
Di markas M-GA.
BRAK... BRAK... BRAK...
" Dasar ngak berguna! " Teriak Elyon dengan amarah yang meledak - ledak sambil melempar semua barang yang berada di antara jangkauan nya itu.
" Apa yang kalian lakukan!!! Hingga menjaga istriku saja tidak bisa!!! " Teriak Elyon dengan marah lagi itu.
BUGH...
Dengan amarah Elyon pun langsung memukul keras salah satu anggota mafianya yang berdiri menundukkan kepala di depannya itu.
" Di mana kalian hingga istriku kabur pun kalian tak tahu?!!! " Tanya Elyon dengan nada penuh amarah itu.
" Ma-maf tuan. No-na me-ngancam ka-kami ji-jika me-melawan nya... " Kata salah satu anggota mafia dengan nada yang gugup karena ketakutan akan amargo Elyon itu.
BUGH...
" Bodoh kalian!!! Di sini siapa yang lebih berkuasa hah?!!! JAWAB!!! " Kata Elyon dengan suara menggelegar nya hingga memenuhi ruang aula di markas M-GA itu.
" M-maf Tu-tuan!!! " Jawab mereka serempak sambil menundukkan kepalanya mereka itu.
Hingga bisa saja mereka berlutut kepada Elyon untuk mendapatkan maaf dari singa yang terbangun, tetapi mereka masih sayang nyawa untuk melakukan hal itu.
Kerena Elyon sangat tak suka jika ada seseorang yang berlutut di hadapan, hal tersebut malah terlihat dia seperti Tuhan yang mereka sembah itu.
Sebab itu dia sangat tak mengijinkan semua anggota M-GA dan bodyguard nya untuk tak pernah berlutut di hadapannya, walau sebesar apapun kesalahan mereka itu.
" Pergi!!! Cari istri hingga dapat!!! " Kata Elyon yang langsung di tanggapi oleh semua anggota M-GA hingga para bodyguard nya itu.
" Kamu ceroboh Lena... " Batin Elyon yang marah akan tindakan gegabah Ellena itu.
" Tunggu setelah ini, maka kamu akan tahu hukuman yang sebentar lagi menghampirimu sayang... " Gumam Elyon dengan senyum menyeringai nya itu.
TAP... TAP... TAP...
Elyon pun menoleh kearah banyak langkah kaki yang mulai mendekatinya itu.
" Apa yang terjadi? " Tanya Ellen dengan nada yang sangat dingin itu.
" Lo bisa lihat sendiri? " Tanya Elyon balik kepada kakak iparnya dengan senyum kecilnya itu.
" Bagaimana bisa Ellena di culik? " Tanya Gerio kemudian kepada Elyon itu.
Yah, semua teman - temannya datang ke ruang aula setelah mendengar teriakan amarah singa yang sudah bangun dari tidurnya itu.
Sebenarnya malam ini mereka semua pergi ke markas M-GA untuk mengadakan party kecil - kecildan mana tahu jika mereka malah menyaksikan kemarahan singa yang sudah bangun dari tidurnya itu.
" Siapa pelakunya? " Tanya Argara juga kepada Elyon itu.
" Tanya saja padanya... " Kata Elyon sambil menunjuk kepada Kanaya dengan kedua matanya itu.
" G-gw??? " Kata Kanaya dengan penuh kebingungan serta nada bicara yang mendadak gugup sambil menunjuk dirinya sendiri itu.
" Kenapa gw? " Tanya Kanaya balik kepada Elyon itu.
" Ini semua adalah perbuatan sepupumu... " Kata Elyon dengan senyum menyeringai kecil kepada Kanaya itu.
" A-apa!!! Luwis! " Teriak Kanaya dengan kaget karena perkataan Elyon tadi itu.
" Sial! Dasar apa yang di lakukan bocah cecenguk itu!!! " Gumam Kanaya penuh amarah karena perbuatan bodoh sepupunya tanpa sadar semua temannya mendengar semua gumaman nya itu.
__ADS_1
" Jadi Lo tahu semua ini perbuatan sepupu Lo? " Tanya Ellina kepada Kanaya itu.
" B-bukan gituh. Kalian semua salah paham, gw tahu kalau Luwis ngincer Ellena. Tapi gw ngak tahu kalau dia bakal nekat, waktu itu gw udah peringatin dia... " Kata Kanaya yang mulai menjelaskan kepada mereka agar tidak timbulnya kesalahpahaman itu.
" Cerita in semua nya! " Kata Argara pada Kanaya dengan nada sedikit memerintahkan itu.
" Iyah - iyah... " Kata Kanaya dengan nada sedikit gugup itu.
Dan cerita pun mulai mengalir dalam mulut Kanaya. Sedangkan Elyon hanya berdiri santai tanpa terkejut akan cerita Kanaya karena dia tahu semua nya sebelum Kanaya sendiri menceritakan nya sekarang ini itu.
Di tempat lain.
" Eugh... " Suara Ellena yang mulai membuka matanya itu.
" G-gw di mana? " Gumam Ellena sambil mencoba menyesuaikan matanya pada cahaya lampu di ruangan tersebut itu.
Bersamaan dengan hal itu, dia pun ingat saat Luwis menculiknya itu.
Dengan reflek dia pun menggerakkan tangan nya yang tak mau bergerak karena dia yang duduk terikat itu.
" Sial!!! Kenapa gw bisa kecolongan!!! " Kata Ellena dengan ras kesal yang membumbung tinggi di atas permukaan itu.
" Sudah bangun baby? " Tanya seorang pemuda yang menculiknya sedang duduk masih di sebuah sofa usang sambil menyesap nikotin yang berada di tangan nya itu.
" Sial Lo Luwis!!! Mau lo apa sih!!! " Teriak Ellena dengan penuh amarah itu.
" Mau aku kamu Clara!!! " Kata Luwis yang menyebutkan nama yang tidak Ellena kenali itu.
" Sial!!! Nama gw Ellena bukan Clara!!! " Teriak Ellena tak terima kepada Luwis itu.
Perlu kalian ketahui setiap amarah Ellena keluar maka dia akan sulit untuk mengontrol emosinya itu.
" Tapi muka kamu sama dengan Clara, Baby" Kata Luwis dengan muka santainya itu.
" Diam!!! Aku ngak suka kamu menghina Claraku. Kerena dia adalah orang yang berharga untukku " Kata Luwis yang marah karena umpatan Ellena kepada orang paling yang dia sayangi itu.
" Kalau gituh jangan ganggu gw dan balik sana Lo sama Clara - Claranjing itu!! " Kata Ellena sambil meronta - ronta dalam duduknya itu.
" Iyah, jika bisa. Tapi sayang dia sudah tiada..." Balas Luwis kemudian kepada Ellena yang lalu mulai menghisap kembali rokok di tangannya itu.
" Gw ngak peduli!!! " Kata Ellena dengan nada dinginnya sambil mencoba untuk mengontrol emosinya itu.
" Mau denger cerita? " Tanya Luwis tanpa mengubris perkataan Ellena tadi itu.
Sedangkan Ellena hanya bisa memutar bola matanya malas dengan semua ocehan seorang pemuda yang sekarang sudah berada di hadapannya itu.
" Clara Oktaviana Gerald. Dia adalah seorang perempuan yang sudah menemaniku selama lima tahunku. Tapi takdir memisahkan kami dengan cara kematiannya. Dia meninggal ku setelah menyembunyikan penyakitnya selama dua tahun tanpa ku ketahui... " Kata Luwis yang sudah menitikkan air mata nya saat menceritakan masa kelamnya di masa lalunya dua tahun lalu itu.
" Kau tahu, dengan bodohnya aku tak tahu jika dia mengidap penyakit kanker otak. Dan dengan bodohnya aku selalu menganggap jika semua senyum nya selama dua tahun itu adalah senyum kebahagiaan nya. Tapi tanpa ku tahu, jika senyum bahagia adalah sebuah kepura - puraan... " Kata Luwis sambil menatap pepohonan lewat jendela ruangan itu.
Sedangkan Ellena pun mulai terhanyut akan cerita Luwis, selama ini dia tak tahu jika sosok pemuda penuh arogan tersebut memiliki masa lalu yang kelam dengan kekasihnya itu.
" Suatu hari dia menghilang tanpa kabar... " Lanjut Luwis sambil berjalan menghampiri Ellena yang masih duduk dengan terikat itu.
" Kemudian apa yang kulihat? " Tanya Luwis kepada Ellena sambil mengelus lembut pipi Ellena itu.
Ellena pun hanya diam tanpa menjawab dan memberi tak saat dia menatap bola mata pekat milik Luwis yang berada tepat di hadapannya dan ternyata menyimpan begitu banyak luka itu.
" Yang ku lihat adalah sebuah gundukan tanah yang menjadi tempat tinggal terakhirnya... " Kata Luwis dengan ekspresi wajahnya yang mulai tertawa sendu itu.
" Hahaha. Bukankah aku adalah seorang kekasih tak berguna, untuk tahu penyakit dan kematian kekasihnya saja tak tahu. Hahaha... " Kata Luwis yang mungkin semua orang menganggap tawanya sebagai tawa jahatnya itu.
__ADS_1
Tapi Ellena tak berfikir seperti itu karena dia tahu jika tawa itu hanyalah tawa seorang pemuda yang rapuh dan menganggap dirinya yang tak berguna karena tak bisa menjaga orang yang paling dia sayangi itu.
" Karena itu lah. Setelah melihat wajahnya yang persis seperti Clara, aku pun bertekat memilikimu denganmerebutmu dari Elyon. Mungkin dengan caraku ini, aku bisa menebus semua dosa ku kepada Clara... " Kata Luwis setelah menghentikan tawanya tadi itu.
" Bahkan aku menyewa anggota mafia M-GA untuk membantuku dalam rencana ini. Bukan kah aku pintar...? " Tanya Luwis kepada Ellena itu.
" Lo terlalu ceroboh... " Balas Ellena dengan wajah datarnya itu.
" Hahaha. Aku tak masalah dengan jawaban mu, akan ku lakukan apapun untuk memiliki mu Baby... " Kata Luwis kepada Ellena itu.
" Aku mencintaimu Ellena... " Lanjut Luwis kembali dengan senyum manis kepada Ellena itu.
" Cinta ini bukan buat gw, tapi untuk Clara..." Balas Ellena kepada Luwis itu.
" Ternyata kita memiliki nasib yang sama Luwis... " Kata Ellena yang mulai berbicara setelah sekian lama terdiam mendengar cerita pilu dari seorang Luwis Zayn Ardinata itu.
" Gw pernah kehilangan Elyon dengan cara yang tragis. Bahkan kami sampai melupakan satu sama lain karena takdir hanya saja takdir masih berbaik hati kepada kami dengan mempersatukan kami kembali... " Kata Ellena yang tanpa sadar menceritakan masa lalunya dengan Elyon kepada Luwis itu.
" Kita tak sama Ellena. Kamu berakhir dengan bahagia sedangkan aku berakhir dengan luka... " Kata Luwis yang tanpa sadar mendatarkan ekspresinya itu.
" Jika Lo pernah merasa luka. Maka lo ngak akan pernah berfikir untuk menculik gw dan berniat memisahkan gw sama Elyon. Karena Lo pernah merasakan bertapa hancurnya Lo saat Clara ninggalin Lo... " Kata Ellena yang mencoba menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin tanpa adanya kekerasan itu.
" Dan itu juga akan terjadi ke gw dan Elyon saat rencana Lo berhasil... " Lanjut Ellena sambil menatap datar Luwis kepada Ellena itu.
Luwis pun terdiam dengan bola matanya yang menatap kosong ke arah Ellena itu.
Beberapa menit kemudian tanpa di duga, Luwis pun membuka ikatan pada tubuh Ellena dan di tatap tak percaya oleh Ellena itu.
" Maaf. Aku terlalu terpuruk akan masa laluku, hingga menganggapmu sebagai Clara. Padahal kau tak ada sangkut pautnya dengan semua ini... " Kata Luwis yang menundukkan kepalanya kepada Ellena itu.
" Butuh pelukan... " Kata Ellena sambil merentangkan kedua tangannya setelah bangkit dari duduknya itu.
Luwis pun menatap tak percaya kepada Ellena karena perbuatannya yang tak dapat di prediksi tanpa sadar dia pun melihat diri Clara dalam tubuh Ellena itu.
" Clara?? " Kata Luwis dengan penuh kebingungan itu.
" Yah untuk malam ini aku akan menjadi Claramu... " Kata Ellena dengan suara yang berbeda itu.
" Clara... " Lirih Luwis dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras di atas pipinya itu.
GREP...
Luwis pun memeluk Ellena dengan sangat kuat seakan - akan tak ingin Ellena pergi meninggalkan nya kembali itu.
" Pasti sulit tanpaku kan? " Tanya Ellena yang berusaha menjadi Clara kepada Luwis sambil mengelus rambut Luwis dengan lembut itu.
" Hmm sangat, sangat sulit. Maaf, maaf, maaf, maaf... " Gumam Luwis yang mulai terus mengatakan maaf kepada Ellena beriringan dengan pelukan nya yang semakin erat kepada Ellena itu.
Benar kata orang, jika kita tidak berhak memandang seseorang dari covernya. Hari ini Ellena di buat mengerti jika seseorang yang terlihat arogan, sombong, play boy, dan jahat. Ternyata memiliki hati yang rapuh dan luka yang tersembunyi di dalam hatinya itu.
Hari ini Ellena belajar jika semua masalah tidaklah perlu di selesaikan dengan cara otot. Tapi kita bisa menyelesaikan nya dengan otak dan secara baik - baik itu.
Pada awalnya Ellena di buat mengerti jika semua yang kita alami tak ada apa - apa. Karena di luar sana masih banyak orang mendapatkan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari kita itu.
Ellena pun masih tetap pada posisinya tanpa membenrontak. Tanpa dia sadar dia pun terlena akan luka yang Luwis terima itu.
" Semua orang berhak bahagia Luwis. Begitu pun dirimu... " Kata Ellena pada akhirnya itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
__ADS_1
Annyeong...👋👋👋