
Setelah menyelesaikan sesi pembicaraan yang penuh menguras emosi tadi, pasangan suami istri tersebut pun berjalan menuju gedung tempat acara di laksanakan itu.
Tak lama kemudian acara telah selesai dan para tamu undangan pun bergiliran pulang ke rumah mereka masing - masing itu.
Begitu juga dengan keluarga kecil Elyon yang sekarang telah sampai di kediaman mereka dengan anggota kecil mereka yang sudah tertidur dengan nyenyak di dalam gendongan super hetonya yang tak lain adalah Papanya yang bernama Elyon itu.
Di kamar Elyon dan Ellena.
" Aku senang melihat keantusiasan Erren saat tahu kamu mengizinkan dia untuk ikut ke summer camp... " Kata Ellena yang mengelus sayang rambut Erren sambil menatap wajah tenang Erren dalam tidurnya itu.
" Hmm. Sepertinya dia ingin sekali melihat dunia luar... " Kata Elyon sambil menepuk kecil salah satu kaki kecil milik Erren itu.
" Lyon. Aku masih ngak nyangka bayi rapuh yang kita temukan waktu itu sekarang sudah tumbuh besar menjadi balita mungil yang menggemaskan dan cerdas... " Kata Ellena yang masih setia menatap wajah teduh sang anak itu.
" Lyon... " Panggil Ellena sambil menatap penuh akan rasa ketakutan dalam bola matanya itu.
" Aku masih takut jika Erren tahu rahasia terbesar kita. Lalu apa yang akan terjadi? " Tanya Ellena yang mencoba mendapatkan jawaban dari Elyon agar dapat sedikit menghilangkan rasa ketakutan nya itu.
" Dia anak kita. Tidak akan ada seorang pun yang bisa memisahkan kita dari nya... " Kata Elyon yang kemudian mengelus lembut pipi milik sang istri itu.
" Jika memang pada akhirnya Erren akan tahu semua ini. Aku akan mencoba memberikan pengertian untuk nya, aku yakin Erren tak kan sekejam itu meninggal kita yang selama ini selalu ada untuknya... " Kata Elyon lagi yang mencoba untuk menghilangkan rasa ketakutan dalam diri istrinya begitu juga dengan nya itu.
" Hmm. Kamu benar Erren selama adalah anak kita, Tuhan mengirimkan dia untuk kita. Aku yakin Tuhan tak akan sekejam itu untuk memisahkan kita dari putra kita... " Kata Ellena yang mungkin sudah siap menghadapi keputusan apapun yang akan di lakukan oleh Erren saat tahu rahasia tentang nya itu.
Kemudian mereka pun mencium pipi putra mereka dengan sayang dan laku menutup mata mereka untuk pergi menuju alam mimpi indah yang sedang menunggu mereka untuk di jelajahi itu.
Keesokan harinya.
Elyon dan Ellena pun di buat pusing setelah pulang dari kampus mereka saat melihat putra mereka yang begitu heboh dalam menyiapkan apa saja untuk pergi ke summer camp esok hari itu.
" Erren sudah sayang. Sekarang duduk... " Kata Ellena yang di buat pusing melihat putranya yang berjalan ke sana kemari untuk menyiapkan barang - barang nya yang akan di bawa saat pergi ke summer camp itu.
" Ma! Tapi Erren bingung mau bawa apa. Kan Erren belum pernah ke summer camp, jadi apa yang akan Erren bawa nanti? " Kata Erren yang kesal karena bingung akan membawa barang apa saja saat akan pergi ke summer camp besok itu.
" Erren duduk dulu dan dengerin Mama! " Pinta Ellena kepada sang Putra agar dapat bersikap tenang itu.
" Maman dulu pernah bilang apa ke Erren?" Kata Ellena yang akan memulai sesi nasihat panjang kepada Erren itu.
" Selalu tenang dan sabar dalam setiap hal... " Balas Erren yang menatap Ellena dengan penuh rasa bersalah itu.
" Nah itu tahu. Jadi Erren sekarang harus tenang dan tak perlu terburu - buru... " Kata Ellena yang mencoba menenangkan putranya agar tidak panik itu.
Erren pun menuruti perkataan Mama nya dan mencoba menenangkan pikiran dan hati dengan cara menarik nafas pelan lalu menghembuskan secara perlahan itu.
" Sekarang sudah tenang? " Tanya Ellena yang langsung di balas anggukan oleh sang Putra itu.
" Sekarang tugas Erren hanya ke ruang makan untuk makan siang sama Papa dan untuk masalah summer camp, Mama sudah menyiapkan semua barang - barang yang akan kamu bawa nanti... " Jelas Ellena kepada sang putra itu.
Sedangkan Erren pun hanya bisa menganggukkan kepalanya seperti robot yang selalu mengikuti perkataan tuannya itu.
Kemudian Erren pun berjalan ke luar kamarnya untuk pergi ke ruang makan sesuai dengan perkataan Mamanya itu.
Memang benar orang bilang jika ucapan seorang ibu terkadang selalu mutlak yang tak kan bisa terbantah kan itu.
__ADS_1
Di ruang makan.
Keluarga kecil yang di pimpin oleh Elyon sekarang ini sedang makan siang dengan hikmat dan hening itu.
" Ma... Pa. Erren udah selesai, Erren pamit tidur siang dulu... " Kata Erren sambil mengelap bibirnya yang kotor karena makanan tadi dengan tisu itu.
" Ya sudah. Sebelum itu duduk dulu sebentar agar makanan yang Erren makan turun ke lambung dengan baik, setelah itu baru Erren bisa tidur siang... " Kata Ellena yang memberikan sedikit nasihat kepada putranya itu.
" Iyah Ma... " Balas Erren yang kemudian berjalan menuju kamarnya itu.
" Aku masih ragu... " Gumam Elyon sambil menatap tubuh mungil putranya yang mulai masuk ke dalam lift itu.
" Semua akan baik - baik saja, Lyon... " Balas Ellena yang tak sengaja mendengar gumaman suami nya tadi itu.
Elyon pun hanya menatap ke arah istrinya dengan tatapan teduh setelah menghela nafas panjang itu.
" Dari pada memikirkan hal ini, lebih baik kita memikirkan tentang skripsi kita. Sebentar lagi kita akan sidang Lyon... " Kata Ellena yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan itu.
" Hmm... " Yang hanya di balas deheman oleh Elyon itu.
Namun beberapa detik kemudian dengan tiba - tiba Elyon pun mengubah raut wajahnya dan menatap penuh makna ke arah istrinya itu.
Dan tatapan tersebut pun tak luput dari penglihatan Ellena yang kemudian menatap bingung dengan bulu kuduknya yang tiba - tiba meremang karena tatapan penuh makna dari suaminya itu.
" Duh! Kayaknya akan ada hal yang ngak enak nih... " Kata Ellena sambil mengusap lehernya karena mulai merasakan firasat yang tak enak hingga bulu kuduknya meremang itu.
" E-mm. Kenapa? " Tanya Ellena kepada suaminya yang sejak tadi menatapnya dengan penuh intens itu.
" Emm. Tapi tiba - tiba aku punya ide yang bagus... " Kata Elyon kemudian bangkit dari duduknya itu.
GREP...
Dan kemudian Ellena pun di buat menegang saat tiba - tiba Elyon memeluknya dari belakang itu.
" Ma-maksud k-kamu...? " Tanya balik Ellena yang tiba - tiba nada suaranya menjadi gugup itu.
Elyon pun tak kunjung menjawab dan malah memainkan anak rambut milik Ellena yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
DEG... DEG... DEG...
Suara detak jantung itu.
Hal tersebut pun malah membuat Ellena salah tingkah hingga jantung yang berdetak kencang tak terkontrol itu.
Selang beberapa menit kemudian Elyon pun menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga istri dan lalu mendekati mulutnya ke samping daun telinga Ellena itu.
" Gimana kalau kita buat adik untuk Erren? " Bisik Elyon dengan suara berat khasnya yang langsung dapat membuat jantung Ellena hampir copot karena ulah suaminya itu.
" Gimana??? " Tanya Elyon kembali sambil menjauh wajahnya daei telinga Ellena sambil tersenyum menyeringai itu.
" K-kamu ja-jangan aneh - aneh deh! " Kata Ellena sambil mencoba menutupi rasa gugup serta muka memerahnya yang seperti kepiting rebus itu.
" E-rren masih kecil masih membutuhkan kasih sayang dari kita... " Kata Ellena yang mencoba menolak perkataan suaminya itu.
__ADS_1
" Apa aku butuh jawaban dari kamu, Lena? " Tanya Elyon sambil melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya dan mendudukkan bokong di meja hingga dapat menatap wajah cantik istrinya yang sedang menunduk untuk menutupi rasa salthing nya itu.
" Jawaban TIDAK... " Lanjut Elyon setelah mengangkat dagu Ellena agar menatap ke arah nya dan tak lupa menekan kata pada akhir perkataannya itu.
" Pemaksa! " Kata Ellena dengan sarkas sambil menghempaskan tangan Elyon dari dagunya dengan sedikit kasar itu.
" Fakta... " Balas Elyon yang kemudian dengan tiba - tiba mengangkat tubuh Ellena kemudian menggendong nya ala koala itu.
" Aaaa!!! " Teriak Ellena yang terkejut karena ulah sang suami tadi itu.
BUGH... BUGH... BUGH...
Dengan refleks Ellena pun memukuli dada bidang Elyon dengan emosi karena kelakuan suaminya yang semakin meresahkan itu.
" Lyon turunin Lena sekarang jugak! " Kata Ellena dengan penuh emosi dan sesekali memukuli dada bidang sang suami itu.
Berbeda dengan Elyon yang hanya memasang wajah tanpa dosanya sambil tersenyum menyeringai dan tetap melangkah kan kakinya menuju kamar mereka itu.
Setelah sampai di depan pintu kamar mereka, Elyon pun menghentikan langkah nya sejaknak sambil menatap menyeringai ke arah wajah emosi Ellena yang berada tepat di hadapannya itu.
" Permainan akan segera di mulai sayang..." Kata Elyon dengan suara besar khasnya itu.
Karena hal itu Ellena pun langsung di buat ketar - ketir dalam gendongan suaminya itu.
" Mampus gw hari ini... " Batin Ellena yang merutuki dirinya sendiri itu.
" Eee. Tapi kan... " Kata Ellena yang terpotong karena jari telunjuk Elyon yang mendarat tepat di depan bibirnya itu.
" Ssttt. Ngak ada tapi - tapi an sayang... " Kata Elyon yang kemudian berjalan membuka pintu kamar mereka itu.
CKLEK....
Suara pintu yang di buka itu.
Ellena yang mendengarnya pun langsung mencoba memberontak dalam gendongan ala koala dari suaminya itu.
" Aaa!!! Lyon lepasin! Lena ngak mau! Ini masih siang Lyon!!! " Teriak Ellena yang tanpa dia sadar sudah berada di dalam kamarnya itu.
BRAK...
Suara pintu yang di tutup dengan keras itu.
" Selamat menikmati indahnya duniawi, sayang... " Kata Elyon dengan senyum menyeringai nya yang tak luntur dari wajahnya itu.
BUGH...
Kemudian Elyon pun langsung melemparkan tubuh mungil Ellena ke atas kasur king size mereka dengan sedikit kasar itu.
" Habis gw hari ini... " Batin Ellena yang sedang mengasihani dirinya sendiri itu.
" Coming soon, adiknya Erren... " Batin Elyon yang menyeringai itu.
Elyon pun mulai mendekat dirinya pada tubuh mungil Ellena yang sudah berada di atas kasur itu.
__ADS_1
Dan selanjutnya hanya mereka dan Tuhan yang tahu hal ini semua itu.
BERSAMBUNG...