Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 84


__ADS_3

Tanpa mereka sadari waktu istirahat pun telah usai dan bel yang menandakan waktu untuk memulai kelas kembali pun berbunyi itu.


TRING... TRING... TRING...


Suara bel yang menandakan waktu masuk telah tiba itu.


Di meja Elyon dan Ellena dkk pun mulai berhamburan dan berjalan menuju kelas mereka masing - masing itu.


Saat akan memasuki kelas, Ellena pun menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara pesan dari handphone genggam nya itu.


TRINGGG...


Suara nada handphone yang berbunyi itu.


" Ada apa? " Tanya Elyon yang melihat Ellena menghentikan langkah kakinya dan lalu menatap layar handphone nya itu.


" Ngak, cuma ada pesan dari seseorang. Kamu duluan ajah, mungkin ini agak penting... " Kata Ellena sambil masih fokus menatap layar handphone nya itu.


Elyon pun hanya berdehem dan berjalan memasuki kelas mereka itu.


Sedangkan Ellena masih fokus dan mulai membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam handphone genggam nya itu.



085213×××××× : Ku harap kau seperti bunga


matahari yang akan selalu


mekar di hadapan cahaya


matahari itu sendiri.


085213×××××× : Dan kamu tahu siapa,


cahaya matahari itu? Tentu


saja itu aku.


085213×××××× : Aku menunggu janji mu.


Janji di mana kamu akan


selalu mekar untukku.


085213×××××× : Kamu hanya MILIKKU, Na.


085213×××××× : By Nata.


Ellena yang membaca itu pun kebingungan dan tanpa berniat untuk membalas pesan dari nomer telpon tak di kenal itu.


" Lagi - lagi Nata. Siapa sih Nata? Awas ajah tuh orang, kalau sampek ngusik keluarga gw. Habis tuh orang sama gw... " Kata Ellena penuh penekanan itu.


Dia hanya takut jika peneror itu akan melibatkan keluarga nya, terutama Erren. Sungguh dia masih takut jika bersangkutan tentang putranya Erren itu.


Kejadian Luciana yang hampir membunuh putranya, masih terngiang - ngiang di kepalanya tanpa henti. Hingga membuatnya trauma dan semakin ekstra waspada dan hati - hati untuk menyangkut tentang keselamatan putranya itu.


Ellena tak akan bisa tenang, karena musuhnya di luaran sana sangat lah banyak. Apalagi suaminya adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan juga mafia yang walaupun semua orang tak mengetahui nya itu.


Tak mudah menjadi seorang Ellena, bukan berarti dia akan selalu santai dan bahagia karena mendapat kan kebahagiaan dunia yang melimpah itu.


Karena itu Suma tak luput dari musuh - musik nya, apalagi suaminya. Karena dia adalah pembisnis muda tersukses di dunia, maka akan banyak dia luaran sana akan mengincar nyawa suaminya dan juga keluarganya untuk memenuhi keserakahan mereka itu.


Karena itulah, Ellena tak bisa duduk diam dan menganggap jika semua akan baik - baik saja. Kita tak kan tahu waktu kapan dan dimana mereka akan dalam bahaya. Ellena bersumpah tak akan kecolongan lagi tentang keselamatan keluarganya, terutama putranya yang masih belum mengenal dan mengerti sisi kejam di dunia yang dia tinggali itu.


Ellena pun mulai mengenyahkan pikiran - pikiran negatif yang mulai bersarang di otak nya. Sebelum itu semua terjadi, Ellena pun menghembuskan nafasnya dan mulai berkonsentrasi untuk pelajaran yang akan datang itu.


Dia pun masuk ke dalam kelas dengan senyum kecil yang terbit di atas bibirnya, seperti tak pernah terjadi apa - apa itu.


" Semua baik - baik ajah...? " Tanya Kanaya yang menoleh ke arah bangku milik Ellena itu.


" Fine... " Balas Ellena dengan singkat tak lupa dengan senyum kecil di bibir nya itu.


Tanpa di sadari, terdapat sepasang mata yang memperhatikan interaksi singkat mereka itu.


" Semoga semua baik - baik saja... " Batin Elyon sambil menatap wajah Ellena yang sedang berbincang singkat dengan Kanaya itu.


" Hallo. Selamat siang, mari kita mulai pembelajaran hari ini... " Kata Dosen yang memasuki kelas itu.


Semua orang pun terdiam dan atensi pandangan mereka pun tertuju kepada dosen yang baru saja memasuki kelas itu.


Para mahasiswa dan mahasiswi pun mulai fokus dengan pelajaran mereka itu.


Berbeda dengan Ellena yang masih mencoba untuk fokus dengan pelajaran nya itu.


" Ellena ayo fokus, oke... " Batin Ellena yang mencoba memfokuskan pikiran nya itu.


Tak terasa waktu berjalan cepat tanpa kita sadari. Bel yang menandakan waktu pulang pun berbunyi, serta mendapatkan banyak perhatian senang dari para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mengistirahatkan otak dan tubuh mereka dari tugas - tugas kampus mereka itu.


Begitu juga dengan Elyon dan Ellena yang berjalan menuju mobil milik Elyon untuk pulang kerumah mereka, karena terdapat malaikat kecil mereka yang sedang menunggu Papa dan Mamanya pulang dari kampus itu.


Saat mereka memasuki mobil Ellena mengernyitkan dahinya bingung. Saat melihat setangkai bunga matahari dan selembar stiker macam - macam bunga matahari di atas dashboard mobil itu.


Ellena pun mengambil benda - benda tersebut, dan langsung membaca sepucuk surat yang tertempel di selembar stiker macam - macam bunga matahari itu.


Bagaimana? Lucu bukan striker ini. Kamu bisa menempelkan stiker ini di mana pun kamu mau. Karena aku hanya ingin, agar bisa terus mengingatkan dirimu tentang janji yang kamu buat dulu untukku!


By : Nata.


Ellena pun menggerakkan giginya dengan kesal, karena pengirim bernama NATA ini terus saja mengiriminya bunga matahari sejak pagi tadi itu.


Elyon yang sejak tadi hanya diam memperhatikan pun langsung mengambil sepucuk surat dari tangan istrinya dan mulai membacanya itu.

__ADS_1


" Apa perlu aku selidiki? " Tanya Elyon yang langsung menatap Ellena setelah membaca sepucuk surat itu.


" Ngak perlu. Itu pasti cuma orang iseng, atau mungkin penggemar rahasia aku. Jadi kamu ngak perlu khawatir, kalau dia bertindak lebih dari ini. Aku pasti bakal cari tahu dia siapa... " Jelas Ellena yang mencoba memberi pengertian kepada suaminya agar tak menganggap hal ini serius itu.


" Hufft. Terserah... " Balas Elyon yang pada akhirnya pasrah dengan perkataan istrinya itu.


" Kamu tenang ajah. Kalau dia macem - macem, pasti suami aku ini ngak akan mungkin tinggal diem kan? " Tanya Ellena yang memeluk lengan kiri Elyon dengan senyum menggoda itu.


" Hah. Dasar... " Kata Elyon yang tersenyum kecil karena tingkah istri kesayangan itu.


Ellena pun melepaskan pelukannya, dan mengambil sepucuk surat dari tangan Elyon. Lalu membuangnya bersama ke luar jendela mobil, serta jangan lupakan juga setangkai bunga matahari dan selembar striker tadi itu.


Setelah itu, Elyon pun memasangkan sabuk pengaman Ellena dan dirinya. Lalu kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga kecilnya itu.


Tak jauh dari tempat parkiran, terdapat siluet seseorang yang sedang berdiri menatap mobil Elyon yang mulai melaju menjauh meninggalkan halaman gedung Campus Galaksi itu.


" Ini baru akan di mulai. Ini masih awal... " Batin orang tersebut yang menatap kosong ke arah depan dengan pandangan mata yang menyiratkan luka di dalam bola mata hitam pekatnya itu.


" Lo puas... " Kata Seseorang yang mendekati orang tersebut dan membuat arah pandangan nya menatap dirinya itu.


" Ini masih akan di mulai... " Balas orang tadi dengan senyum arogannya itu.


" Sekuat apapun Lo coba buat pisahain mereka. Itu ngak akan ngaruh, mereka pernah hampiri di pisahkan oleh takdir dan kematian. Namun apa akhirnya? Mereka tetap BERSAMA... " Kata orang tersebut kepada orang yang bersikap arogan tadi itu.


" Huh. Lo di sini cuma mau ceramah? Sorry, gw ngak perlu ceramah Lo. Ngak mempan..." Kata Orang tersebut dengan senyum remehnya itu.


" Terserah Lo. Gw harap Lo berhenti bertindak konyol, gw masih sabar. Tapi inget, kalo Lo bertindak lebih dari ini. Gw ngak akan segan - segan kembali in Lo ke tempat asal Lo... " Kata orang itu dan lalu berjalan pergi meninggalkan orang tadi yang sekarang menatap kepergian dengan tatapan lemah itu.


" Gw cuma mau dia kembali. Apa itu salah" Kata Orang tersebut dan membuat orang yang sedang berjalan menjauh dari ya pun berhenti tanpa menoleh ke arah orang tadi itu.


" Lo ngak salah. Tapi ketidakikhlasan Lo yang salah, Lo ngak bisa ngelawan takdir. Inget dia udah pergi dan Lo ngak kan bisa ngelak... Kata orang itu dengan tatapan yang memancarkan kesedihan itu.


" Sorry. Gw harus ngehenti in tindakan konyol Lo, tapi gw ngelakuin ini semua demi Lo... " Kata orang tersebut dan mulai berjalan menjauh menuju salah satu mobil yang terparkir itu.


" Gw ngak peduli. Gw akan ngelawan takdir, kalau itu bisa buat dia kembali... " Batin orang tersebut dan mulai berjalan menjauh dengan tatapan mata yang penuh akan kemarahan itu.


Tetapi di tempat lain, di dalam kediaman rumah Elyon dan Ellena sedang ramai dengan tingkah Ayah dan anak yang sedang heboh untuk membuka kado yang bertumpuk di kamar anak tersebut.


Siapa lagi jika bukan Elyon dan putra kesayangannya Erren. Sejak mereka pulang dari kampus, Erren dengan semangat mengajak orang tuanya untuk membuka kado ulang tahun pertamanya bersama - sama itu.


Tetapi dengan berat hati Ellena menolak permintaan putranya, karena harus membantu Bik Inah untuk menyiapkan makan siang itu.


Walaupun Ellena masih seorang mahasiswi, tetapi dia tak pernah lupa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu pada dirinya itu.


Untung saja putra mereka bisa mengerti maksud Ellena. Pada akhirnya, Erren pun langsung menarik tangan Papanya untuk membuka kado - kado yang menumpuk di dalam kamar tidurnya itu.


Elyon pun pasrah dengan tingkah putranya yang masih berada di fase penuh semangat dan aktif - aktifnya. Sebenarnya Elyon ingin cepat - cepat masuk ke dalam kamar nya untuk membersihkan dirinya yang lengket serta letih karena sehabis pulang dari kampus itu.


Tapi mau gimana lagi? Siapa yang akan menolak permintaan putra kesayangannya itu? Dan jawaban TIDAK! Jika ada maka Elyon langsung menyingkirkan orang itu dari dunia ini. Ketua mafia nih boss! Senggol dong.


Setelah Ellena menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dia pun bergegas membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholatnya itu.


" Lyon. Kamu mandi sana biar Erren aku yang jaga... " Kata Ellena yang ikut mendudukkan tubuhnya dia atas karpet bulu di kamar putranya itu.


Elyon pun hanya berdehem serta bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju kamar untuk melaksanakan perintah istrinya itu.


" Sayang nya Mama. Kayak nya seneng banget buka kadonya yah? Coba kasih tahu Mama kadonya apa ajah sih... " Kata Ellena yang mengajak bicara putranya itu.


" Elen apet adiah Dali anti Sely... " Balas Erren kecil sambil membuka kado dari Aunty Sherly nya itu.


" Emang apa hadiahnya? " Tanya Ellena yang juga membantu putranya untuk membuka kado tersebut.


" HOLE!!! Elen apet pecawat telbang... " Sorak Erren dengan gembira sambil memainkan pesawat barunya itu.


" Ciee. Erren seneng banget yah? Bialbgabpa ke Aunty Sherly? " Tanya Ellena dengan senyum bahagia kepada putranya yang sedang memainkan pesawat terbang barunya dengan senyum yang bahagia itu.


" Akacih anty Sely... " Kata Erren dengan raut wajah yang gembira sambil melayang - layangkan pesawat barunya itu.


Ellena pun hanya bisa menatap bahagia putranya. Dia sungguh bersyukur, jika putranya dapat di kelilingi orang - orang yang sayang pada nya itu.


Ellena tak menyangka jika seorang bayi yang dia temukan di tong sampah dengan tubuh yang masih berlumuran darah dapat tumbuh menjadi balita yang seha, serta imut dan tampan itu.


Ellena tak bisa untuk tidak terus mengucapkan terimakasih kepada Allah. Jika tuhan tak mempertemukannya dengan Erren, mungkin dunianya tak akan sebahagia sekarang ini.


Dia bersyukur Erren hadir di tengah - tengah keluarga nya. Setelah Erren hadir, keluarnya bisa merasakan kebahagiaan yang berkali - kali lipat dengan suara canda tawa balita tersebut.


" Sayang nya Mama. Kita makan sing dulu yuk? Nanti Mama temenin Erren lagi buat buka kadonya. Oke? " Tanya Ellena untuk mengajak Erren makan siang itu.


" Ote!! " Kata Erren dengan penuh semangat dan jangan lupakan gigi kecilnya yang sudah tumbuh kecil itu.


" Ihh. Gemes banget sih! Anak Mama, jadi makin sayang dehh... " Kata Ellena yang gemas dengan putra nya dan mencubit kecil pipi gembulnya itu.


" Hihihi... " Suara Erren yang terkikik geli itu.


Ellena pun menggendong putranya dan membawanya pergi ke lantai dasar untuk makan siang itu.


Tak berselang lama, Elyon pun menuruni tangga dan menyusul Ellena yang baru saja mendudukkan Erren di bangku kecil khusus balita agar tak terjatuh itu.


Elyon pun menghampiri putranya yang sedang asyik bermain dengan pesawat terbang barunya itu.


" Seru banget mainnya! Papa ngak dia ajak nihh... " Kata Elyon sambil mengelus lembut pipi putranya itu.


" NO!!! " Tolak Erren dengan tatapan sengit kepada Papanya yang mengisyaratkan jika tak ingin di ganggu itu.


" Kok gitu sih sama Papa. Papa gambek nihh... " Kata Elyon yang pura - pura ngambek untuk mencari simpati dari putranya itu.


" Ai don kel... " Kata Erren yang kemudian mengacuhkan Papanya lalu melanjutkan kembali bermain dengan pesawat terbang baru di tangannya itu.


" Hahaha. Emang enak, orang anak lagi asik main malah di ganggu. Rasain di kacang on anak sendiri kan jadinya... " Kata Ellena yang berjalan menghampiri mereka sambil memegang semangkok bubur bayi untuk putranya itu.


" Hufft. Setelah ini, seperti pabrik main pesawat terbang harus di ledakkan... " Kata Elyon yang mulai memunculkan sifat posesif nya kepada putranya itu.

__ADS_1


" Ngak usah mulai dehh... " Kata Ellena yang mulai meniup sesendok bubur bayi agar tidak terlalu panas itu.


Elyon pun mengerucutkan bibirnya, karena Ellena juga sama - sama mengacuhkannya. Sedangkan Ellena pun bodoamat dan mulai menyuapi putranya yang masih asyik bermain dengan mainan barunya itu.


Sedangkan Bik Inah yang menyiapkan makan siang pun berusaha untuk menahan tawanya, saat melihat tingkah lucu keluarga kecil tersebut dan Tuan Mudanya yang sedang di acukan oleh istri serta anaknya itu.


Elyon yang menyadari itu pun langsung menatap tajam Bik Inah itu.


" Bibik tidak perlu ketawa! " Kata Elyon yang langsung memakan makan siangnya dengan wajah yang di tekuk kesal itu.


" Maaf Tuan Muda... " Kata Bik Inah yang menundukkan kepalanya dan mulai berjalan menuju dapur agar tak terkena amukan dari seekor singa yang sedang kesal itu.


Elyon pun mendengus kesal dan melanjutkan makan siangnya dengan waajhnya yang di tekuk kesal, tetapi itu semua tak sedikit menghilangkan wajah tampannya itu.


" Haha. Baru kali ini, aku lihat wajah jelek kamu saat kesal... " Kata Ellena setelah terkekeh kecil itu.


" Huh. Tak perlu mengurusi hidupku... " Kata Elyon sambil mendengus kesal dan tiba - tiba berkata formal itu.


Sebenarnya sejak hari Anniversary Pernikahan pertama mereka. Elyon memunculkan sifat baru, seperti saat marah dia akan refleks berkata formal kepada Ellena dan jangan lupakan Ellena yang malah memiliki semangat tinggi untuk terus mengerjai suaminya yang posesif itu.


Sungguh pasangan cocok, yang satu memiliki sifat dingin tak tersentuh dan juga posesif akut, serta yang satunya lagi memiliki sifat PD tingkat dewa dan sifat jahil yang merajalela itu.


" Hoho! Tuan Lyon sedang marah seperti nya... " Kata Ellena yang tertawa seperti om - om pedofil itu.


" Tidak perlu mengurusi hidupku. Acuhkan saja diriku, bukan kah aku ini hanya sebutir debu di hidupmu! " Kata Elyon dengan dramatis, yang pada akhirnya malah terlihat lebay di depan Ellena itu.


" Sungguh cukup. Sikap mu makin kesini makin alay tauk ngak? " Kata Ellena yang muak dengan sifat alay Elyon yang muncul sejak Erren berada di tengah - tengah keluarga kecil mereka itu.


" Lena yang mulai...! " Kata Elyon yang tak ingin di salahkan itu.


Di situasi yang seperti maka Ellena harus mengambil tindakan dewasa, seperti mengalah agar tak memperpanjang perdebatan non faedah mereka itu. Mungkin ini bisa di bilang warah yang ngalah.


" Hufft. Baiklah - baiklah. Aku minta maaf, karena telah membuatmu kesal... " Kata Ellena setelah menghela nafas lelah untuk menghadapi tingkah Elyon saat dalam mode seperti anak kecil itu.


Semua orang bilang perempuan yang selalu benar, maka itu tak akan berlaku dan terbalik di kehidupan Lyon dan Lena satu ini.


" Huh. Kau berniat minta maaf atau tidak, permintaan tak bisa di terima karena tidak tulus... " Kata Elyon yang masih memasang wajah cemberut seperti anak kecil itu.


" Baiklah. Lyon nya Lena, Lena nya Lyon minta maaf oke? " Kata Ellena dengan wajah dan nada yang di imut - imutkan itu.


Kemudian Elyon pun tersenyum menyeringai dan menunjuk ke arah bibir dan mengetuk - ngetukkan beberapa kali di atas bibirnya itu.


Ellena yang paham pun hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan suaminya yang sangat keras kepala melebihi anak nya itu.


Tanpa aba - aba Ellena pun mendekat kan dirinya ke arah Elyon dan mengecup singkat bibir sexy suaminya itu.


CUP...


Tetapi tak semudah itu untuk melepaskan istrinya, dengan rencana jahil di hatinya. Elyon pun langsung menarik pinggang ramping istrinya dan memperdalam ciuman mereka yang berubah menjadi lumatkan itu.


Untung saja Elyon sudah mengawasi sekitar agar putranya tak melihat adegan senonoh yang di pertunjukkan oleh orang tuanya itu.


Sedangkan bocah balita itu sedang bermain di ruang keluarga dan tak lupa di awasi oleh salah satu pelayan di rumah tersebut.


Ellena yang mendapat serangat dadakan pun hanya bisa diam tanpa membalas karena hatinya yang di buat ketar - ketir oleh suami laknatnya itu.


Elyon yang tak mendapat balasan pun langsung ******* lebih dalam bibir mungil istri nya dan membuat Ellena refleks mengikuti irama sentuhan yang di berikan oleh suaminya itu.


Dan tanpa sadar juga, Ellena pun mengalungkan tangannya di leher jenjang milik suaminya agar dapat memperdalam ciuman panas mereka itu.


Elyon yang sudah kalap dan di kalahkan oleh hasratnys pun membuat tangan nya menyentuh area sensitif istrinya itu.


Kegiatan mereka pun terhenti saat teriakan pelayan yang berada tak jauh dari pasutri yang sedang melakukan kegian panas tadi itu.


" TUAN MUDA!!! " Teriak Pelayan tersebut dan langsung menutup kedua mata bocah kecil tersebut agar tak melihat lebih jauh kegiatan tak senonoh kedua orangtuanya itu.


DEG...


Elyon dan Ellena pun syok dan langsung memalingkan wajah memerah mereka, seperti sepasang kekasih yang tertangkap berbuat tak senonoh itu.


" Ma-maf meng-ganggu. Sa-saya aka-n mem-bawa tuan muda per-gi, si-silahkan di lanjutkan kembali... " Kata pelayanan tersebut dengan pipi yang sudah merona itu.


Kemudian pelayanan tersebut pun langsung menggendong Tuan Mudanya pergi agar tak mengganggu pasutri yang sedang di madu kasih itu.


" I-in se-semua ka-karenamu... " Kata Ellena dengan wajah yang masih memerah dan syok saat tertangkap basah oleh pelayan apalagi putra mereka sendiri itu.


Jika bisa Ellena ingin masuk kelubang terdalam di dunia ini. Sungguh dia sangat malu, tolong bawa Ellena pergi dari dunia ini.


" Hkhmm! " Suara Elyon yang berdehem untuk menghilangkan rasa gugup sekaligus syoknya itu.


" Ke-kenapa kamu menyalahkan ku! Ka-kamu yang mulai duluan! " Kata Elyon yang tak ingin di salahkan itu.


Tapi sebenarnya memang benar yang memulai terlebih dahulu adalah Ellena. Tetapi yang mulai ciuman panas tersebut adalah Elyon. Elyon mah definisi sudah tertangkap tak mau mengaku pula! Sangat - sangat tak memberi contoh yang baik.


Ellena yang tak ingin berdebat pun langsung menatap tajam Elyon dan kemudian pergi menjauh dari nya itu.


" Terserah. DASAR LYON KAMPRET!!! " Kata Ellena dengan kesal kemudian pergi itu.


" Jangan lupa habisin makan siangnya? " Kata Ellena yang mulai menghilang dari pandangan Elyon itu.


Kalau Ellena mah definisi Marah boleh, tapi meninggalkan kewajiban seorang istri, yah JANGAN! Hahaha.


Elyon pun tersenyum kecil sambil menatap makan siangnya yang masih setengah itu.


" Huh. Dasar Lena nya Lyon... " Batin Elyon yang menertawakan perilaku istrinya tadi itu.


BERSAMBUNG....


Jangan lupa like, comment, vote, follow, and, share. Yahh...😊💜


Annyeong... 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2