matanya karena ketakutan itu.


" Lo te-tetep mi-milik g-gw sam-sampek ma-mati Yo-yon... " Kata Luciana sambil membuka matanya dan menatap sayu mata tajam Elyon itu.


Sedangkan Elyon yang sudah di buat sangat marah oleh Luciana pun langsung mengambil pisau kesayangan dari dalam saku celananya dan hendak melukai wajah Luciana itu.


Dan Luciana pun hanya bisa memejamkan matanya dan menunggu rasa sakit yang akan di buat oleh Elyon dengan pisau kesayangan itu.


Tapi aksinya pun terhenti karena terdengar suara yang memanggil itu.


" ELYON!!! BERHENTI!!! " Teriak Gerio pada Elyon sambil berlari menghampirinya dan di ikuti oleh Ellen dan Argara itu.


" APA!!!?? " Kata Elyon dengan tegas dan marah, karena aksinya di hentikan oleh Gerio itu.


" Yon, jangan kayak gini lo kan udah pernah bilang sama kita. Kalo ngak akan nyakitin perempuan... " Kata Gerio sambil menepuk punggung Elyon untuk menenangkan nya itu.


Kemudian Elyon pun langsung menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas sengan kasar untuk menenangkan dirinya itu.


" Tenang Elyon, Lo ngak boleh langgar sumpah Lo... " Kata Argara untuk menenangkan Elyon itu.


" Bener tuh, Lo harus ngendaliin emosi Lo Yon. Kalo Ellena liat ini dia bakal kecewa sama Lo... " Kata Gerio yang membenarkan perkataan Argara itu.


" Hush... " Suara Elyon yang menghembuskan nafas dengan kasar itu.


Setelah cukup mengkan diri Elyon pun menatap teman - temannya itu.


" Kalian urus dia... " Kata Elyon sambil berjalan pergi meninggalkan rumah itu.


" Tenang Yon. Kalo urusan ini mah, gw bakal urus sampah ini... " Kata Gerio sambil tersenyum menyeringai ke arah Luciana itu.


GLEK...


Sedangkan Luciana yang di tatap oleh Gerio pun hanya bisa meneguk slavinanya kasar itu.


BERSAMBUNG....


Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share Yah...😊💜


Annyeong...👋👋

__ADS_1


__ADS_2