
Pagi ini cuaca sedang tidak baik, karena musim hujan yang telah tiba. Bahkan Erren sampai terserang demam karena cuaca yang dingin dan buruk itu.
Di Rumah Elyon dan Ellena.
Di Kamar Erren.
Ellena sedang mengecek suhu badan putranya yang kemarin sempat terserang demam itu.
" Syukurlah... " Kata Ellena yang menempelkan punggung tangan nya ke dahi putranya itu.
Kemudian Ellena pun mengelus sayang rambut putranya yang masih terlelap dalam mimpinya itu.
" Jangan sakit lagi oke? " Kata Ellena setelah mengecup dahi putranya yang suhu badannya mulai normal itu.
CKLEK...
Suara pintu yang terbuka itu.
Atensi mata Ellena pun langsung terarah ke pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar putranya yang di buka itu.
Beberapa detik setelahnya, muncul lah Elyon yang sudah rapi dengan bajunya untuk pergi ke kampus itu.
" Gimana? " Tanya Elyon sambil berjalan menuju ranjang putranya itu.
" Udah mendingan... " Kata Ellena yang kemudian atensi matanya pun terarah kepada putranya yang tak terusik dalam tidurnya itu.
" Kan aku udah bilang ini biasa terjadi pada anak - anak... " Kata Elyon yang kemudian mengingat kemarin malam Ellena yang panik dan kelimpungan saat mendapati putranya yang menangis tengah malam karena terserang demam itu.
" Kan aku takut, ini pertama kalinya Erren demam. Biasanya juga enggak... " Kata Ellena yang sedikit menatap sendu putranya itu.
" Bukan pertama kalinya, kamu hanya terlalu takut akan sesuatu hal yang kecil tentang Erren. Aku tahu kamu pasti masih trauma dengan apa yang terjadi pada putra kita beberapa bulan lalu... " Kata Elyon yang menjeda perkataan nya itu.
" Tapi perlu kamu tahu. Jika semua itu sudah berlalu Lena, ngak perlu ada yang kamu khawatir kan. Jika kamu terus merasa takut setiap hal tentang Erren, maka tanpa kamu sadari. Kamu akan mengekang Elyon... " Jelas Elyon yang melanjutkan perkataannya tadi itu.
" Maaf. Aku hanya takut putra kita kenapa - napa... " Lirih Ellena sambil menggenggam lembut tangan mungil putranya itu.
GREP...
Elyon pun langsung memeluk istrinya dari belakang untuk menentukannya itu.
" Semua akan baik - baik ajah, aku kan udah pernah janji sama kamu hal itu tak akan pernah terjadi lagi. Jadi jangan gunakan rasa ketakutan kamu untuk hal yang kecil... " Kata Elyon sambil menaruh dagunya di atas bahu istrinya itu.
" Jadilah Ellena yang pemberani seperti dulu, Ellena yang ku kenal tak pernah takut akan apapun. Ingat cobaan terbesar manusia adalah rasa KETAKUTAN... " Kata Elyon lagi sambil menekan kata ' ketakutan ' itu.
" Makasih. Aku akan coba melawan rasa ketakutan ku... " Kata Ellena yang tersenyum kecil sambil mengelus lembut tangan Elyon yang melingkar di perutnya itu.
" Of course... " Kata Elyon sambil mendusel - duselkan hidungnya di curuk leher istrinya itu.
" Tolong izinin aku hari ini, aku ngak ngampus. Aku mau jaga Erren... " Kata Ellena sambil mengelus lembut rambut putranya yang masih terlelap dalam mimpi itu.
" Hmm. Aku juga ngak ngampus hari ini, mau jaga bantu kamu jaga Erren... " Kata Elyon yang mengerti jika istri masih sangat cemas dengan keadaan putranya itu.
Sebenarnya Erren sudah pulih dari demamnya, hanya saja Ellena masih terlalu takut dan cemas untuk meninggalkan putranya dengan para pembantu serta baby sitter nya itu.
Di sisi lain, di Gedung Campus Galaksi.
Di kantin.
Terdapat teman - teman Elyon dan Ellena yang sedang menghabiskan waktu pagi mereka sambil menunggu bel masuk itu.
" Kenapa? " Tanya Kanaya pada Argara yang sejak tadi mengotak - Atik handphone nya itu.
" Hari ini Elyon sama Ellena ngak masuk, Karena Erren sakit... " Kata Argara pada Kanaya itu.
" Apa!! " Kata mereka dengan cemas kecuali Luwis yang masih menatap handphonenya itu.
" Aneh. Kok biasa? Biasanya Erren juga baik - baiknya ngak pernah sakit tuh... " Kata Gerio dengan wajah cemasnya itu.
PLAK...
Suara pukulan itu.
" Yah bisalah. Namanya juga manusia, emang ponakan aku apaan sampek ngak bisa sakit... " Kata Ellina setelah memukul lengan suaminya itu.
" Sttt. Sakit Yank, ya maap kan emang aneh biasanya Erren ngak sakit selama setahun ini... " Kata Gerio sambil mengelus lengan tangan nya yang habis di pukul oleh istri tercinta nya itu.
" Bodoamatttt!!! " Kata Ellina dengan wajah geram itu.
__ADS_1
" Setelah pulang dari Kampus kita langsung jenguk Erren... " Kata Ellen pada mereka dan di balas anggukan oleh mereka itu.
Tanpa mereka sadari terdapat seseorang yang sedang menatap mereka sambil diam - diam tersenyum menyeringai itu.
TRING... TRING... TRING...
Suara bel masuk yang berbunyi itu.
" Yok ke kelas... " Kata Luwis yang bangkit dari duduknya di ikuti yang lainnya itu.
Di tempat lain.
Sekarang ini, Ellena sedang berada toilet kamar putranya sambil uring - uringan karena mendapatkan pesan dari nomer tak di kenal dalam handphone nya itu.
082456×××××× : Hay Baby, apa kabar?
082456×××××× : Maaf hari ini aku ngak
bawain kado buat kamu.
Tapi malam nanti kita akan
bertemu.
082456×××××× : Siapkan dirimu Baby, aku
akan merebutmu kembali
dan kamu ngak akan bisa
pergi lagi dariku. Ingat itu!!!
082456×××××× : Persiapkan dirimu kita akan
bertemu di taman kota.
Dan ingat jangan sampai
ada yang tahu atau aku
yang kau sayangi itu.
Ellena pun langsung membanting handphone nya dengan keras, dia sangat marah dan benci karena anaknya yang tak tahu apa - apa harus terlibat dalam masalah ini itu.
" Kau ingin bermain - main rupanya, baiklah akan ku kabulkan... " Kata Ellena sambil mengeluarkan tersenyum menyeringai nya itu.
" Kita lihat siapa yang akan menang... " Kata Ellena yang kemudian mengambil handphone nya yang sudah terlempar mengenaskan dengan layar yang sudah retak itu.
Lalu Ellena pun mengotak - atik handphone tersebut dan menelfon seseorang yang untungnya handphone tersebut masih bisa di gunakan itu.
Ellena : Lakukan rencana itu sekarang, ingat
jangan sampai kau memberi tahu
siapa pun, terutama bos besar mu!
..... : T-tapi no-na...
Ellena : Ikuti perintahku!
..... : B- baik nona.
" Huh. Baiklah mari kitaita mulai permainan nya... " Batin Ellena yang sudah siap melaksanakan rencana yang sudah dia susun sejak lama itu.
Di tempat lain.
" Sudah kalian siapkan? " Tanya seorang pemuda yang di duduk di sebuah kursi usang sambil memandang ke arah balkon jangan lupakan sebatang rokok yang di apit di kedua jarinya itu.
" Sudah kami siapkan Tuan... " Kata salah satu pemuda berbadan kekar yang menunduk dan di yakini sebagai seorang bodyguard itu.
" Huh, bagus. Jangan sia - siakan uang ku untuk pekerjaan kalian yang tak becus nanti... " Kata Pemuda yang duduk di kursi usang tersebut sambil mengepulkan asap rokok ke udara itu.
" Baik. Kamu tak akan mengecewakaan anda Tuan, selama kami bekerja tak ada kata gagal dalam kamus kami... " Kata salah satu pemuda bodyguard itu.
" Nice. Tak sia - sia aku memperkerjakan kalian dengan uang yang banyak ku keluarkan... " Kata Pemuda tersebut sambil tersenyum menyeringai dengan mengepulkan asap rokoknya ke udara itu.
" Sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku... " Batin pemuda tersebut sambil menatap secarik foto di tangannya itu.
__ADS_1
" Tunggu. Aku akan datang... " Gumam pemuda tersebut sambil mengelus sayang foto seorang perempuan yang sedang tersenyum manis sambil menggenggam setangkai bunga matahari itu.
Di ruang Elyon dan Ellena.
Sejak kejadian yang kurang mengenakkan tadi, Ellena pun hanya duduk diam di pinggir kasur putranya sambil terus mengelus rambut putranya itu.
" Maaf. Karena Mama kamu juga harus terkena imbasnya... " Gumam Ellena sambil menatap teduh wajah putranya yang masih tertidur sambil menyelami mimpinya itu.
" Kau masih menyalahkan dirimu sendiri... " Kata Elyon yang sedang berdiri di ambil pintu yang menghubungkan kamar putranya dengan kamarnya itu.
" Huft. Bersikap seolah - olah kita tak bersalah itu sangat lah sulit... " Kata Ellena sambil masih terus mengelus rambut putranya itu.
" Kau terlalu memikirkan hal buruk, karena itu semua yang kau lakukan akan selalu merasa buruk dalam hidupmu... " Kata Elyon yang berjalan menuju kasur putranya itu.
" Cobalah untuk memikirkan hal baik dan positif, aku bisa menjamin jika semua yang hal yang terjadi dalam hidup mu itu adalah takdir dan kau tak perlu menyalahkan diri sendiri... " Kata Elyon sambil menepuk - nepuk kecil bokong putranya yang masih terlelap dalam tidurnya itu.
" Hal itu hanyalah membuatmu menjadi terpuruk dan tak memiliki kepercayaan diri akan semua hal... " Kata Elyon yang mencoba memberi pengertian kepada Ellena itu.
" Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Setiap aku melihat putra kita terluka maka aku selalu berfikir aku adalah Ibu yang buruk di dunia. Aku terkadang ragu apakah aku bisa menjadi ibu yang baik untuk Erren? Dan apa kau pantas menjadi Ibu yang baik untuk Erren di umurku yang masih muda ini... " Kata Ellena dengan wajah yang penuh akan kecemasan itu.
" Semua yang kau pikirkan hanyalah ketakutan tanpa beralasan. Kau terlalu menganggap serius setiap hal dan hal tersebut malah menjadimu seseorang yang penuh akan keraguan dan pikiran buruk seperti sekarang ini... " Kata Elyon pada istrinya itu.
" Lena, semua itu hanyalah pikiran negatif yang tak akan menjadi realita. Pikirkan dengan mata terbuka lihat Erren, apa dia terlihat menderita? Tidak kan, bahkan dia malah begitu bahagia bisa mendapatkan ibu yang sangat baik seperti mu... " Kata Elyon sambil mengelus halus telapak tangan istrinya itu.
" Lena, cobalah untuk mempercayai dirimu sendiri. Jika semua yang kamu lakukan adalah suatu hal baik bagi dirimu, jangan jadikan pikiran buruk itu sebagai ketakutan dan keraguan dalam dirimu. Jika kau seperti terus menerus, maka aku yakin pada akhirnya kau tak akan bisa mempercayai dirimu sendiri bahkan hidupmu... " Jelas Elyon dengan nada yang penuh kelembutan itu.
" Lyon, makasih. Sungguh kau adalah seseorang yang paling mengerti diriku. Benar yah? Tuhan tak pernah salah memberikan pasangan untuk para umatnya... " Kata Ellena sambil tersenyum tulus kepada suaminya itu.
" Makasih. Dengan adanya dirimu, aku bisa mencari jalan keluar untuk semua permasalahan dalam hidupku. Entah apa yang terjadi jika kita tak pernah di pertemukan kembali setelah hari paling buruk yang kita alami saat itu... " Kata Ellena yang tanpa sadar air mata nya telah keluar dari sarangnya tanpa aba - aba itu.
" Semua akan baik - baik saja. Hari itu tak akan terjadi Lena, sudah ku bilang buang semua pikiran buruk dalam dirimu. Aku percaya kamu bisa, karena buktinya kau bisa bertahan hingga sekarang... " Kata Elyon sambil menghapus air matanya yang mengalir dia atas pipi Ellena itu.
" Maaf. Tapi kali ini aku ingin berusaha menyelesaikan masalahku sendiri... " Batin Ellena yang sangat meras bersalah karena harus berbohong kepada Elyon itu.
Kemudian mereka pun berpelukan dengan hangat untuk mengistirahatkan pundak mereka yang terlalu berat akan beban hidup mereka itu.
Beberapa detik kemudian acara pelukan hangat tersebut pun harus terhenti karena suara lenguhan Erren yang terbangydari tidur nya itu.
" Huh. Pa... Ma... " Kata Erren yang mengerjap - erjapkan matanya untuk mengumpulkan nyawanya itu.
" Anak Mama udah bangun... " Kata Ellena sambil menggendong Erren yang merentang kedua tangannya karena ingin di gendong itu.
" Emm... " Deheman Erren yang sedang menyandarkan kepalanya di dada Mama sambil masih mengumpulkan nyawanya itu.
" Ya udah sekarang Mama mandi in jagoan oke... " Kata Ellena yang bangkit dari duduknya sambil menggendong Erren yang masih memejamkan matanya itu.
" Let's go boy... " Kata Ellena sambil berjalan menuju kamar mandi di kamar putranya itu.
Elyon pun menatap Ellena dengan senyum bagaimana itu.
" Selalu berbahagia lah... " Batin Elyon yang masih menatap senyum manis Ellena sambil memandikan putra mereka itu.
Malam tanpa sadar datang, setelah beberapa menit yang lalu teman - teman mereka pulang setelah menjenguk Erren. Ellena pun masih betah di kamar putranya sambil menatap intens Erren yang tertidur itu.
Setelah beberapa jam berlalu, Elyon pun meregangkan otot yang pegal karena terus mengetik di atas keyboard komputer nya di ruang kerja itu.
Elyon pun menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, dia pun mulai berjalan keluar dari ruang kerja. Elyon pun terkejut saat melihat tempat tidurnya yang kosong, padahal biasanya istri kesayangan tersebut sudah tertidur di jam - jam seperti ini.
Kemudian Elyon pun berjalan menuju kamar putranya karena insting nya mengatakan jika istrinya mungkin tertidur di kamar putranya itu.
Tetapi apa yang terjadi, kamar tersebut kosong hanya terdapat Erren yang tidur dengan tenang di atas kasurnya itu.
" Dimana Lena? " Batin Elyon yang mulai cemas dan bertanya - tanya itu.
Atensi matanya pun tak sengaja melihat handphone sang istri beserta selembar kertas kecil yang di lipat di atas nakas samping ranjang putranya itu.
Dengan rasa yang mulai cemas Elyon pun membaca selembar kertas yang di lipat itu.
Jangan cari aku! Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ku sendiri. Maaf aku tak bermaksud membuatmu cemas.
" Sial! Gw kecolongan... " Batin Elyon setelah membaca surat singkat dari istrinya itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
Annyeong...👋👋👋
__ADS_1